Breaking News:

Bermimpi bukan dosa

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Tiap orang berilmu dituntut punya cita - cita. Tak terhenti dengan masa dan tak terbentur oleh ruang. Itulah cita - cita. Orang tanpa cita - cita, kosong. Berlari dan mengejar zaman yang makin cepat dengan pergerakan dan semua agenda yang berproses. 

Kita diam dengan keadaan adalah suatu kehampaan. Melamun bersama khayalan tanpa kepastian. Kita tahu sejarah  Nabi Yusuf yang pernah bermimpi menjadi orang besar yang disegani oleh banyak orang dan Allah pun wujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.

Allah melihat usaha kita. Allah menghormati tiap peluh yang kita keluarkan untuk suatu kemajuan. Allah akan berikan hak kepada manusia walau hanya sebiji padi amalan kita.

Bermimpilah wahai manusia. Tanpa mimpi, kita tak akan pernah berambisi buat menjadi orang besar. Orang besar adalah orang yang mempunyai semangat juang yang tinggi. Orang besar memiliki jati diri yang kuat walau cobaan silih berganti, untuk tergapainya satu cita - cita.

Hiduplah lebih berarti. Dunia yang semakin usang dengan dosa - dosa para penghuninya membuat kita bosan dan jenuh dengan kemunduran. Orang bodoh selalu terlihat di tepi - tepi bangunan pencakar langit dan orang miskin nasionalisme nampak di parlemen Indonesia. Sebab cita - cita sebagai manusia itu masih dikerdikan oleh nafsu jabatan dan harta. 

Sebaik - baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Muhamad.s.a.w. Berbuat baik walau kita hidup sederhana itu suatu yang mulia dari pada hidup bermewah - mewah dengan emas dan berlian yang mahal, tapi dirinya lebih murah dari hartanya. 

Bermimpi itu tidak bayar dan tidak dosa, jadi apa salahnya kalau kita punya mimpi? Lihat masa depan kita dengan mata terbuka. Pengalaman menjadi guru terbaik buat menatap cita - cita. Bergerak dan susunlah agenda supaya hidupmu terancang dengan jelas. 

Biar dunia tidak menghinakanmu disaat dunia sudah bosan dengan kebodohanmu. Mari bersama kita berjuang untuk tergapainya cita - cita. Melihat mimpi yang tiap detik berubah menjadi nyata. Moga Allah membimbing kita menuju ridhanya dan mengampunkan atas kebodohan kita selama ini.

Wallahu a'lam

15.29 | Posted in | Read More »

Sang penguasa

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Manusia ingin dipuji sebab manusia masih seorang manusia. Melihat ke atas lebih suka dari pada melihat ke bawah, masih dikatakan  manusia. Banyak dosa kadang masih merasa suci, itu pun sombongnya manusia. Kekurangan diri lebih banyak dari pada kelebihan diri tapi merasa hebat. Itu bagian dari sifat manusia.

Dimana ada masyarakat maka di sana ada namanya pemimpin. Strata sosial itu dilihat dari kaya atas miskin, pandai terhadap bodoh, bahkan keturunan pun mempengaruhi strata sosial. Manusia keturunan Raja maka darah yang mengalir pun masih berbau kekuasaan, walaupun masih sama - sama berwarna merah. Mereka punya gelar, mereka punya jabatan dan sebagai penguasa dimasyarakat tempat mereka berdiri. Siapa yang kuat maka dialah Raja.  

Kita keluar dari universitas maka akan dapat gelar, orang tidak masuk kampus tidak mendapatkannya. Padahal ketika dia di kampusnya pun, tidak belajar, tidak pernah baca buku, menulis pun malas, kerjanya shopping, main - main. Tapi disebabkan dia lulus maka mendapatkan gelar dan lulusnya pun karena menyogok rektor.

Orang yang turun dari Perdana Menteri mendapatkan gelar juga sebab sudah berjuang buat negara, walaupun ketika dia memimpin banyaknya skandal korupsi, ketidakadilan selama mempimpin, itu pun masih mendapatkan gelar, sebab sudah menjadi perdana menteri. Ternyata manusia itu perlu dengan gelaran- gelaran yang membedakan strata sosial dimasyarakat untuk diakui eksistensinya sebagai makhluk. 

Dari situ sudah bisa kita ketahui, bahwa manusia akan segan, takut  kepada orang yang telah mendapatkan gelar duniawi itu. Padahal Allah memuliakan manusia dengan gelar Takwa kepada orang yang beriman dan beramal soleh. Allah melihat seseorang itu dari ketakwaannya, bukan dari gelar duniawi itu semua. 

Yang disayangkan adalah kita terlalu berharap orang memuja kita, mengagumi kita dari gelar- gelar  yang diberikan oleh universitas atau pun negara. Memang kecintaan akan pujian adalah bagian dari sifat manusia, tapi bukan berarti tidak bisa ditekan dengan keimanan, bukan?  

Sekarang yang terpenting, sejauh mana kontribusi kita buat masyarakat, manfaat yang diterima masyarakat oleh kehadiran kita di antara mereka. Adakah manfaat yang masyarakat terima atau dapatkan dari adanya kita di antara mereka atau malah kita menjadi sampah masyarakat? 

Ada yang mengambil kesempatan sebab telah mendapatkan gelar dengan cara berbuat sesuka hati, merampas hak orang lain, sebab negara tidak berani berbuat apa- apa atau menghukum orang itu dikarenakan mempunyai gelar.

Berperan di atas dunia dengan melakukan terbaik buat semua orang yang ada, memberikan terbaik dari apa yang kita bisa. Adalah satu keharusan yang kita perjuangankan. Jadilah orang yang harum namanya walau tanpa gelar dan janganlah jadi orang yang selalu mencari gelar dengan tujuan ingin mendapatkan pujian orang.

Allahlah sebaik-baiknya pemberi gelar dan ketakwaanlah gelar bagi orang yang selalu berbuat baik dan beramal soleh.


Waalahu a'lam

03.07 | Posted in | Read More »

Informasi itu ternyata sudah mahal

Komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting, dengan adanya komunikasi kita bisa mendapatkan yang namanya informasi, setelah mendapatkan informasi, maka yang susah akan mudah, yang mahal akan menjadi murah, dengan adanya media elektronik semuanya akan menjadi serba mudah untuk di temukan, dari hal yang paling baik hingga yang paling buruk.

kalau kita flashback kebelakang, untuk mendapatkan yang namanya informasi demi keberlanjutan komunikasi yang baik akan menghabiskan waktu yang banyak dan bahkan bisa jadi informasi atau pesan yang kita berikan sangkut di udara atau bahkan mungkin sengaja tidak di sampaikan kepada orang yang berhak untuk menerima infromasi tersebut. Sehingga akan berjuta-juta prasangka yang akan tumbuh di hati orang-orang yang memberi dan menerima informasi. Pada akhirnya sebuah komunikasi yang di harapkan bisa menjadi simpang siur dan bahkan bisa-bisa basi dan bau.

Namun saat ini semuanya telah berubah, seiring berjalannya waktu dan para penderita telah kembali ketempat asalnya tanpa harus menuntut keadaan, mereka tidak bisa marah dan bahkan untuk menyesal juga tidak bisa di karenakan mulut mereka telah di sumpal tanah.

Perubahan itu begitu jauh, sangat jauh sekali, sehingga orang-orang bisa mengatakan bahwa dunia ini telah banyak berubah, semuanya serba mudah dan gampang sekali untuk didapatkan, apalagi informasi, dalam waktu hitungan detik bisa di dapati jika sipelaku memiliki konneksi yang cepat.

Namun di sela-sela kemudahan itu ternyata tidak luput dari resiko, semuanya ingin bicara, ingin memberikan informasinya kepada semua orang, sehingga kebaikan dan keburukan mudah saja terjadi dalam hitungan detik. Isu-isu juga mulai bertebaran seperti pasir-pasir di pinggir-pingir pantai, seperti debu yang berterbangan dan tidak ada yang melarangnya selama tidak ada yang tersinggung.

Ada satu jejaring sosial yang mampu melenyapkan jejaring sosial lainnya, pada dasarnya semua serba free, namun pada akhirnya mulai menjadi komersial, dan orang tidak terlalu perduli, sebab selama candu itu masih melekat akan tetap melakukan pembayaran sebesar apapun itu, dan tidak perduli bayaran itu di alokasikan dananya kemana dan untuk kepentingan apa.

Dari kejadian ini, seharusnya kita bisa mengambil sedikit hikmah, dan bertanya-tanya mengapa kita masih saja di hina dan dilecehkan namun tidak mampu untuk membela diri. Bahkan terus menyalahkan yang dia sendiri tidak tahu apakah memang benar salah atau tidak. [batakmedan]

16.36 | Posted in | Read More »

Gerbang Kemiskinan

Penulis : Udo Iwan

Satu hal yang dikhawatirkan oleh rasulullah Saw.adalah ketika dibentangkannya dunia, sebagaimana diluaskan pada umat-umat terdahulu, kemudian manusia saling bersaing untuk merengkuhnya, hingga mereka lebur, jatuh terjerembab dan tersungkur, layaknya umat di masa lampau.

Sebagai sample, bisa dilihat bagaimana Qarun dan hartanya dibenamkan ke dalam tanah, kekayaan telah menutup gerbang hatinya, hingga Ia lupa pada sang Pemberi. Kekayaan telah menggelapkan pandangnya, hingga Ia tidak bisa melihat orang-orang yang butuh dan telah menulikan telinganya, hingga Ia tidak bisa mendengar seruan nabi Musa ‘alaihissalam.

Sample lain juga bisa dilihat pada kaum Saba, yang Allah Ta’ala ceritakan dalam al Qur’an, tanah-tanah subur, pohon-pohon rindang dan hijau, sungai yang mengalir dan buah-buahan yang ranum, dikaruniakan kepada mereka, namun mereka lupa dan akhirnya Allah akhiri cerita mereka dengan air bah, hancurlah semua kekayaan itu, kemudian tumbuh pohon-pohon yang tak bisa dimakan buahnya.
Potongan contoh berikutnya juga bisa dilihat pada kisah pemilik kebun, satu orang bertaqwa kepada Allah dan menyadari semua itu dari-Nya, bukan semata kerja keras dan seorang lagi seorang yang angkuh, yang merasa apa yang dihasilkan adalah hasil dari kerja kerasnya, semua keindahan itu membuat terminal otaknya berhenti berpikir tentang kekuasaan Allah.

Ia lupa kalau semua yang Ia dapatkan itu datangnya dari Allah, kemudian Allah tutup lembaran kisahnya dengan kehancuran pada kebun itu hingga kemudian ia menyesali diri, sayang, tak berarti akhirnya seperti itulah kesudahan orang yang terlalu sombong atas nikmat yang diberi, Allahlah yang patut untuk sombong.

Dari hadis yang diriwayatkan oleh al Bukhari tersebut dapat dambil kesimpulan, bahwa kekayaan dapat melupakan dari mengingat Allah, itu sebabnya kenapa Rasulullah mengkhawatirkan ketika dibentangkan dunia kepada umatnya. Namun bukan berarti Rasulullah melarang umatnya untuk kaya, kekhawatiran itu hanya beliau tujukan kepada umatnya yang akar keimannya lemah, takut tak kuat diterpa angin nafsu. 

Sedangkan kepada umatnya yang memiliki tembok keimanan, sama sekali Rasulullah tidak mengkhawatirkan, sebagai contoh bisa kita lihat pada sahabat Abu Bakar, misalnya. Kita ketahui, bahwa Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang kaya, memilik harta yang banyak, kemudian harta itu Ia sumbangkan untuk Islam, hingga Nabi bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk anak dan istrimu,” apa jawabnya?,
“Allah dan rasul-Nya.”

Kita juga bisa melihat Utsman bin Affan, lihatlah bagaimana kedermawanannya, membantu orang yang membutuhkan, menyumbangkan hartanya untuk perkembangan Islam. Dari contoh ini dapat kita petik pelajaran bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk kaya. Hanya saja ada kekhawatiran dari Rasulullah jikalau kekayaan itu diberikan kepada orang yang beriman lemah.

Bukan berarti kemiskinan tidak perlu dientaskan, karena kemiskinan merupakan masalah akut yang melanda bangsa kita. Dari contoh ini juga dapat kita ambil hikmah, bahwa kekayaan itu juga dapat menghancurkan seperti halnya kaum Saba’, Qarun dan sipemilik kebun.

Itu lantasan karena pondasi keimannya tidak kokoh. Jikalau keimanan itu telah membaja dalam dada, kita bisa lihat sahabat Abu Bakar dan Usman bin Affan, harta menjadikannya semakin dekat pada Allah. Membuka pintu dan mata hatinya, menyadari bahwa semua itu adalah amanah. Tentunya semua itu kembali bagaimana kita membawa kekayaan tersebut, dengan melihat jurang-jurang yang akan mendatangkan kehancuran, dengan akal dan pikiran hingga ia mencapai garis ketakutan yang luar biasa pada Ilahi.

Kemiskinan merupakan sebuah kata yang sering berkeliaran di udara, sebuah kata yang sering ditangkap oleh telinga atau direkam oleh mata melalui media, baik cetak maupun elektronik dan juga mungkin melingkari kehidupan kita sehari-hari. Kebanyakan manusia amat takut terjatuh kedalamnya, takut semua kebutuhan tak tercukupi, seakan tak yakin kalau Allah selalu memenuhi, mereka lupa pada ayat Allah yang mengatakan akan memberi dari pintu yang tak terduga.

Akibatnya mereka berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan, mereka begitu sedih dan berduka ketika kekurangan harta, bahkan yang lebih menyedihkan sampai menukar agamanya hanya untuk mendapatkan kesenangan sekejap. 

“Semua makhluk yang melata di bumi Allah cukupkan rezekinya,” tak ada yang luput, begitulah Allah berfirman. Semua bala khawatir bisa dibendung dengan tembok keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, seperti itulah Allah menjamin. Tak lagi ada badai was-was dan cemas.

Jangan sampai indahnya dunia menyamatkan pandangan mata, hingga tak bisa melihat titik hitam di tengah benderang.  Kalau kita sering browsing, kita akan saksikan begitu banyak berita-berita kriminal, pencopetan, perampokan berlanjut pembunuhan, tujuannya cuma satu, harta.

Tentunya semua mendambakan hidup damai, saling bantu, memberi dan menolong antara sesama, tak ingin adanya kekerasan. Tapi itulah kenyataannya, demi harta apapun dilakukan. Kemiskinan adalah jeratan yang harus dibongkar semua pihak tanpa pandang bulu, dengan tentunya terus memupuk keimanan, agar bisa seperti halnya Abu Bakar dan Usman bin Affan. Namun kemiskinan tetaplah fakta dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Yang kaya tambah perkasa dan yang miskin tambah melarat.

Waalahu a'lam


02.58 | Posted in | Read More »

Merajut Indahnya Persaudaraan

Penulis :Udo Iwan

Ada sebuah kekuatan yang meretas pada saat Rasulullah Saw. masih hidup dan kekuatan itu kemudian menjalar pada jiwa-jiwa sahabat. Yang saya maksudkan adalah kekuatan persaudaraan seperti yang ditunjukkan secara sempurna oleh penduduk di Kota Madinah, kaum Anshar, terhadap orang-orang pendatang yang terusir dari Kota Makkah, kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar dengan hati lapang dan penuh keikhlasan membantu saudara-saudaranya dari Makkah. Mereka siap membagi apa pun yang mereka miliki demi meringankan penderitaan kaum Muhajirin. Bahkan, Sa’ad bin Rabi’ dari Anshar selain membagi harta, juga menawarkan istrinya pada Abdurrahman bin ‘Auf yang Muhajirin.

Refleksi persaudaraan yang juga ditunjukkan Umar bin Khattab saat ia teringat salah satu sahabatnya. Hati Umar gelisah menahan rindu ingin bertemu sahabat itu. Cerita tentang kegelisahan Umar terdapat dalam riwayat Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhud, bahwa pada suatu malam Umar merasa ada yang kurang, “Mengapa malam terasa begitu panjang?”, gumam Umar. Setelah menunaikan salat Subuh, ia langsung mengunjungi sahabat yang ia rindukan itu. Ketika bersua, Umar merangkulnya erat, seakan enggan berpisah.

Ukhuwah yang teretas di masa Rasul itu adalah bentuk persaudaraan yang didorong oleh kekuatan cinta yang diikat karena iman kepada Allah. Dari sanalah kekuatan ukhuwah itu memekar. Dengan ukhuwah maka hidup menjadi lebih berarti, saling mengasihi satu sama lain, saling meringankan beratnya beban, saling membantu yang membutuhkan dan melegakan yang resah.

Seperti yang tergambar dalam suatu kisah, ketika seorang laki-laki datang pada Rasulullah Saw. seraya berkata “Wahai Rasulullah, saat ini saya dalam kesusahan”, ujar laki-laki itu mengadukan nasibnya. Kemudian dia diminta mendatangi rumah istri-istri Nabi Saw., namun ia tidak menemukan bantuan, karena mereka juga tidak memiliki apa-apa. Rasulullah Saw. menawarkan kepada para sahabat perihal kondisi orang itu, “Adakah yang mau menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya”, tawar Rasulullah Saw., “Saya wahai Rasulullah,” jawab Abu Thalhah Al-Anshory. Ia lantas membawa tamu tersebut ke rumahnya, sesampainya di rumah ia meminta istrinya menyiapkan jamuan makan. “Ini tamu Rasulullah Saw., sediakan jamuan untuknya dan jangan disisakan,” bisik Abu Thalhah ke telinga istrinya. “Tapi kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak,” istri Thalhah menimpali. “Jika anak-anak minta makan, ajaklah mereka tidur. Lalu matikan lampu. Biarlah kita sekeluarga lapar malam ini“.

Sikap Abu Thalhah keesokan harinya mendapat apresiasi Rasulullah, padahal beliau sendiri sama sekali tidak berniat untuk memperoleh pujian karena menjamu tamu tadi malam. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Abu Thalhah adalah sebuah cerminan tentang persaudaraan yang telah memupus keegoan diri. Berganti dengan sikap untuk selalu mengedepankan kepentingan orang lain ketimbang kebutuhan diri sendiri. Model persaudaraan seperti itulah yang menjadi acuan kita dalam membina hubungan baik dengan orang lain, apalagi dengan saudara kita yang seakidah.


Memotret Realitas Ukhuwah di Mesir

Makna persaudaraan yang saya rasakan di Cairo berlahan seakan memudar, barangkali pudarnya ukhuwah itu akibat digerus oleh sikap ingin selalu mementingkan diri sendiri. Walaupun deskripsi ini masih sebagai simpulan subyektif penulis sendiri yang barangkali akan berbeda dengan simpulan orang lain. Malah, terkadang saya mencoba menghibur diri dengan interpretasi baru menyamakan kondisi yang terjadi dengan keadaan Islam di akhir jaman. Dimana agama ini akan menjadi sesuatu yang asing dan mulai ditinggalkan oleh orang-orang. Maka, makna persaudaraan atas nama Islam juga kemudian terasa menjadi asing, bisa disebabkan oleh perilaku orang-orang muslim sendiri yang mulai mengabaikan nasib saudaranya.

Kehadiran saudara atau teman ketika kita berada jauh dari tanah air menjadi sangat berarti. Kehadiran mereka akan mengganti posisi keluarga yang kini sangat jauh di mata. Dengan begitu kita ingin membina jalinan persaudaraan yang tidak lagi tersekat oleh batas teritorial atau kedaerahan. Hubungan ukhuwah yang kita bina menembus semua sekat yang memagar. Kita mengumpul bersama dalam sebuah naungan dan jalinan persaudaraan atas nama Islam, sebagaimana dulu di masa Baginda Rasulullah. Itu karena persaudaraan dalam Islam tidak mengenal batas apa pun. Saya melihat sebagian persaudaraan yang kita bina masih memprioritaskan unsur teritorial. Unsur itulah yang mengakibatkan sebagian kita sedikit enggan membantu saudaranya yang lain. Malah, terkadang yang sesama teritorial juga sudah tidak saling membantu.

Menurut saya ini akan menjadi kontras apabila kita mencoba merenungi bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia yang berada di Cairo menuntut ilmu agama di Al-Azhar. Al-Azhar sendiri merupakan corong ilmu-ilmu keislaman yang seharusnya bisa menjadi pendorong utama untuk mengaplikasikan makna ukhuwah. Kita pun tidak menginginkan apabila muatan ilmu yang kita peroleh tentang persaudaraan hanya mengerucut sebagai teori belaka, tanpa menghadirkan perwujudan realitas yang kita idam-idamkan mengenai tuntutan persaudaraan dalam Islam.

Apalagi disini, jika kita mau belajar dengan baik, banyak sekali terdapat ulama dan buku-buku Islam yang menjelaskan tentang makna ukhuwah. Bukankah model ilmu aplikatif yang kita obsesikan akan kita tularkan ke masyarakat Indonesia nanti? Dengan adanya berbagai delegasi dari seluruh nusantara di Cairo ini, seharusnya bisa menjembatani bakal teretasnya persaudaraan yang lebih utuh. Tidak malah membuat jurang pemisah yang lebar dengan menumbuhkan fanatisme terhadap hal-hal yang dilarang oleh Islam sendiri. Persaudaraan yang tidak lagi terbatas oleh sekat teritorial, namun telah beranjak kepada ukhuwah yang memiliki kandungan makna yang lebih tinggi, yaitu persaudaraan karena Islam.

Dari sinilah Persaudaraan Dibina

Melihat besarnya jumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir ini, dan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai lapisan yang beragam, sudah sangat patut kemudian didirikan berbagai wadah untuk menyatukan. Dari PPMI sebagai organisasi induk, kekeluargaan, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di setiap propinsi di Mesir. Setiap wadah memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan kondisi saudaranya di lingkungan masing-masing dengan menggunakan berbagai macam sarana kegiatan.

Walaupun diakui bahwa kekeluargaan secara tidak langsung memang membuat sekat yang membatasi komunikasi dengan organisasi kedaerahan yang lain. Di mana satu kekeluargaan, anggotanya biasanya hanya akan berkomunikasi aktif dengan anggota kekeluargaannya saja. Komunikasi dengan anggota kekeluargaan yang lain sedikit renggang. Hal ini barangkali disebabkan karena intentitas pertemuaan yang sedikit. Berbeda halnya dengan DPD, hampir semua lapisan masyarakat dapat menyatu dalam satu kesatuan. Hal itu mungkin disebabkan jumlah anggota yang sedikit dan tingkat pertemuan yang lebih banyak yang mengharuskan setiap orang harus melebur dengan orang lain.

Namun, sebenarnya itu bukanlah suatu polemik, jika kita mau mengamalkan perintah Rasulullah Saw. Model amal yang mudah untuk dilaksanakan. Tidak menjadi persoalan apakah kemudian kita tersekat oleh ragam organisasi, tetapi semua bentuk itu hanya formalitas. Sebab, kita lebih disatukan oleh jalinan yang lebih erat ketimbang jalinan-jalinan itu tadi. Amal yang saya maksud adalah silaturrahim. Silaturrahim ini begitu mudah akan mendekatkan hati-hati kita yang jauh. Sebab, kadang kala komunikasi yang tidak aktif sering merenggangkan hubungan. Walaupun juga bukan berarti orang yang sering mengadakan komunikasi tidak rentan oleh permasalahan. Hanya intinya memang, kita ingin kembali membina jalinan erat persaudaraan melalui silaturahmi yang pernah diajarkan nilai-nilai agungnya oleh Rasulullah Saw., dan para sahabat.

Di salah satu hadis, Rasul pernah bertanya: “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan puasa?" "Tentu wahai rasulullah," jawab para sahabat. Beliau menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah …. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahim." (HR. Bukhari Muslim).

Dari sinilah persaudaraan dibina. Dari silaturrahim yang bisa membuka rahmat dan pertolongan Allah Swt. Dengan terhubungnya silaturrahim, maka Insya Allah persaudaraan Islam akan terjalin baik. Namun sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh, bila tali silaturrahim telah terpenggal. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tahukan kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan atau keburukan? Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat baik dan menyambungkan tali silaturrahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan adalah balasan (siksaan) bagi orang yang berbuat jahat dan memutuskan tali silaturrahim.” (H.R Ibnu Majah)


waallahu a'lam

14.15 | Posted in | Read More »

Menjaga Hubungan Vertikal setelah Ramadhan

Penulis : Muhamad Rifqi Ar-Riza

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam bukunya Lathâif al-Ma'ârif menuliskan; "salah satu tanda diterimanya ibadah adalah saat kita diberi taufik untuk melaksanakan ibadah lainnya, sebagaimana pahala suatu amal baik adalah terlaksananya amal baik lainnya. Sedangkan jika sesorang berbuat keburukan setelah sebelumnya beramal soleh, maka hal itu adalah tanda tidak diterimanya amal tersebut".

Kata hikmah dari Ibnu Rajab ini hendaknyakita camkan dalam diri, terlebih di bulan syawwal ini. Saat kita berjibaku dengan diri kita sendiri maupun dengan bisikan setan, untuk istiqamah solat berjamaah, melakukan puasa syawwal, dan ibadah-ibadah vertikal lainnya.

Betapa tidak, bulan syawwal benar-benar adalah even fit and proper test, apakah kita telah lulus pada 'madrasah ramadhan' kemarin? Atau kita hanya ikut arus, mengekor kepada suasana, kemudian limbung kembali (?). Na'ûzubillah min zâlik

Puasa Syawwal

Ibadah terdekat yang dapat kita lakukan adalah puasa syawwal. Ia berjumlah 6 hari, boleh dilaksanakan berturut-turut setiap hari maupun tidak. Niatnya pun dapat digabung dengan niat puasa senin-kamis maupun puasa biedh (pertengahan bulan hijriah), jika momen pelaksanaannya sedang bersamaan.

Jika kita masih punya tanggungan puasa ramadhan –khususnya perempuan-, maka seyogyanya kita dahulukan qadha ramadhan sebelum melaksanakan puasa syawwal. Walaupun sebagian ulama membolehkan untuk mengakhirkannya, tapi lebih baik kita mendahulukanya sebelumpuasa Syawwal. Karena bagaimanapun, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar terlebih dahulu.

Puasa syawwal ini sangat utama. Rasulullah Saw menyampaikan bahwa puasa ramadhan yang digabung dengan puasa syawwal, pahalanya dapat menyamai pahala puasa seumur hidup, jika ia rutin dilaksanakan setiap tahunnya.

Disamping itu, menurut Ibnu Rajab, puasa syawwal juga dapat berfungsi seperti solat rawatib (sebelum dan sesudah solat fardu), yaitu sebagai amalan sunah yang dapat menyempurnakan amalan fardu.

Solat Malam

Solat malam atau yang biasa disebut qiyâm al-lail dengan rutin kita lakukan di bulan ramadhan. Lebih-lebih, Nabi Saw telah mengabarkan bahwa orang-orang yang rutin melakukan qiyâm pada malam ramadhan, maka Allah Swt. akan memngampuni semua dosanya (dosa kecil)yang telah lalu.

Setidaknya, mayoritas malam bulan Ramadhan telah kita isi dengan solat taraweh, bahkan pada sepuluh akhir, banyak dari kita yang menambahnya dengan solat tahajud di akhir malam. Tidak lain adalah untuk menggapai anugerah lailatul qadar.

Maka dari itu, jika setelah ramadhan pergi, kemudian kita seperti lupa ingatan dengan keutamaan solat malam, ada yang harus dipertanyakan dengan kualitas niat kita dalam beribadah. Apakah kita beribadah kepada pahala dan keberkahan ramadhan atau kepada Tuhan yang menciptakan keberkahan ramadhan?Ini adalah tanda tanya besar yang harus kita jawab bersama.

Tilawah

Ritual ibadah vertikal lainnya yang rutin ada dan diadakan pada bulan ramadhan adalah tilawah al-Quran, atau biasa disebut dengan 'tadarus'. Pada bulan ramadhan, setiap individu dari kita biasanya menargetkan untuk mengkhatamkan al-Quran, minimal sekali. Tapi tidak sedikit yang diberi taufik-Nya untuk khatam 2, 3, dan 4 kali dalam satu bulan ramadhan. Bahkan banyak kisah inspiratif para sahabat maupun para aimmah yang dapat mengkhatamkan baca al-Quran dalam seminggu, 3 hari, sehari, bahkan semalam suntuk!

Tentu kita tidak usah memaksakan diri (jika memang belum terbiasa) untuk melakukan apa yang mereka lakukan, karena dalam amalan sunah, kaedahnya adalah Innallah lâ yamallu hattâ tamallû (Allah tidak akan bosan –dengan ibadah kita-, sampai kita sendiri yang bosan). Tapi kita juga tidak lantas bermalasan melakukan kesunahan, karena Allah akan lebih dekat kepada orang-orang yang banyak melakukan amalan sunah (hadis qudsi).

Maka jika pada bulan ramadhan kita dapat mengkhatamkan al-Quran (minimal sekali), sangat memalukan jika kita tidak dapat melakukannya kembali pada 11 bulan setelahnya.

Pada akhirnya, mari kita jaga ibadah wajib maupun sunah yang telah kita laksanakan di bulan ramadhan. Dalam kewajiban, kita harus tetap istiqamah (dalam jumlah dan praktek) apapun keadaanya. Sedangkan dalam kesunnahan,kita dapat sesuaikan dengan kondisi, tapi tetap harus berusaha untuk istiqamah. Karena sebaik-baika amalan adalah yang berkesinambungan, walaupun sedikit –kuantitasnya-.

Karena bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk berbekal, mempersiapkan jawaban yang baik saat bertemu dengan-Nya kelak.

Wallahu A'lam bi al-Shawâb

13.57 | Posted in | Read More »

Jariku sakit..

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Menulis itu tuntutan, menulis itu penghargaan.
tuntutan kita selaku orang berilmu untuk terus memberikan terbaik untuk orang lain.
menulis pun itu suatu penghargaan, penghargaan yang diberikan Allah kepada orang - orang yang hidup di zaman itu dan setelahnya untuk menikmati karya - karya yang dihasilkan orang seorang penulis.

selain perintah membaca dalam Al-Quran, menulis pun sesuatu yang diistimewakan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Qalam, yang bermaksud : Pena.
diberikan nama surat Al- Qalam dalam Al-Quran itu menunjukan bahwa surat itu mempunyai arti yang penting dalam kehidupan
dan tentunya mempunyai peranan penting dalam dunia ini.

kita mengetahui karya -karya ulama terdahulu dari tulisan mereka yang sampai ke kita.
bukan dari ceramah mereka, sebab kita tidak hidup di zamannya.
kita merasakan ilmu mereka yang hebat dari tulisan- tulisan mereka.

tanpa tulisan itu, mana tahu kita tentang semua hukum - hukum, karya - karya ulama terdahulu yang fenomenal sampai sekarang, yang dijadikan referensi untuk ulama yang lahir setelahnya.

-Pramoeddya mengatakan " Menulislah..! selama Anda tidak menulis, maka Anda akan hilang dari pusaran sejarah, ".
sejarah akan melihat kita dari tulisan kita, sejarah tak akan pernah melupakan kita, walau kita sudah hilang dimakan masa. Sejarah akan terus bersama para penulis. Orang akan mati dibawa zaman, tapi tulisan akan terus bersama zaman.

dan Apa manfaat menulis itu?
Penulis hanya membuat manfaat menulis terbagi menjadi 2 bagian saja :

1- Psikologis, secara psikologis menulis sangat bermanfaat dan bisa membuat kita sehat bahkan mampu untuk mengontrol diri. Sebab tiap permasalahan yang ada di dlam diri kita atau yang ada disekeliling kita, diluahkan dalam bentuk tulisan, bukan kita pendam perasaan itu atau permasalahan yang akan membuat kita stress.

2-Metodologis, menulis ternyata melatih kita untuk berpikir metodologis, melatih kita berpikir secara teratur untuk melakukan suatu tindakan sesuai yang dikehendaki.
jadi tidak sembarangan dalam bersikap.

Jadi mulai dari sekarang, marilah kita untuk mencoba menggerakan jari kita untuk membuat satu karya, membuat satu inovasi tulisan, menjadikan tiap jari kita punya makna untuk kemajuan bangsa, negara dan agama.
membaca dan menulis adalah saudara kandung yang mestinya tidak bisa dipisahkan dari apa pun.

kalau kita membaca maka kita dituntut untuk meluahkan bacaan kita dalam bentuk tulisan.
supaya orang lain bisa mencerna apa yang ada di dalam fikiran kita.
bisa mengambil manfaat dari tulisan kita.
dan bisa mengkritik tulisan kita kalau tidak sesuai dari agama.

Sebab hanya orang yang menulis yang bisa dikenal orang sepanjang zaman
dan punya pengaruh yang besar untuk kemajuan.
orang yang rajin membaca itu tidak cukup untuk dikatakan orang sukses.
orang yang menulis pasti membaca, belum tentu yang membaca pasti menulis.

Gerakan jari kita untuk memulai menulis dari sekarang.
sebab kalau kita mengatakan menulis itu susah, maka saat inilah waktu yang tepat untuk melatihnya.
kalau menulis itu mudah, maka menuntut kita untuk membuat karya agung
yang bisa diberikan untuk masyarakat luas.



Waalahu a'lam

12.17 | Posted in | Read More »

Seksinya...

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Ketika mendengar kata seksi maka tergambar dalam fikiran sebagian kita adalah perempuan tidak pakai jilbab, nampak bra dan pakai pakaian ketat, maka gairah lelaki pun membuncah ketika melihatnya.

sebab orang lebih banyak mengatakan seksi buat perempuan dan jarang kata seksi itu untuk lelaki.
Islam pun mengajarkan tentang batasan aurat laki - laki, walau nampak tidak seksi di mata perempuan atau pun lelaki.
tapi hukum tetaplah hukum. Perintah langit tetaplah mesti ditaati.

Aurat sesama lelaki, baik dengan kerabat atau pun orang lain adalah mulai dari pusar hingga lutut. Demikian menurut ulama Hanafiyah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ

“Karena di antara pusar sampai lutut adalah aurat.” (Riwayat Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan)

Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

الرُّكْبَةُ مِنَ الْعَوْرَةِ

“Lutut termasuk ‘aurat.”(Riwayat Ad Daruquthni 1/506. Dalam hadits ini terdapat Abul Janub dan dia termasuk perowi yang dho’if) Namun hadits ini adalah hadits yang dho’if.

Apa saja yang boleh dilihat oleh laki-laki sesama lelaki, maka itu boleh disentuh.

Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa lutut dan pusar bukanlah aurat. Yang termasuk aurat hanyalah daerah yang terletak antara pusar dan lutut. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Ayyub Al Anshori Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

ما فوق الرّكبتين من العورة ، وما أسفل السّرّة وفوق الرّكبتين من العورة

“Apa saja yang di atas lutut merupakan bagian dari aurat dan apa saja yang di bawah pusar dan di atas lutut adalah aurat.” (Riwayat Al Baihaqi 2/229 dan Al Jaami’ Ash Shogir 7951. Dalam hadits ini terdapat Sa’id bin Abi Rosyid Al Bashri dan ia termasuk perowi yang dho’if). Namun riwayat ini dho’if.

Pendapat terkuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa aurat lelaki sesama lelaki adalah antara pusar hingga lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat. Demikian pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
dan Anda pun bisa membuka dalam kitab Al-Fiqh ala mazahib arba'ah yang membahas masalah ini halaman 192-193.

Penulis hanya membahas masalah aurat lelaki saja, sebab yang terkadang masih suka dilupakan oleh sebagian orang, disebabkan aurat lelaki ini jarang membuat gairah orang yang melihatnya.
seperti memakai celana pendek waktu main bola, nampak lutut bahkan atas lutut. Memang tidak ada yang nafsu lihat lutut, apalagi ada bekas jatuh. Cuma hukum Islam itu ada bukan disebabkan itu saja.
melainkan itu sudah perintah Allah. Dan tentunya tidak mesti semua hukum Islam itu dituntut hikmah dibalik itu semua.

disayangkan, sudah tahu aurat antara pusar dan lutut, ada juga yang masih memberanikan diri untuk diletak di FB. Sesama lelaki saja tidak boleh melihat aurat masing - masing, apalagi di FB tentu ada banyak kawan - kawan perempuan yang bisa melihat gambar- gambar kita.
jadi kita mesti menjaga masalah ini, bahwa keseksian bukan hanya ada diperempuan. Tapi, lelaki pun punya keseksian yang mesti dijaga.

Waalahu a'lam

22.44 | Posted in | Read More »

Aku bodoh

Penulis : Ekta Yudha Perdana


Di mana ada kata belajar maka di situ akan ada kemajuan. Di mana banyak membaca maka di sana akan kita temukan kebijaksanaan.
orang yang malas belajar  akan terhambat dengan kemajuan. Orang yang malas membaca akan terbentur dengan kejumudan.
perintah Allah untuk membaca itu sudah jelas : " Iqro.."! : Bacalah..!
baca dunia ini dengan karyamu.
baca satu persatu kekuranganmu.

Malasnya kita membaca membuat kita menjadi kerdil pengetahuan. Orang yang miskin akan ilmu maka dia bertindak dalam kesehariannya lebih banyak menghukumi orang dari pada mendengar pendapat orang.

di sekeliling kita banyak orang bodoh cuma merasa pandai padahal membaca pun malas, banyak mengeluarkan pendapat dengan perkataan : " Ustaz itu bilang gini...."
ketika di tanya, baca di mana? dengar dari TV...
dalil dia apa? tak hapal ayatnya dan hadistnya...
yang pasti ini haram dan itu halal.
ketika kita membantah hujjah orang itu dengan dalil ini dan itu. Maka disalahkan terus, bahkan kita dihukumi sebagai orang yang sesat.

ciri ciri orang berilmu sedikit adalah dia merasa dalil dia terbaik, hujjah dia terkuat.
padahal baca kitab pun tidak pernah, malah ketika baca kitab masih banyak yang salah dalam menterjemahkan.

yang disayangkan, orang yang membaca hukum dari terjemahan setelah itu memberikan statment pula, ini haram itu halal dengan hujjah begini begitu, padahal kalau kita lihat terjemahan masih banyak para penterjemah salah dalam menterjemahkan tidak sesuai teks asli.

jangan main hantam saja, yang penting ini dan itu.
ohhh begini..
oh begitu...
padahal cara bacanya pun banyak salah.
ini yang bisa bahasa Arab,
apalagi yang tidak mengerti bahasa Arab dan setelah itu menghukumi orang.

Kita mesti menghargai orang dalam berpendapat, apalagi dia seorang ulama.
jadi cobalah untuk lebih memahami lagi luasnya Islam. Tidak terkungkung dengan pemikiran yang jumud, ideolog yang konservatif.

ilmu Islam itu luas, bahkan kalau kita baca Hadist, maka kita akan di tuntut untuk memahami makna dari : Jarh wa ta'dil, takhrij dan hapal sanad. supaya tidak tersesat. Dalam membaca tafsir Al-Quran pun kita mesti mempelajari : Sabab nuzul, naskh wa mansuhkh dan lain lain.
tidak main asal saja dalam menghukumi.

Fahamilah kekurangan diri, kebodohan diri dari sedikitnya ilmu yang kita punya dan
dari sedikitnya kita membaca.

dalam mengatasi semua permasalahan apa pun Allah menyuruh kita untuk kembalikan semua permasalahan ke pakarnya.
dalam ayat Al- Quran Allah berfirman yang artinya : " Tanyakanlah kepada orang yang ahli dalam bidangnya kalau kalian tidak mengetahui..".
kita boleh berpendapat, hanya sekadar itu.
bukan untuk menghukumi orang lain salah dan mengatakan hanya pendapat Saya yang paling benar.

janganlah menampakan kebodohan kita dengan banyaknya kita menghukumi orang, sebab semakin banyak kita menghukumi orang ini begini dan begitu.
maka kebodohan itu akan terus nampak di wajah kita.
jadi kalau kita ingin bijaksana dalam bersikap, ingin lebih terbuka pemikiran kita.
banyak bacalah maka kita akan tahu sejauh mana ilmu kita.

Waalahu a'lam


22.36 | Posted in | Read More »

Alam ajarkan Aku..!

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Malam berganti siang - Matahari terbit dan tenggelam tiap hari.
udara dihela tak pernah habis. Kuda masih dengan tugasnya ; membawa barang barang berat sang tuan tanpa mengeluh.
rumput masih setia memberikan oksigen ke kita.
" Nikmat Tuhan manakah lagi wahai Manusia yang masih Engkau dustai?!".

Bapak para Nabi ialah Nabi Ibrahim.
mari kita mempelajari sedikit perjalanannya bersama alam.
kita kaji bagaimana Dia bisa dapat petunjuk dari sang Pencipta.
bukankah sebab Dia berbicara kepada Tuhan tentang arti dari sebuah kebenaran?

disimak arti QS Al-An’am ayat 75-80 sebagai berikut: Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin (75) Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ”Inilah Tuhanku”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

(76) Lalu, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku.” Tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, ”Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (77) Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”

Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan.” (78) Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (79) Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ”Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?

Alam mengajarkan kita arti ketuhanan. Banyak - banyaklah melihat alam sekitar kita. Maka kita akan tahu siapa Tuhan kita.
ketika lihat binatang menyusui anaknya, ternyata bukan hanya hak manusia saja yang Allah berikan. Binatang mempunyai hak yang sama.
Allah bertanggung jawab atas apa yang telah Ia ciptakan.

Allah menciptakan semua dengan seimbang. Ciptaannya sungguh sempurna.
Perempuan dan Lelaki.
Langit dan Bumi.
Matahari dan Bulan.
semua seimbang dalam kekuasaannya.
Tidak ada yang kurang dari semua ciptaannya.

tapi kadang kita buta dari sekeliling kita - buta melihat keindahan ciptaannya - buta atas kekuasaannya.
bukan sebab mata kita tak bisa melihat.
hanya hidayah-Nya tak mau masuk sebab hati kita yang keras.

Mari berdoa moga Allah membukakan hati kita untuk melihat ciptaan Allah yang sungguh luar biasa
dan memberikan kejernihan hati supaya mampu melihat cahaya matahari dan bulan dengan ketakwaan.

Waalahu a'lam


19.17 | Posted in | Read More »

Mencari Ridha Allah

Penulis : Ahwal Miswari

Imam Syafi'iy pernah berkata: Manusia itu mempunyai tujuan yang tidak terbatas dan aku tidak mempunyai keinginan kecuali selamat menuju jalan kebenaran, Maka berbuatlah apa yang bermanfaat darimu kemudian fokuslah.

Diceritakan bahwa Nabi Musa 'Alaihi salam pernah mengadu kepada Tuhan ia berkata: Wahai Tuhanku sesungguhnya manusia berkata tentangku apa yang tidak ada didalam diriku!. Maka Allah Memberikan wahyu kepadanya: Hai Musa! manusia juga sering demikian terhadapku namun aku tidak ada masalah lalu mengapa engkau bermasalah?.

Malik bin Dinar pernah berkata :
Ketika aku telah mengetahui siapa sebenarnya Manusia Itu, maka Aku tidak pernah senang dengan pujian dari mereka dan Aku tidak pernah membenci olokannya. Malik bin Dinar pun lalu ditanya, Mengapa demikian wahai Syaikh? Ia berkata; pujian Manusia itu selalu melampaui batas begitu juga dengan olokannya.

Imam Syafi'iy berkata: tidaklah salah seorang diantara kalian kecuali mempunyai seorang yang ia sukai dan ia benci, apabila ini menjadi sesuatu yang mutlak maka hendaknya dia selalu bersama dengan orang-orang yang taat kepada Allah Azza wajalla.

Ibnu Jauzy berkata: Orang yang berakal adalah orang yang selalu menjaga Allah tetap disampingnya sekalipun seluru hambanya marah, karena apabila ia menjadikan makhluk selalu disampingnya dan mengeyampingkan Hak Allah, maka Allah akan memutar balikkan hatinya yang tadinya selalu memuji-muji dirinya akan berbalik membencinya.

Seorang lelaki pernah berkata kepada Imam Hasan Al-bashri: Wahai imam sesungguhnya telah banyak Kaum yang duduk dihadapanmu untuk medapatkan wejangan ilmu sebagai petunjuk jalan. Imam Hasan Al-basri lalu berkata: Sungguh celaka wahai engkau! Sesungguhnya aku berupaya merasakan jiwaku didalam surga dan akupun menikmatinya, Begitu pula aku berupaya menikmati terselamatkan dari api neraka dan akupun menikmatinya, namun ketika aku berupaya untuk menikmati terselamatkan dari manusia akupun tidak mendapatkan jalan untuk itu. Karena manusia tidak pernah rida kepada pencipta dan pemberi rezekinya lalu bagaimana mereka bisa rida sesama mereka!?.

Banyak ibroh yang bisa kita petik dari pengalaman hidup orang-orang sholeh kita dahulu karena orang-orang yang sholeh lebih mengetahui apa yang mesti mereka lakukan terhadap dirinya, maka mereka hanya mencari Ridha Allah daripada ridha manusia.


15.08 | Posted in | Read More »

Hari Raya dan Kemunafikan

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Ramdhan menghilang dari kita untuk beberapa bulan ke depan, tiap insan bahagia sebab telah datang hari kemenangan

kemenangan sebab apa? kemenangan sebab kita sudah berjuang untuk mendapatkan malam seribu bulan.
kemenangan atas ibadah yang selama ini dilakukan pada bulan suci ini.

tapi, yang jadi masalah adalah mereka yang bahagia atas kedatangan I'dul Fitri sebab bulan Ramadhan sudah tidak ada lagi, puasa, tarawikh sudah tidak ada lagi.
nauzubillah min zalik.

para Sahabat terus menangis dan berharap Ramdhan jangan meninggalkannya, tapi kita?
jauh sekali kita dengan para Sahabat Nabi.
kalau kita punya hati seperti hatinya para Sahabat, sungguh kita mendapatkan kemenangan.
tapi, kalau kita sebaliknya?!


Tidak sedikit orang yang bahagia datangnya 1 Syawal dan terlepas dari "penjara" bulan Ramadhan karena kemalasan terhadap ibadah ibadah yang ada di bulan itu.
sungguh Munafik orang tersebut.

Moga kita tidak termasuk dari orang orang yang bahagia terlepas dari bulan suci Ramdhan.
warung - kedai makan semua dibuka kalau diluar bulan Ramadhan dan sebagian mereka pun bahagia sebab mereka sudah bisa jualan lagi dan untung pun akan tambah banyak.

pelacur pelacur di jalan bisa melakukan tugasnya lagi yang selama bulan Ramadhan ditangkap dan minuman keras sudah bisa dikonsumi dan  bisa dibeli lagi di tepi tepi jalan yang sebelumnya di tutup. Bukankah mereka bahagia kalau 1 Syawal sudah datang?!

Kadang kita tidak tahu sifat Syaitan yang melekat di hati kita, tidur bersama kerasnya hati kita.
dan kalau kita fikir, kenapa Lailatul Qadar itu turun di hari hari terakhir? Dan I'tikaf di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan?
bukan awal atau pun pertengahan?

sebab hari hari pertama ibadah itu masih rajin, hari pertengahan rasa malas mulai membahasahi badannya dan saat hari hari akhir sudah jauh dari masjid, malas baca Quran, bahkan masyarakat kita sudah banyak 
yang sibuk beli baju raya, kueh raya.
memang Syurga itu mahal saudaraku..
sungguh mahal..!

belilah Syurga Allah dengan perjuangan bukan dengan sifat Munafik di dalam diri kita.
berdoalah kepada Allah untuk menjauhkan kita dari sifat Munafik.
yang cintakan 1 Syawal dari pada Ramadhan sebab ingin terlepas dari solat tarawikh, rutinitas baca Quran dan puasa.


Wa Allahu'alam

07.00 | Posted in | Read More »

Merdekakanlah aku!

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Di detik ini negaraku lahir dari rahim para pahlawan negara. Di tanggal dan bulan ini pekikan takbir membahana menyelimuti tiap ruang ruang di sudut kota.
merdeka!
kata yang tajam yang menusuk tiap nafas yang mengharapkan belaskasihan negara negara lain.
kata terkenang dari darah harum para pahlawan negara.
kata terpahat dari kalbu terdalam mengeluarkan sukma.
tapi semua hanya formalitas dari peringatan tiap tahun yang diselenggarakan oleh rakyat Indonesia, tanpa merasuk pada tiang tiang kesombongan hati.
kepalsuan di antara bendera merah putih yang meracuni sampai urat nadi para pencuri harga diri.
darah pendahuluku mengalir deras di tanah ini.
memperjuangkan nasib bangsa yang tertindas dari kerakusan para penjajah.
membela kaum lemah yang terus meminta mereka jangan terus menyiksa.

Merdeka hanya dikata tanpa makna, merdeka bukan hanya laungan menyekik para pendosa.
rakyat menjerit, rakyat meronta.
rakyat pedih, rakyat kelaparan sampai tertatih tatih.

Hidup para pejabat tidak disertai makna dari sebuah kemerdekaan, negara masih dikuasai oleh penjajah dan
dalam undang undang pun masih  selalu saja merugikan rakyat.
kalau para pejuang negara masih hidup, mungkin mereka akan membunuh orang orang yang licik di parlemen atau yang biasa menjual undang undang.
mereka miskin kecintaan terhadap negara.
mereka berbicara pasal merdeka bagikan orang yang menguasai arti dari pancasila.
Indonesia belum merdeka.

kemandirian ekonomi masih cacat. Maka selama itu kita tidak akan pernah merdeka.
walau 67 tahun yang lalu Indonesia dinyatakan merdeka, tapi hakikatnya sekarang adalah penjajahan gaya baru dengan menguasai tambang tambang di Indonesia.
menguasai minyak, gas dan emas Indonesia. Maka mereka akan terus menghisap darah para penerus bangsa.
dan yang bermain di sini adalah para Munafik yang berbicara tentang makna pancasila.
di sana..! di parlemen Indonesia.
di sana..! di Istana negara.

dalam buku buku lusuh di Indonesia tertulis : Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
apa yang dihapuskan?!
kaki besi para penjajah yang mereka tanamkan di bumi pertiwi sudah hilang dibawa masa.
tapi ideologi yang mereka sebarkan di dalam undang undang di Indonesia sudah mendarahdaging tak akan pernah lepas sampai dia terbakar sendiri.

Nasionalisasi itu penting dari sebuah bangsa yang kuat dan besar.
Indonesia masih takut untuk melakukan nasionalisasi perusahaan asing di dalam negeri.
sebab penjilat itu masih banyak di negara yang notaben-nya Muslim terbesar di dunia itu, kawan!
masih banyak yang mengumbar nafsu dengan menyeka ludah ludah busuk yang mengalir di mulutnya.
jika kita ingin maju maka kita mencoba untuk mengerti dan faham betul makna dari suatu kemerdekaan.

kemerdekaan dari  nafsu.
kemerdekaan dari ketamakan
kemerdekaan dari penjajahan

merdekakanlah aku ya rabb!



20.26 | Posted in | Read More »

Pemuda

Penulis : Ekta Yudha Perdana


Air laut tak pernah berubah jadi manis, mata air di dunia tak akan pernah habis, langit masih membiru dan awan pun masih memutih, semua bergerak dalam tugasnya masing masing dan tidak berubah.

Tapi kalau kita bicara umur. Maka umur akan berubah dan kulit akan mengering gigi pun akan mulai hilang.
umur tidak bisa berbohong dengan kenyataan. Umur mengajarkan kepada kita bahwa di dunia kita tak akan pernah abadi, karena diri kita pun berubah.

Badan kita, stamina kita, fisik kita, kadang nafas kita masih suka tersengal  dan semua itu berkenaan dengan hidup yang nisbi - hidup yang fana. kita tidak pernah tahu, kapan nafas ini berhenti?
sebab semua nikmat yang Allah berikan ke kita itu akan ditanya dan
sebelum kita tua maka kita akan melalu fase muda.

Fase itu dalam Quran tidak pernah tersebut bahwa standart orang itu dikatakan dewasa dan pemuda dari umur segini sampai segini. hanya saja kalau kita lihat dari sejarah, Nabi meninggal umur 63 tahun dan Nabi mendapatkan wahyu umur 40 tahun. Di titik itu Nabi sudah puncak kematangan dan sudah siap untuk menghadapi semua permasalahan yang menyapanya. Kalau kita masih umur seorang pemuda maka tidak ada kata menyerah untuk berjuang dan terus maju ke depan.

Jalan masih panjang, cita cita masih bisa digapai. Harapan pemuda bukanlah sesuatu yang kosong asalkan kita bisa untuk terus menatap dunia dengan semangat.
jangan menyerah kawan! karena pemuda adalah orang  orang yang bisa merubah dunia.

Nabi Yusuf merubah Mesir yang pada waktu itu mengalami krisis dan dia seorang pemuda, Nabi Musa melawan kejamnya Firaun itu pun  dalam keadaan dia seorang pemuda, Nabi Isa mengajak umatnya pun dalam keadaan dia seorang pemuda begitupun yang dialami Nabi Nabi yang lain. Semua berjuang membela agama Allah dalam keadaan masih sehat, fisik masih kuat, stamina tak pernah lelah. Itulah fase pemuda.

Kekuatan yang dimiliki pemuda itu jauh berbeda dengan masa kanak kanak dan orang tua. Kanak kanak masa untuk bermain dan masih belum mengenal dunia begitu pun dengan orang tua
menjaga dirinya saja tak mampu, bagaimana mau merubah dunia.

Itulah sahabatku semua...
marilah kita merubah dunia dengan cita cita, sebab kita seorang pemuda yang mempunyai naluri kemajuan dan perubahan. Maka pergunakanlah potensi yang ada di dalam diri kita untuk terus menatap dunia dengan semangat baru. 
Dunia ini ada ditangan pemuda.
bergeraklah kawan..
dunia menatapmu dengan penuh sinis.

21.58 | Posted in | Read More »

TAUBAT ADALAH KUNCI ISTIQAMAH

Penulis : Muhammad Arabiyah Mangawing.


Mungkin saudara-suadara menanyakan tentang apa hubungannya istiqamah dengan taubat ? jawaban ringkasnya adalah seluk beluk taubat yang berfungsi laksana kunci untuk meraih istiqamah di atas jalan Allah swt, itulah kutipan singkat yang dikatakan pengarang buku ini Syeikh Abdullah bin Sulaiman al- ‘Utayyiq.
Orang yang akan melakukan taubat tentunya harus disertai dengan azzam, Ibnu Athailah Assakandary mengatakan: bila anda hendak bertaubat maka jangan sampai kosong dari memikirkan ( apa yang anda telah perbuat ) sepanjang umur.

Renungilah apa yang telah anda kerjakan disepanjang waktu siang , bila anda melakukan ketatatan maka bersyukurlah kepada Allah . namun bila kemaksiatan yang anda kerjakan , maka celalah diri anda sendiri sambil beristigfar dan bertaubat kepada Allah, sesungguhnya tidak ada sebuah majlis bersama Allah yang lebih bermanfaat bagi anda sendiri selain majlis yang senang tiasa anda mencela anda sendiri karena perbuatan maksiat anda

Berawal dari defenisi taubat secara bahasa dan istilah , banyak ulama yang memberikan komentar defenisi taubat, namun jika mengumpulkan defenisi-defenisi itu , ujung-ujungnya merujuk kepada tiga hal yang harus dilakukan dalam taubat, ada ulama yang mengatakan 3 hal itu adalah syarat taubat, yaitu;
Pertama : An-nadm [ menyesali dosa ], kedua: Al-“azimah [ bertekad untuk meninggalkan ], ketiga: Al- Iqla’ [ meninggalkan dosa tersebut ] nah, ketiga syarat ini tidk bisa dipisahkan satu sama lainnya dalam taubat,

Di dalam buku ini juga membahas tentang hukum taubat, disebutkan bahwa hukum taubat adalah wajib bagi setiap muslim , hal ini ditunjukkan oleg duia dalil:
Pertama: bebrbagai kabar dan nash yang menjelaskan hal tersebut, dan sebagian darinya telah disebutkan sebelumnyta, dan kedua: ijma”, maka dalam hal ini , imam abu hamid al-ghazali berkomentar bahwa umat islam telah sepakat tentang wajibnya taubat.
Lalu imam al-ghazali menjabarkan pembahasan ini dengan sangat detail terntang atas dasar diwajibkannya taubat, beliau mengatakan bahwa: makna sebuah kewajiban adalah sesuatu yang pasti menatangkan kebahagiaan yang abadi dan keselamatan dari kebinasaaan yang abadi. Sekiranya sebuah kewajiban tidak terkait dengan kebahasiaan dan kesusahan melalui pelaksanaan sesuatu yang meninggalkan sesuatu , tentu kewajiban resenu ttidak memiliki makna sama sekali, sebab sesuatu yang tidak memilkik tujuan yang hendak dicapai dalam melakukan atau meninggalkannya , baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang , maka tidak ada faedahnya kita menyibukkan diri sendirinya, baik kewajiban atas kita atau tidak.

Dalam kitab minhjaul abidin , imam al-ghazali menyebutkan pembagian dosa yang harus dibersihkan dari sesorang yang bertaubat. Secara umum , dosa-dosa tersebut terbagi menjadi 3 macam yaitu;
Pertama: seorang hamba yang meninggalkan perintah-perintah allah taaala seperti shalat, shiyam, zakat dan lainnya, maka hendaklah seorang hamba sebisa mungkin untuk mengqadhanya.
Kedua: dosa antara seorang hamba dengan allah . hamba tadi menyesali perbuatan dossanya dan hatinnya berazam untuk tidak mengulanginya dosa yang sama selama-lkamanya

Ketiga: dosa antara seorang hamba dengan manusia yang lain. Dosa-dosa ini ada beberapa bagian:
a. Apabila berkaitan dengan harta benda, maka sebisa mungkin ia harus mengembalikannya apabila tidak memungkinkan maka ia harus meminta dihalalkan bial ia masih hidup, namu ia sudah mati maka memungkinakan hendaklah ia bersedekah dengan mengatasnakmakannya. Kalaupun tidak mampu , maka hendaklah ia memperbanyak melakaukan ketatatan dan kebaikan kemudian berdoa agar orang tadi merelakannnya di hari kiamat kelak, sebab harta benda tersebut masih menjadi haknya.

b. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan jiwa , maka sebisa mungkin ditegakkan qisas, namun bila tidak memungkinkan , maka hendak lah berdoa kepada allah dengan sepenuh hati agar merelakannya di hari kiamat.

c. Bila dosa tersebut berkaitan dengan kehormatan seperti ghibah , berbohong, mencela, qadzaf (menuduh orang berbuat zina ), maka hendaklah ia meminta maaf secara langsung kepada orang yang telah dicemarkan kehormatannya, hal itu dilakukan jika memungkinakan dan tidak menimbulkan fitnah.

d. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan kehormatan sesorang, seperti mengkhianati isteri , anak dan lainnya, maka hendaklah ia berdoa agar hal tersebut direlakan baginyadi hari kiamat. Hendaklah ia melakukan banyak kebaikan sebagai ganti dari perbuatan dosa tersebut. Hendaklah ia tidak menyebut dosanya tersebut , sebab hal ittu malah akan menimbilkan fitnah dan melahirkan keburukan yang lebih besar. Dan jika tidak menimbulkan fitnah bahkan akan menimbulkan rasa aman maka hendaklah ia mengabarkan perbuatan tersebut, namu hal ini sangat jarang terjadi.

Dalam buku ini memuat permasalahan tentang hal-hal yang dapat memperbesar dosa besar, diantaranya adalah:: dosa yang dilakukan secara terus-menerus, meremehkan dosa kecil sehingga enteng melakukan dosa tersebut, merasa bangga melakukan dosa dan bahkan mengharap pujian atas perbuatannya yang terkutuk itu, meremehkan dan menyepelekan Allah yang telah menutupi aibnya dan mengasihi dirinya, terang-terangan melakukan perbuatan dosa , dosa tersebut muncul dari sesorang alim yang dijadikan panutan sehingga dia melakukan maksiat tanpa merasa berdosa.

Demikianlah penjabaran secara ringkas tentang faktor-faktor yang menjadikan dosa bertambah besar sehingga masuk dalam kategori dosa besar. Dan dengan adanya faktor – faktor tersebut dosa besar akan lebih bertyambah besar lagi.
Dengan demikian , kami telah menyampaikan langkah-langkah praktis bagi sesorang yang melkaukan kesalahan menuju sebuah tujuan yang sangat besar, yaitu mendapatkan ridha allah swt dengan mensucikan jiwa dan membersihkan hati, juga hal-hal yang berkaitan dengannya dan segala bentuk wasilah untuk mencapainya.

Ya Allah anugerahkanlah ketaqwaan untuk jiwa kami, sucikanlah ia, sesungguhnya engkau sebaik-baik dzat yang mensucikan, engkaulah pemilik dan sekaligus yang mengurusi nya, ya allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’, mata yang tidak menangis , jiwa yang tidak pernah merasa puas dan dari doa yang tidak terkabulkan.

Ya Allah ampunilah kami dan terimalah taubat kami , sesungguhnya engkau maha pengampun lagi maha menerima taubat. Semoga allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kami dan nabi kami rasulullah muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. Amin.


19.54 | Posted in | Read More »

Berdoalah saudaraku...

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Kita tak perlu melepaskan diri atau pura pura tidak tahu apa yang telah terjadi di Myanmar dan Syiria. Darah orang Islam begitu murah dibeli oleh musuh musuh Allah padahal sesama Islam harus saling membantu, tapi semua hanya kata kata kosong – harapan hampa.
Kita memang tidak merasakan apa yang mereka rasakan, sebab kita belum menjadi mukmin sejati, hanya Islam keturunan, orang tua Islam kita pun ikut Islam.
Sekadar itu bukan keimanan kita?
Bulan Ramadhan pun mereka masih dengan ketakutan, penyiksaan, pembantaian, pemerkosaan, pembunuhan dan dunia pun tanpa suara diam tanpa dosa, PBB hanya melihat tak berkata apa apa. Umat Islam hanya menonton di TV atau media massa. Tidak bisa berbuat banyak.
Umat Islam sekarang itu banyak Cuma tak bersatu, jadi mudah untuk merusak dan melakukan konspirasi sesama umat Islam.
Semua di provokasi dan yang membuat kita menelan ludah adalah sudah tahu kita diprovokasi oleh Yahudi tapi masih saja tidak sadar diri. Sibuk dengan urusan pribadi, sibuk dengan makanan apa yang kita makan untuk berbuka puasa, sibuk dengan emas berapa gram yang kita akan beli.
Tapi coba kita fikirkan sejenak, saudara di Somalia yang kelaparan ketika puasa datang tidak sahur dan tidak berbuka, sebabnya hanya karena tidak ada makanan buat dimakan.
Berfikirkan kita?
Kita senang di sini, doa pun kita tidak sanggup untuk kita berikan ke saudara kita itu..!
Minta ampunlah sama Allah wahai saudaraku..
Kita di dunia tidak lama, kita tidak mampu menolong saudara kita di Syiria, Myanmar, Palestina dan belahan dunia yang lain.
Tapi dengan doa bentuk kita masih peduli atas nasib mereka itu, doa pun kita tidak mau apalagi berkorban yang lebih berat dari itu.
Tangisan mereka sudah darah, tiap hari menangis dan bukan tangisan bahagia melainkan tangisan lihat anaknya dibunuh, anak dia diperkosa, ayah dia disembelih.
Berdoalah wahai umat Islam untuk kemenangan Islam dan kemulian Islam.
Moga Allah selalu menjaga umat Islam.
Amin ya Rabb..

Penulis : Ekta Yudha Perdana

08.34 | Posted in | Read More »

Dua jam bersama Syaitan

Aku pernah berdiri di depan jamaah jumat, memberikan khutbah, yang merupakan salah satu rukun shalat jumat. Pertama kali mungkin agak nervous, tapi selanjutnya terbiasa. Akhir-akhir ini aku jadi berpikir, mimbar masjid, ya..mimbar mesjid. Mimbar mesjid untuk khutbah jumat bukan tempat pamer kafasihan berbicara, bukan tempat pamer kemahiran berorasi, tetapi mimbar itu tempat memberi nasehat dan saling mengingatkan. 1432 tahun lalu, mimbar jumat itu dipakai oleh Rasulullah, barang siapa yang menggantikan beliau di tempat itu, paling tidak, dia itu berakhlak seperti akhlaq Rasulullah semampunya, dan selalu mengikuti sunnah Rasulullah. Sehingga saat dia mengatakan“ittaqullah…”, dia tidak berbohong dan tidak menyalahi kata-katanya sendiri, biar orang-orang tidak melihat perbuatannya kebalikan dari kata-katanya di atas mimbar.

Mimbar jumat bukan mimbar biasa yang pada permulaannya pembicara mengatakan, “Yang terhormat….”, dan tidak ada basa-basi penghormatan lain kepada orang-orang tertentu di depannya, tetapi dia melihat dengan mata Syariah, semua yang di depannya sama, semua hamba Allah, tidak ada yang kaya tidak ada yang miskin, yang membedakan mereka adalah tingkat ketakwaannya pada Allah. Dia berbicara atas nama Syariah, makanya dia diterima di atas mimbar, padahal dia tidak lain hanya meminjam “kehormatan” Syariah saja.



ada cerita menarik tentang Syeikh Aly Tantowy yang wafat tahun 1999, beliau adalah khatib di salah satu masjid di Damascus. Beliau bersiap-siap beberapa hari sebelum khutbah jumat, beliau selalu tidur cepat, agar terbangun tengah malam untuk melaksanakan shalat isya dan qiyamullail, dengan harapan menjadi salah satu “mutahajjidin”, seperti seorang tamu tak diundang pada jamuan makan yang hanya diundang orang-orang mulia saja, “Semoga saja, aku bisa menjadi salah satu tamu Allah yang dirahmati-Nya di antara tamu-tamu agung lain, meskipun cuma sekali seumur hidupku, aku memang bukan mereka, bahkan menjadi abu di sandal mereka saja aku tidak pantas, tapi meniru mereka kan’ tidak salah”. Biarkan beliau sendiri yang menceritakan pengalamannya itu.

======================

Aku tidur cepat, aku sudah berniat untuk bangun tengah malam, dan shalat isya serta sunnat. Tepat pada jam yang telah ku atur di jam waker-ku, aku terbangun, seakan ada yang membangunkan, padahal jamnya belum berbunyi. Aku berusaha untuk bangun, aku harus berjuang melawan hangat dan empuknya kasur, sepertinya mataku tidak mau terbuka, keinginan tidur dan keinginan melaksanakan kewajiban shalat isya bertarung di dadaku. Seakan ada suara berbisik di telingaku, “Waktu masih panjang, tidur saja sebentar lagi, kasihan kasur yang hangat, besok kamu kan harus bekerja sampai sore, jadi istirahat saja dulu sebentar lagi”, akhirnya aku menjatuhkan badanku lagi dan tenggelam dalam hangat dan empuknya kasur”, ada suara lain berbisik, “Bangun, kamu tadi sudah janji mau bangun, ayo tepati janjimu, serahkan saja semua pada Allah, ingatlah betapa besarnya pahala kesabaran dalam ketaatan, kalau seandainya sekarang ada orang datang membawakan kepadamu api atau 100 Pound, pasti kamu segera melompat bangun dari kasurmu, bagaimana dengan neraka Jahannam dan Surga yang dijanjikan padamu?”

Suara pertama datang lagi, “Nyantai aja dulu, bolak-balik dulu di kasur sambil menunggu kesadaranmu dari alam mimpi datang”, akhirnya aku membalikkan badanku, sungguh nikmat, aku sangat menikmati tidur ini, lebih nikmat dari apapun. Suara kedua datang lagi, “Woi..itu setan, yang menggodamu agar kamu lupa shalat isya, ayo bangun!”

Aku bingung, dengan dua suara yang terus berkecamuk di telingaku, seperti suara detakan jarum jam dinding, “bangun”,”tidur”, “bangun”,”tidur”,“bangun”,”tidur” “bangun”,”tidur”,….



Aku tahu, dua perbedabatan itu tidak ada akhirnya, sampai aku tertidur, terlewat shalat isya dan subuh kesiangan. Maka aku harus segera menghentikan salah satunya, akhirnya aku memilih “bangun”. Aku mengucapkan Auzubillah, dan memohon pada Allah agar dikuatkan, dan aku bertawakkal pada-Nya. Setelah aku bangun, aku tidak mendengar lagi suara, “tidur”. Aku bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, aku senang bisa mengalahkan setan.

Akupun berdiri untuk melaksanakan shalat, aku ingin memutuskan hubungan dengan dunia, aku hanya ingin saat-saat tengah malam begini berdua dengan Tuhanku, shalat yang khusus dan berdoa. Akupun bertakbir, “Allahu Ak….”, belum sempat kusempurnakan takbiratul ihramku, tiba-tiba pemikiran tentang dunia kembali muncul di kepalaku, ku ulangi lagi bertakbir, setelah mencoba mengumpulkan kekusyukan yang tadi hilang, aku berusaha fokus dan khusyu, tiba-tiba hal yang sama terjadi, ku ulangi lagi, begitu lagi, sampai berkali-kali. Aku heran, belum pernah aku merasakan hal ini.




(bukan MU loh ya, hehe)
Akhirnya aku mengucap kalimat Allah dan Auzubillah, aku baru tenang. Kini aku tahu sebabnya kenapa aku begitu, itu adalah setan. Tadi waktu aku mengingat Allah dan berhasil melompat bangun dari kasurku, aku merasa bangga dengan apa yang kulakukan, aku mengira diriku sudah termasuk dalam golongan orang shaleh, yang mampu melawan setan, setan melihat rasa bangga itu adalah pintu baru untuknya. Dia datang menjelma seakan orang yang memberi nasehat, padahal mau merusak shalatku. Seakan dia menasehatiku agar shalat yang khusyu, jangan ada sedikitpun dunia ketika mulai takbir, aku harus benar-benar menghadap Allah. Aku membaca Auzubillah dan mulai shalat.

Setelah selesai shalat, suara itu datang lagi, “Shalat apa ini?nggak ada khusyu sama sekali? Shalat itu kalau nggak seperti disuruh dengan khusyu, sama saja bohong”. Aku sadar, ini adalah salah satu cara setan merayu orang yang shalat. Dia mengatakan, “Shalat itu bukan cuma sujud, rukuk dan bacaan-bacaan ritual yang sering kamu baca, tetapi shalat yang benar adalah shalat yang khusyu yang bisa mencegah kamu dari perbuatan maksiat dan mungkar, sehingga setelah shalat dia tidak akan lagi mengerjakan maksiat, shalat yang dikerjakan dengan penuh khidmah, tidak ada mikir dunia waktu shalat, dia khusyu sekali, tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, tidak mendengar suara apapun di dunia, jiwa dan raganya bersama Allah”. Ketika pemikiran seperti itu merasuk dalam jiwa orang-orang Islam yang lemah, maka mereka akan berpikir, “Yah, kalau shalat kita nggak dianggap shalat karena nggak bisa begitu, lagian aku juga sudah berusaha lebih baik tapi aku tidak bisa, ngapain lah kita capek-capek bangun subuh shalat, capek sujud, capek rukuk tapi nggak dapat pahala!mendingan nggak usah shalat sekalian!”. Sukses…, itu tujuan setan, agak kita meninggalkan shalat.

Allah tidak pernah membebankan kepada kita apa yang kita tidak mampu, Syariah memang Syariah, tetapi Syariah juga tidak menafikan kita sebagai manusia, orang shalat ya harus khusyu, khusyu semampunya, tingkat khusyu yang paling rendah adalah dia sadar apa yang sedang dibaca, jangan sampai dia baca..”Inna shalati wanusuki mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin,arrahmanirrahim, maliki yaumiddin…”. Kalau ada pikiran tentang dunia mampir, yang pastinya itu selalu ada dalam pikiran manusia, bedanya ada yang banyak ada yang sedikit, dia mengingat Allah lagi dengan takbiratul ihram, yang diucapkan setiap berpindah dari gerakan ke gerakan dalam shalat. Kalau kita mengatakan syarat sah shalat harus khusyu, dia tidak melihat apapun di sekitarnya, dia tidak mendengar suara apa saja di sekitarnya, ini adalah syarat yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun dalam Islam. Rasullah saja pernah memperpanjang sujudnya saat ada salah satu anak Fatimah naik ke punggungnya, karena beliau merasa ada anak kecil di punggungnya. Beliau juga membolehkan kita membunuh ular dan kala jengking meskipun kita dalam shalat, dan membolehkan kita menghalangi orang yang lewat di depan kita yang sedang shalat. Itu artinya orang yang shalat merasa, melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi siapa yang bilang harus shalat khusyu seperti itu? Kalau nggak seperti itu tidak sah!

Kalau kamu shalat 5 waktu terus, tapi maksiat juga masih jalan, shalat tetap dikerjakan, jangan ditinggalkan, tapi bertaubatlah, minta ampunlah dan minta kekuatan agar Allah menjagamu dari maksiat. Mendingan masih shalat meskipun kadang-kadang diselingi maksiat, dari pada meninggalkan shalat sama sekali dan tetap berbuat maksiat.

Syeikh Tantowy meneruskan ceritanya:

Saat setan tahu kalau tipu dayanya kali ini gagal lagi, dia membisiki di telingaku, “Mantap, shalat kamu sudah sempurna, ini dia yang namanya shalat. Kamu adalah orang alim, shaleh, wali Allah, setan kini tidak mampu mendekatimu lagi! Kamu adalah ahli surga, bersyukurlah”.

Kurang ajar, laknatullah alaik ya syaithan! Kamu ingin merayuku lagi! Setiap muslim belum ketahuanjuntrungannya sampai dia meninggal, apakah saat meninggal dia husnul khatimah atau tidak!semoga Allah menjadikan kita semua orang yang husnul khatimah, mati dalam keadaan beriman pada Allah.

Kemudian aku duduk membaca quran, mulai lagi setan datang merayuku, agar aku tidak bisa mentadabburi isi kalam Allah, dia mengatakan, “Makharij huruf kamu tidak benar, tajwidnya juga masih salah, mana yang panjang, mana yang pendek, mana yang tebal mana yang tipis? Itu yang pertama harus kamu perhatikan, tadabburnya nanti saja.”, dia mau aku menyibukkan diri dengan tajwid dan makharij huruf, dan melupakan tadabbur isi Quran. Padahal aku tidak pernah mendengar para Sahabat Nabi menyibukkan diri dengan tajwid daripada tadabbur, bahkan Ulama Salaf memakruhkan keterlaluan dalam hal itu[1].


Kemudian dia membisiku agar aku membaca Quran dengan cepat tanpa harus paham, kan yang penting baca, biar aku bisa khatam 30 juz dalam 2 atau 3 hari! Kemudian dia menyuruhku mempelajariqiraat-qiraat lain, dan membacanya di depan orang, agar terlihat aku hafal Quran dan semua qiraat. Dan menurutku pribadi, hal ini tidak boleh, karena akan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat awam dan menumbuhkan ujub dalam hati pembaca.



Semua itu tidak baik, karena tujuan dasar membaca Quran adalah untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan isinya. Membuat bacaan Quran sebagai seni, sumber mata pencaharian, hadiah diberikah kepada orang yang paling panjang nafasnya, bisa membaca sepuluh ayat dengan sekali tarik nafas, hadiah diberikan kepada orang yang paling indah suaranya saat melagukan Quran…..

Quran itu bukan untuk dikhatamkan berkali-kali tanpa dipahami, bukan untuk dibaca dengan bermacam-macam bacaan tanpa dimengerti, bukan hanya diperhatikan tajwidnya, lagunya, tapi Quran itu Undang-Undang, di dalamnya ada perintah dan ada larangan, yang harus dipahami dan dimengerti, dikerjakan perintahnya dan dijauhi larangannya, dan dihormati batasan-batasannya.

Aku terus membaca Quran sampai matahari pun terbit. Kemudian aku mengatakan pada diriku, “Hari ini aku akan berusaha untuk selalu bersama Allah sampai malam tiba”. Tiba-tiba setan datang lagi, dia berbisik, “Alah, songong!nggak mungkin!itu sangat susah, mustahil kamu sanggup!”

Aku membalasnya, “Tidak, tapi demi Allah ini sangat mudah. Ini adalah usaha dengan langkah yang sangat sederhana, aku hanya perlu mengingat bahwa aku melihat Allah dimanapun aku berada, kalaupun aku tidak melihat-Nya, tapi aku yakin Dia melihatku”.


Footnote:

[1] Lihat: Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Talbisul Iblis karya Imam Ibn Jauzy dan Ighatsatul Lahfan karya Imam Ibn Qayyim.



NB:

1- Hanyalah sebuah repost dari syekh atjeh; Saifanur.

2- Banyak mabadi'/worldview nya bagus2, ttg setan, khusyuk, kesombongan, khutbah, dll. faltatanabbah!

3- Tentang setan, video ini juga cukup membantu utk tadzikrah: http://www.youtube.com/watch?v=1z2NFxnMEhc

4- Semoga bermanfaat.





Penulis : Muhamad Rifqi Arriza

20.21 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Labels