Breaking News:

Memahami sifat-sifat Allah Swt.

Memahami sifat-sifat Allah Swt,: 'ilm, iradah, dan qudrah. Bag. 1 (Seri Akidah Islam I)

Dalam pandangan ahlus sunah wal jama'ah, bertauhid dengan pemahaman yang benar adalah wajib hukumnya, ulama meringkasnya dgn ungkapan: tidak boleh bertaklid dlm akidah. Indikasi kewajiban dlm hal ini direkam dengan sangat jelas oleh al-Quran, yaitu pada surat Muhammad ayat 19: "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal".

Kata فاعلم yang berarti ketahuilah!, pelajari!, dan makna serupa lainnya, telah menginspirasi para ulama kita untuk mewajibkan bertauhid tanpa taklid. Makanya, tidak heran jika banyak ulama yang mewajibkan belajar ilmu akidah dan mempelajari buku-buku akidah. Jadi, tunggu apalagi? Mulai belajar ilmu akidah dari sekarang, biar gak gampang dikibuli orang-orang JIL, atau ditipu oleh para nabi palsu, juga guru-guru aliran kebatinan.

Pada tulisan ini, insya allah saya akan mencoba mengurai sedikit tentang tiga sifat Allah –'Azza wa Jalla- yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu sifat 'ilm (Maha Mengetahui), iradah (Maha Menghendaki), qudrah (Maha Kuasa). Saya juga akan mencoba mengaitkan pembahasan 3 sifâtullah ini dengan silaturahim (sabda Nabi Saw. –yg maknanya-; silaturahim dapat menambah umur), dan doa (sabda Nabi: tidak ada yg menghalangi terlaksananya qadha' –antonimnya qadar- kecuali doa).

Tapi sekali lagi, saya hanya akan mencoba mengulas semua pembahasan ini dgn ringkas, tidak terlalu panjang, apalagi bertele-tele. Semoga niat baik kita semua utk berakidah dgn benar mendapat taufik dari-Nya. Amin99x.

====================



Sifat Allah Swt.; 'ilm (Maha Mengetahui)

Sifat 'ilm bagi Allah Swt. adalah sifat Allah yg eksis (wujud), qadim, dengannya Dia dapat mengetahui segala sesuatu, atau biasa disebut para ahli kalam dengan; inkisyâf (mengetahui –segala sesuatu-). Ia bersama dengan sifat sama' (Maha Mendengar) dan bashar (Maha Melihat) adalah tiga sifat Allah yg mempunyai ta'alluq (interaksi, yaitu antara Allah dan makhluknya) inkisyâf.

Karena sifat 'ilm berarti Maha Mengetahuinya Allah atas segala sesuatu, dengan segala kemutlakannya (sesuatu), maka 'ilmullah (-cakupan- pengetahuan Allah) meliputi apa pun, kapan pun, dan dimana pun. Baik itu wajibul wujud (Dzat Allah Swt), mustahilul wujud (Tuhan selain Allah), maupun mumkinul wujud (semua makhluk-Nya). Cakupan sifat ini memang melebihi cakupan sifat Allah yg lain, iradah maupun qudrah. Makanya ia ada di urutan pertama dlm keterkaitan antara 3 sifat yg kita bahas di sini.

Sifat Allah Swt.; iradah (Maha Berkehendak)

Sifat iradah bagi Allah Swt. adalah sifat Allah yg eksis, qadim, dengannya Dia memilih/menghendaki sebagian hal dari banyak kemungkinan pada mumkinul wujud. Misalnya, manusia pada asal mulanya adalah tidak ada (ma'dum), tapi kemudian Allah lah yg membuat dia ada, menciptakannya. Dengan itu, Allah telah memilih dan menghendaki satu dari dua hal, yaitu membuat ada/menciptakan manusia tersebut daripada tetap menjadikannya sesuatu yg tidak eksis, tidak wujud. Begitu seterusnya, saat sang manusia sudah wujud –dengan kehendak Allah-, dia akan tetap 'terkena efek' iradah Allah.



Ringkasnya, kehendak Allah akan memberi efek pada semua makhluk (khususnya manusia) –yg notabene adalah mumkinul wujud- dalam 6 hal beserta kebalikannya, biasa disebut ulama akidah dengan al-mumkinât al-mutaqâbilât. Keenam hal tersebut adalah:

1- Wujud (eksis) >< 'Adam (tidak eksis). 2- Sifat-sifat makhluk tertentu >

3- Berada pada satu waktu/zaman >

4- Berada pada satu tempat >

5- Berada pada satu arah (jihah) >

6- Mempunyai suatu ukuran tertentu (kg, m, dan segala sesuatu yg bisa diukur) >



Intinya, bahwa segala yg terjadi di alam semesta ini adalah sesuai kehendak Allah Swt. Entah itu baik ataupun buruk –dlm pandangan manusia/makhluk-. Jadi, tidak ada sesuatu pun yg mempunyai wujud/muncul di alam ini, atau terjadi, kecuali dengan iradah Allah Swt. Karena jika tidak seperti itu –memahaminya-, maka kita telah meyakini ada Tuhan selain Allah yg telah menghendaki terjadinya sesuatu di alam ini, dan itu adalah kesyirikan yg nyata, bahkan kekafiran. Itulah akidah ahlus sunnah wal jama'ah, yang bertolak belakang dengan akidah muktazilah (pembahasan mengenai akidah muktazilah cukup panjang, jadi tdk akan dibahas pada tulisan ini).



Bagaimana tidak, dalam al-Quran Allah Swt. berfirman: "dan Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" (al-Shaffat: 96). Bahkan keinginan dan kemauan kita juga adalah kehendak Allah yang telah membuat kita menginginkan hal tersebut, hal itu terekam jelas pada surat al-Takwir: 29 "Dan kamu tidak dapat menghendaki –sesuatu- kecuali apabila hal itu dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam". Dan banyak lagi ayat lainnya yg menjelaskan realita ini, juga hadis-hadis Nabi Saw.

Kemudian, para mutakallimin jg membahas satu pembahasan yg sangat penting saat mengulas sifat iradah Allah ini, yaitu kaitan antara kehendak Allah dan perintah-Nya. Maksudnya begini, apakah setiap yg Allah kehendaki juga Dia perintahkan?, dan sebaliknya, apakah semua perintah Allah adalah kehendak-Nya?. Kalau mau dirangkum, ahlus sunnah wal jama'ah mengakui dan meyakini 4 hal dalam masalah ini, yaitu:

1- Allah Swt. dapat menghendaki sesuatu, tapi tidak memerintahkannya. Seperti orang yang lahir, hidup, dan mati dengan kekafirannya (non muslim). Allah tentu menghendaki semua yg terjadi di alam semesta, apalagi –hanya- di muka bumi ini. Tapi apakah Allah memerintahkan manusia utk kafir kepada-Nya? Tentu tidak. Banyak sekali ayat dan hadis yg menerangkan dengan gamblang hal itu, sesuatu yg membuat aneh jika kita dapat tertipu dengan kampanye-kampanye pluralisme yg digaungkan oleh temen-temen JIL.

2- Kebalikan dari no.1 (?)

3- Allah Swt. dapat memerintahkan sesuatu, dan juga menghendakinya. Seperti orang yang lahir, hidup, dan mati dalam keadaan iman. Ya Rabb, hidup dan matikanlah kami dalam keimanan. Amin99x.

4- Kebalikan no.3 (?)



Tapi ada satu hal yg harus kita perhatikan, bahwa walaupun semua yg terjadi di alam semesta –termasuk dunia- adalah iradah Allah, baik maupun buruknya, kita tdk boleh menisbahkan suatu keburukan yg terjadi adalah kehendak Allah, sebagai adab kepada-Nya. Kecuali di tengah-tengah pelajaran, hal itu dibolehkan, dan syekh kami juga menyebutkannya di sela-sela pengajarannya –di masjid Azhar-.



Hal ini ditegaskan oleh al-Quran pada surat al-Nisa': 79 "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri". Di tempat lain, Nabiyullâh Ibrahim 'alaihissalam memberikan qudwah hasanah dlm hal ini; " dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku" (al-Syu'ara': 80). Padahal Ibrahim as. sudah tahu dan yakin bahwa segala yg terjadi di muka bumi adalah ketentuan Allah Swt., apalagi para Nabi adalah golongan manusia yg paling mengenal hakekat Allah Swt., apa yg wajib bagi-Nya, maupun yg mustahil. Tapi beliau ingin mengajarkan adab kepada Allah bagi umatnya, dan umat manusia seluruhnya.


Penulis : Muhammad Rifqi Arriza

==================



Referensi:

1- Hasyiyatu Syaikhil Islam Ibrahim al-Baijuri 'ala Matan al-Sanusiah fi Ilmi al-Tauhid

2- Dars syekh Jamal Farouq di masjid al-Azhar.

20.23 | Posted in | Read More »

Tuhan Dimana?!


Kalau Tuhan Itu Memang Ada,
Mana Tuhan Itu?!
Oleh: Abdul Ghani, Lc

Sebuah kesalahan manusia dari zaman dahulu sampai sekarang adalah ketika mereka menyamakan atau tidak bisa membedakan antara hukum akal dengan tashawwur aqli (gambaran-gambaran yang ada pada akal). Hukum akal adalah hukum tetap yang tidak pernah berlawanan dengan dalil apapun yang bersifat qath’i (pasti/definitif). Seperti Al-quran dan Sunnah yang sifatnya qath’i dilalah dan qath’i tsubut.

Dengan kata lain hukum akal adalah hukum yang sangat mendasar di dalam akal manusia. Berbeda hal nya dengan tashawwur aqli. Tashawwur aqli adalah hasil produksi akal berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh oleh panca indera yang tanpa disadari hasil-hasil informasi dari panca indera tersebut menjadi dasar dalam berpikir oleh kebanyakan manusia, sehingga gambaran-gambaran dasar dalam akal ataupun pikiran-pikiran mendasar dalam akal manusia perorangan tersebut dianggap menjadi hukum akal.

Sebagai contoh: apapun yang terkena api dipastikan terbakar. Semua manusia dapat menyaksikan hal tersebut, bahwa api membakar atau api bersifat membakar. Dengan demikian setiap kali manusia melihat api yang langsung terlintas di dalam otak manusia adalah “hati-hati, api ini membakar”. Selalu itu terlintas di pikiran manusia secara umum. Sehingga hal tersebut pun menjadi dasar dalam berpikir bagi manusia secara umum dan berakhir pada anggapan bahwa semua api membakar yang dijadikan hukum akal, padahal bukan demikian kenyataannya.

Api membakar adalah sifat yang merupakan tashawwur aqli, bukanlah hukum akal. Karena hukum akal tidak akan menyalahi dan berlawanan dengan fakta thabi’I i (asli) ataupun fakta-fakta kejadian yang ada di alam. Kesimpulan dari hukum akal terhadap api adalah “membakar bukanlah sifat dasar dari api” yang ternyata berlawanan dengan tashawwur aqli manusia.
Sebagai bukti dalam Al-Quran (tentang Nabi Ibrahim).

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ. قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ.

Artinya: “Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (Al-Anbiya : 68-69)

Ayat tersebut di atas membuktikan bahwa sifat dasar dari api bukanlah membakar dan juga bukan panas, walaupun api yang kita dapati selama ini panas dan membakar tetapi bukan berarti itu adalah hukum tetap kepada api melainkan hanya sekedar hasil dari informasi yang diperoleh oleh otak manusia dan menjadikan membakar begitu pun panas seakan adalah hukum terhadap api.

Ketika manusia menyamakan antara hukum akal dengan tashawwur aqli tersebut maka manusia telah melakukan kesalahan yang bisa berakibat fatal ketika membahas tentang wujud (ada) bahkan ada sekelompok manusia yang tidak bisa membedakan antara hukum akal dengan tashawwur aqli seperti di atas yang beranggapan bahwa akal mengatakan sesuatu yang wujud itu adalah sesuatu yang terlihat ataupun terasa dan dapat disentuh, sedangkan sesuatu yang tidak dapat dirasakan dilihat dan disentuh berarti bukanlah sesuatu yang wujud di alam nyata ini, kalaupun sesuatu yang tidak terlihat, terasa dan tersentuh tersebut ada, adanya hanya terbatas dalam ketidaknyataan atau yang biasa disebut dengan istilah wujuduzzihni (dalam pikiran) atau bahkan wujud lafzi (dalam lafaz), adanya Cuma dalam khayalan manusia atau a danya hanya dalam ucapan manusia.

Pada dasarnya, permasalahan seperti ini tidak akan menjadi masalah yang begitu fatal jika seandainya manusia tidak pernah mencoba memasuki ruang lingkup alam metafisik dengan akalnya. Alam metafisik sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i dan juga Sheikh Abdul Halim Mahmud sama juga dengan apa yang disampaikan oleh DR. Yusuf El-Qaradhawi dan ulama-ulama lainnya yang semuanya senada menyampaikan bahwa alam metafisik adalah alam yang forbidden bagi akal untuk memasukinya. Saat akal mencoba membahas perkara-perkara metafisik dengan akal maka bukan hasil yang didapatkan melainkan ketidakjelasan dari segala sisi.

Namun demikian bukan berarti juga bahwa akal tidak ada andil sama sekali dalam perkara metafisik atau perkara ghaib, melainkan akal juga tetap mempunyai andil untuk hal tersebut dengan syarat selalu seiring dan sejalan dengan nash-nash yang qath’i dari Allah dan Rasulnya.

Mungkin kita pernah mendengar lelucon berbentuk dialog antara seorang guru dengan muridnya dan sang guru ketika mengajar mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena Tuhan itu tidak ada yang pernah lihat, tidak ada yang pernah menyentuhNya, bahkan tidak ada yang pernah mendengar suaraNya. Dengan demikian si guru menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada. Kemudian seorang murid balik berkata mengatakan bahwa otak gurunya tidak ada karena tidak ada orang yang pernah melihat otak dan menyentuh otaknya.
Kita bisa sedikit memahami tentang apa itu hukum akal dan tashawwur aqli. Tashawwur aqli menghendaki bahwa sesuatu yang wujud itu terlihat dan terasa akan tetapi kenyataannya hukum akal menolak tersebut dengan kata lain bahwa eksistensi bukan berarti harus ada materi.

DR. Abdul Halim Mahmud dalam buku nya yang berjudul El-Islam wa al- ‘aql beliau mengatakan bahwa istidlal liwujudillah ( mencari dalil bahwa Allah itu ada ) merupakan pembahasan yang tidak ada faedah bahkan dianggap bid’ah. Karena menurut beliau, Al- Quran dan Rasulullah SAW diutus ke atas bumi mendakwahkan tentang tauhidullah peng-ESA-an Allah bukan peng-ADA-an Allah. Sebab manusia dimana pun berada dan kapan pun zamannya; seperti yang disampaikan oleh DR, Abdul Halim Mahmud meyakini akan adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta, akan tetapi mereka menyembah kepada selain Tuhan seperti: berhala, bintang, matahari dan lain lain. Dengan alasan mereka meyakini bahwa benda-benda tersebut bisa mendekatkan mereka kepada Allah ataupun menyampaikan semua doa mereka kepada Tuhan. Selanjutnya DR. Abdul Halim Mahmud berkesimpulan bahwa Al Quran dan Rasulullah SAW diutus kebumi untuk memberantas kemusyrikan bukan untuk mengatakan Tuhan itu ada.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada DR, Abdul Halim Mahmud, kita mengakui benar bahwa Rasulullah SAW dan Al Quran sebagai kalamullah (perkataan Allah) diutus dan diturunkan kebumi untuk memberantas kemusyrikan secara nyata di dalam dakwah beliau demikian. Akan tetapi bukanlah hal yang terlarang untuk menjelaskan atau pun mencari dalil akal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada seperti yang dilakukan oleh para mutakallimin (Ahli tauhid).

Sebab jika kita teliti lebih dalam kita bisa temukan bahwa Al -Quran secara tersirat juga mengatakan atau pun mengemukakan dalil bahwa Allah itu ada.

Karena pada kenyataannya ada beberapa kelompok manusia yangmencoba mengingkari akan adanya Tuhan seperti kelompok filsafat yang mendasarkan filsafatnya kepada materi ataupun kelompok filsafat yang mengakui akan wujud dan tidak ada selain wujud yang kita kenal dengan nama eksistensialisme.
ataupun kelompok-kelompok pengikut satanis yang mereka semua menolak atau berusaha menafikan akan keberadaan Tuhan.

Seperti karl marx yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada melainkan hanya khayalan manusia yang dibuat oleh akal manusia sendiri. Seperti halnya juga Darwin dan para pengikutnya yang menyatakan bahwa alam ini ada, hanya karena faktor kebetulan dengan adanya hukum alam yang kuat yang bertahan. Dan adanya istilah seleksi alam maka alam ini atau dunia ini masih bisa tetap eksis sampai sekarang tanpa ada campur tangan tuhan karena memang Tuhan (dalam kepercayaannya) itu tidak ada.

Kita sebagai orang yang beriman dan meyakini akan adanya Tuhan dan mempercayai dengan sepenuh hati akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan terhadap alam semesta ini, Dia sang pencipta sang pengatur sang pengasih dan penyayang. Pastinya sama sekali tidak setuju dengan pendapat-pendapat orang-orang tersebut di atas. Dengan jelas kita mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Namun, apakah benar kita meyakini seperti yang lidah kita ucapkan? Iman bukanlah sesuatu yang dapat diwariskan dari seorang bapak yang beriman ataupun kakek yang sering ke masjid, melainkan iman adalah urusan pribadi masing-masing dan diyakini oleh masing-masing didapatkan secara sendiri-sendiri dan pertanggungjawabannya juga sendiri.

Iman bukan hal yang terbatas hanya dihati tanpa ada ikut campur dari otak untuk membuktikan kebenarannya, dari dahulu para ulama telah lebih dahulu membahas tentang sifat-sifat Allah yang bagi kita sekarang ini hanya tinggal menikmati dengan memahami dan meyakini akan semua itu. Sifat Allah sebagaimana yang dibagi oleh ulama kalam atau para ulama ahli tauhid.

Ada 4 bagian dari sifat wajib bagi Allah SWT:
  1. Sifat Nafsiah (sifat yang disandarkan pada nafs/zat yang mesti ada pada zat dan tanpa sifat ini sifat yang lain tidak ada)
  2. Sifat Salbiah (sifat yang mensalibahkan/menafikan/menolak semua bentuk sifat yang tidak pantas jika disandarkan pada Allah)
  3. Sifat Ma’ani (sifat yang melekat pada zat)
  4. Sifat Ma’nawiyah (sifat yang berkaitan langsung dengan perbuatan Allah)

Yang menjadi pembahasan kita pada tulisan singkat ini adalah mengenai sifat Nafsiah. Dinamakan dengan sifat Nafsiah karena sifat tersebut berkaitan langsung dengan Nafs atau zat, dengan kata lain tanpa adanya sifat ini maka tidak ada sifat-sifat yang lain. Sifat tersebut adalah sifat Wujud (ada).
Allah bersifat dengan sifat “wajibul wujud” maksud dari wajibul wujud adalah: Tidak boleh atau pun terlarang bagi zat Allah. Ketidak adaan, baik pada masa dahulu ataupun masa yang akan datang. Allah wajibul wujud berarti juga Allah itu pasti ada, dan selalu ada Mustahil “tidak ada” menghampirinya.
Ulama kalam secara umum mengemukakan dua dalil akan wajibul wujud nya Allah SWT:
  1. Dalil Iftiqaar kulli syain lahu (segala sesuatu membutuhkan Allah)
  2. Dalil Ghaniyun ‘an kulli syain (Allah tidak membutuhkan pada apapun)
Iftiqar kulli syain lahu adalah bukti nyata dan dalil yang begitu jelas bahwa Allah itu bersifat dengan wajibul wujud atau pasti adaNya. Tidak ada satu pun dari makhluk di atas bumi ini yang bisa menjamin dirinya untuk tidak membutuhkan Allah, disadari atau tidak disadari semua makhluk bagaimana pun bentuknya dan dimanapun tempatnya selalu membutuhkan Allah.
Allah ta’ala berfirman dalam surat al-ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Akal manusia dan hati manusia pasti akan mengatakan adalah hukum alam, yang kuat lagi kuasa menjadi tempat berlindung menjadi tempat mengadu dan yang sempurna menjadi tempat untuk menyerahkan segala kekurangan. Demikian kenyataan yang telah menjadi fitrah bagi semua makhluk dari yang nyata sampai yang ghaib dan yang kecil hingga yang besar, semuanya bergantung hanya kepada Allah.

Saat muncul sebuah pertanyaan, mana Allah yang dikatakan ada tersebut? wujudnya tidak terlihat dan tidak terasa. Memang benar Allah tidak terlihat tapi begitu salah ketika dikatakan tidak terasa. Sebab perasaan manusia tidak bisa lepas dari kekuasaan sang kuasa. Coba sejenak kita meresapi hati manusia sebagai dasar perasaan. Apakah manusia tidak menyadari bahwa hatinya tersebut tidak bisa mereka kendalikan dengan sedemikian rupa sekehendak pikirannya. Yang demikian adalah bukti bahwa hati itu adalah kekuasaan Allah dan menjadi bukti bahwa manusia tersebut tidak bisa lepas dari Allah.

Sesuai dengan hadist Nabi SAW: “Hati orang-orang yang beriman berada di dalam genggaman sang maha pengasih”.

Para ulama menjelaskan bahwa adanya alam ini dan segala isinya adalah bukti bahwa Allah itu ada. Karena memang benar dan telah diakui oleh kecanggihan teknologi pada zaman sekarang bahwa alam ini tidaklah tercipta secara kebetulan seperti apa yang dikatakan oleh Darwin dan darwinisme melainkan semuanya adalah atas kehendak dan kekuasaan Allah sebagai tuhan sekalian alam.

Secara umum alam adalah bukti bahwa Allah itu ada secara khusus lagi. Diri kita dan manusia semuanya. Mari kita mencoba untuk meresapi keberadaan kita di alam ini. Apakah masih kurang menjadi bukti akan kuasa Allah sebagai tuhan yang wujud dan wujud nya adalah wajibul wujud?!
Mari kita resapi kembali Allah menjadikan manusia sebagaimana firman Allah di dalam Al -Quran surat Adz-Zariyat ayat 56-57:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.”

Allah ciptakan manusia untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah SWT. Karena memang tidak ada tuhan kecuali hanya Allah.

Dalil kedua yaitu Allah tidak butuh akan segala sesuatu. Dalam surat Adz-Zariyat di atas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk dan juga tidak membutuhkan makanan dari makhluk. Melainkan Allah yang memberi rezeki kepada makhluk semuanya. Karena Allah adalah zat yang maha kaya. Begitu banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang menjelaskan bahwa Allah yang memberi rezeki kepada semua makhluk.

Apakah masih pantas kita menanyakan apakah Tuhan ada?! Sedangkan kenyataannya diri kita dan hati kita bahkan semua makhluk di atas dunia ini mengakui bahwa Tuhan itu ada. Tidak terlihat bukan berarti menjadi dalil bahwa sesuatu itu tidak ada.

Kembali kepada defenisi dari iman secara istilah: meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan nya dengan seluruh anggota badan. Dengan mengamalkan semua itu secara keseluruhan iman yang begitu kokoh di dalam hati pun akan tercipta terkhusus dalam keyakinan akan adanya Allah dan kekuasaan Allah akan semua makhluknya.

Semoga Allah selalu menjaga hati kita karena cuma Allah lah zat yang maha menggenggam hati kita semua. Amin.

17.15 | Posted in | Read More »

TAUHIDULLAH


TAUHIDULLAH DIDALAM KEHIDUPAN MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK BERAGAMA
Oleh: Abdul Ghani

Segala puji hanya bagi Allah yang tiada Tuhan selain Allah, sholawat dan salam untuk nabi Muhammad Shallahu’Alaihi Wasallam.

Antara manusia, kehidupan dan agama (keyakinan) adalah tiga objek yang paling penting dalam semua pembahasan, yang akan selalu menjadi hot topic dalam kajian akal dan tidak bisa tidak manusia berakal tidak akan pernah bisa terlepas dari pembahasan ini. Bahkan bukan sekedar menjadi pembahasan, akan tetapi melebihi dari itu, manusia akan selalu berusaha membuka tabir dibalik tiga aspek tersebut untuk mencapai sebuah tujuan yang disebut dengan: “As-sa’adah” atau kebahagian. Disaat manusia mencoba untuk melupakan salah satu tiga aspek tersebut secara otomatis manusia tersebut akan terhindar dari yang namanya kebahagian.

Berbicara tentang kebahagiaan, memang para pakar berbeda-beda dalam mendefenisikan kebahagian tersebut, para Filosof materialis mengatakan bahwa kebahagian ada pada manusia ketika seorang manusia itu sempurna dari segi fisik, dengan kata lain, manusia cacat adalah manusia yang tidak memperoleh kebahagian sama sekali di dalam hidupnya. Alfarabi sebagai seorang Filosof muslim menganggap bahwa kebahagian adalah ketika manusia memperoleh sesuatu yang pantas ketika memang disaat itu dia pantas mendapatkannya. Sebagai contoh ketika seorang manusia merasakan lapar, maka makananlah yang dibutuhkan oleh manusia disaat itu. Memperoleh makanan ketika itu menjadi kebahagian bagi manusia yang lapar. Namun, yang mesti diketahui, bahwa ulama dan filosof muslim sepakat mengatakan bahwa kebahagian seorang mukmin adalah ketika seorang mukmin sampai kepada ma’rifatullah haqqa ma’rifatih (memperoleh pengetahuan akan allah dengan segala keyakinan).

Dapat disimpulkan dari dua paragraf di atas bahwa ma’rifatullah tidak bisa diperoleh manusia kecuali dengan memahami akan tiga aspek yang tertulis di atas (manusia, kehidupan dan agama). Sengaja digunakan kata-kata “memahami” dengan maksud memahami mengandung makna melebihi dari sekedar membahas dan setelah pembahasan selesai tinggallah pembahasan dengan bahasannya. Memahami adalah kata yang tidak sempurna dari segi makna jika tanpa amalan.

Alquran sebagai pedoman hidup manusia mendidik manusia untuk mengiringi pengetahuan dengan perbuatan, Allah berfirman:  الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “Orang-orang yang beriman dan melakukan amal baik…” ada banyak ayat di dalam Alquran yang Allah menyebutkan amalan setelah iman sebagai pengetahuan. Demikian Allah mengajarkan manusia untuk beramal setelah berilmu atau beramal dengan ilmu. Nabi pun juga mendidik umatnya untuk beramal sehingga ilmu itu bermanfaat dengan amalan.

Manusia, kehidupan dan agama sebagai pokok pembahasan yang tidak terhenti hanya sampai batas membahas dan mengetahui, namun berkelanjutan dengan pengamalan dari hasil pembahasan tersebut yang akan menyampaikan manusia kepada titik kebahagian.

Apa itu manusia? Darimana manusia berasal? Apa tujuan manusia itu ada? Semua pertanyaan tentang manusia dapat dijawab oleh akal manusia, tapi apakah semua jawaban tersebut benar dan sesuai dengan apa yang semestinya?. Jawaban yang benar pasti mempunyai landasan, apakah landasan dari jawaban yang benar tersebut, yang bisa menjadi titik tolak untuk sebuah jawaban yang benar? Apa itu kehidupan? Apa hubungan antara kehidupan dengan manusia dan agama atau keyakinan?
Semua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, namun bermakna yang begitu dalam jika dikaitkan dengan pembahasan kebahagian. Jawaban dari semua pertanyaan tersebut tidak mesti dicari karena memang bukan sesuatu yang hilang sehingga harus dicari, namun jawaban sudah ada didalam diri manusia yang manusia kebanyakan tidak menyadari sehingga merasa mesti mencari.

Berfikir adalah jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan tersebut. Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal untuk berfikir, kehidupan tidak bisa terlepas dari fikiran, agama dan keyakinan menjadi dua sisi mata uang dengan manusia. Firman Allah didalam Alquran bergitu banyak mengatakan “Afala ta’qilun?” tidakkah engkau berfikir?

Lebih ringkas lagi dapat disimpulkan bahwa manusia, kehidupan dan agama adalah satu, mungkin kita pernah menganggap agama adalah sesuatu yang harus dicari dan dimasukkan kedalam diri. Namun kenyataannya bukan begitu, bahwa agama adalah sesuatu yang memang telah ada bersama manusia, disaat manusia memperoleh kehidupan disaat itu juga agama sudah ada beserta kehidupan manusia tersebut. Sedikit membingungkan memang, untuk lebih bisa tergambarnya kita mesti memahami apa itu agama.

Agama atau didalam bahasa arab disebut dengan “Ad-din”, ulama mendefenisikan ad-din adalah;
- “Segala bentuk perintah dari Allah yang diturunkan melalui penyampai risalah yaitu nabiNya yang berbentuk hukum-hukum”.

Ada juga ulama yang mendefenisikan Ad-din adalah;
- ”ketetapan Tuhan yang diperuntukkan kepada manusia yang memiliki akal yang sehat, sesuai dengan ikhtiar manusia yang membawa kepada kebaikan bagi manusia itu sendiri

Dari kedua defenisi diatas dapat disimpulkan menjadi satu defenisi;
Bahwa agama adalah hukum-hukum yang ditetapkan Allah untuk hamba-hambaNya, yang akan membawa para hamba kepada kebaikan yang sebenarnya”.

Namun, agama seperti apakah yang dimaksudkan dengan unsur yang telah ada bersama keberadaan manusia? Apakah semua agama? Ataukah beberapa dari sekian banyak agama yang diyakini oleh manusia?

Pada hakikatnya, manusia bagaimanapun bentuk dan dimanapun tempatnya pasti akan merasakan fitrah yang telah ada pada dirinya, karena memang agama bukanlah sesuatu yang baru bagi jiwa manusia melainkan unsur yang menyatu dengan manusia itu sendiri.

Pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian din ( agama ) kalian, dan telah aku cukupkan bagi kalian nikmat-nikmat Aku dan telah Aku redhai islam sebagai din ( agama )”. Demikian firman Allah, yang dengan jelas mengataka bahwa agama yang diridhai Allah hanyalah islam. Islamlah yang dimaksudkan dengan unsur yang ada pada diri manusia. Bukan berarti rasis yang mengarah kepada makna negatif saat kita mengatakan bahwa islam-lah agama yang benar. Akan tetapi itulah fakta yang terasa jika islam dikaji secara objektif dan diamalkan dengan benar.

Apa itu islam? Islam adalah istislamulwajhi ilallah (menyerahkan diri hanya kepada Allah), menyerahkan diri hanya kepada Allah hanya akan bisa tercapai dengan satu jalan yaitu keyakinan penuh kepada Allah, atau bisa disebut dengan iman.

Kemudian, apa itu iman? Iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lidah dan dipraktekan melalui amalan.

Secara mendasar, itulah cakupan dari agama. Yang sifatnya adalah keyakinan bukan pemaksaan akan tetapi kebutuhan manusia yang disediakan Allah untuk hambaNya. Kehidupan dunia jika ditelusuri, akan didapati semuanya saling berkaitan antara aspek dengan aspek lain didalam kehidupan. Bersumber dari satu dan kembali kepada yang satu.

Setelah kita mengetahui dan memahami apa hakikat kita sebagai manusia, apa itu kehidupan dan kaitannya dengan din (agama), apa itu iman dan islam. Langkah selanjutnya yang merupakan tujuan dari sebuah kehidupan adalah ma’rifatullah (pengetahuan akan Allah), dasar dari ma’rifatullah adalah tauhidullah peng-esaan Allah.

Allah itu satu, bukan dua ataupun tiga apalagi lebih dari itu. Didalam Alquran dapat kita temukan firman Allah لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللَّهُ لَفَسَدَتَا “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” akal yang sehat pun akan membenarkan hal tersebut. Jika ada dua Tuhan, maka kedua Tuhan tersebut mempunyai kuasa yang sama dan keinginan yang berbeda pastinya alam akan hancur karena perebutan kekuasaan dua Tuhan, jika tidak demikian halnya, kemungkinan kedua Tuhan tersebut akan berperang untuk meraih kekuasaan penuh, secara otomatis akan ada yang kalah dan akan ada yang menang, seandainya begitu keadaannya berarti Tuhan yang kalah bukanlah Tuhan karena Tuhan adalah zat yang tidak mempunyai kekurangan dan kelemahannya. Demikian keadaannya jika ada dua Tuhan apalagi ada tiga Tuhan atau lebih.

Allah esa dengan zatNya dan sifat-sifatNya, Allah esa dengan segala kekuasaanNya terhadap makhluk-makhlukNya. Semua itu dapat kita temukan dalam satu cabang ilmu, yaitu ilmu tauhid ataupun ilmu kalam.

Tauhid sebagai sebuah cabang ilmu, mempunyai tiga pembahasan:

  1. Ilahiyat : pembahasan yang berkaitan dengan ketuhanan.
  2. Nubuwwat : pembahasan yang berkaitan dengan kenabian.
  3. Sam’iyat : pembahasan yang tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil sam’I yaitu alquran dan hadits, seperti perkara surga dan neraka, hari berbangkit, nikmat dan siksa kubur dan lain sebagainya.
Yang semua pembahasannya itu tidak bisa terlepas satu sama lainnya, dan kembali kepada satu pokok atau tujuan akhir dari keberadaan makhluk dialam ini, yaitu tauhidullah (peng-esaan Allah). Ke-esaan Allah yang dibahas didalam sebuah cabang ilmu yang kita sebut dengan ilmu tauhid bukanlah suatu ilmu yang diakal-akali atau dibuat-buat sehingga menjadi terlihat begitu penting dan begitu istimewa. Akan tetapi memang sesuatu yang mesti masuk akal dengan segala kebenarannya. Yang dengannya manusia bisa terhindar dari penyelewengan akidah menuju kesyirikan dan akan mengantar manusia agar sampai ke terminal akhir kebahagian yaitu ma’rifatullah.

Ilmu tauhid jika dipandang dari segi hukum mempelajarinya, para ulama Ahlu As-sunnah wal jama’ah sepakat menetapkan bahwa hukumnya adalah wajib ‘ain atau wajib bagi setiap individu untuk mengetahuinya ataupun mempelajarinya, bagaimana tidak, orang yang mengaku adalah makhluk ber-Tuhan dan beragama tidak mengetahui akan Allah yang merupakan Tuhan sekalian alam.

Setelah dibahas panjang lebar mengenai manusia, kehidupan dan agama dan pembahasan-pembahasan lain yang disinggung di paragraf-paragraf sebelumnya dengan semua keterkaitan satu dan lainnya, mungkin bisa dianggap sebagai pembukaan pemahaman akan urgensi sebuah ilmu tauhid dalam kehidupan manusia. Semoga kesadaran akan pentingnya ilmu tauhid dan tauhid itu sendiri, kita semua sebagai mukmin bisa lebih menyadari dan memahami akan makna iman yang hakiki.
Wallahu’alam bisshawab

Allahumma arinalhaqqa haqqan warzuqnattiba’ah wa arinalbathila bathilan warzuqnajtinabah.amin.

01.55 | Posted in | Read More »

RU’YATULLAH

RU’YATULLAH (Melihat Allah)

oleh Muhammad Arabiyah Mangawing


Apakah bisa melihat allah di akhirat ?
Permasalahan ru’yatullah [ melihat allah] di akhirat adalah adalah masalah khilafiyyah , dan menurut ahli sunnah wal-jamaah bahwa ahli surga akan melihat tuhan-Nya diakhirat kelak. Dan selainnya mengatakan tidak bisa melihat-Nya dengan pemahaman dalil yang berbeda.
Kelompok ahli sunnah wal-jamaah berdalil dalam surah al-a’raf ayat 142, artinya; berkata musa; wahai tuhanku perkenangkanlah saya melihat-Mu lalu allah berkata; kamu tidak akan melihatku akan tetapi lihat lah gunung itu, jika tempatnya tetap kokoh maka kamu akan melihatku .jadi permintaan nabi musa u/ melihat tuhan_nya menunjukkan bahwa ada kemungkinan bs melihat_nya, seandainya gunung itu tidak meledak. Para ulama menafsirkan bahwa ketidaksiapan musa melihat allah sehingga masih terhalang tabir.
Adapun golongan lain yang mengingkari ru’yatullah adalah muktazilah, mereka berdalil ayat yang sama, namun mereka menafsirkan bahwa, kata “ lan” dlm bahasa arab berarti “ tidak akan “, bermakna; tidak akan  melihat alklah selamanya . lalu mereka juga menguatkan dalil nya dengan ayat lain; laa tudrikuhu al-abshara wa huwa yudrikul-absara “ kamu tidak bs melihat nya dengan pandangan matamu, dan sesungguhnya Cuma allah  yang bs melihat dengan pandangan-Nya.
Para ulama ahli sunnah membantah penafsiran muktazilah terhadap ayat ini, pada hakikatnya muktazilah menyamakan undang-undang dunia dan undang2 akhirat, sesungguhnya dalam ayat itu bermaksud bahwa kita tdk akan bisa melihat allah di dunia, tp ru’yatullah di akhirat itu bisa.  Sebagaimana ayat lain disebutkan;
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ .

Bagi mereka yang berbuat kebaikan surga dan tambahan. [Yunus : 26]
Dan tambahan yang dimaksud dalam ayat ini adalah; ru’yatullah.
Nah sekarang kita mengkaji juga, apakah allah bisa dilihat di dunia ?

Bisakah Allah dilihat di dunia?
Jumhur ulama’ mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia. Berbeda dengan kelompok Musyabbihah(orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya), juga sebagian As’ariyah dan orang –orang Shufi, yang mengatakan bahwa Allah bisa dilihat dengan mata kepala di dunia, bahkan bisa mushafahah (berjabatan tangan) dan mulamasah (bersentuhan) dengan Allah, sebagaimana yang terdapat pada kitab Sirajut Thalibin hal.133. Mereka mengatakan: ”Orang-orang yang ikhlas akan bisa melihat, bahkan memeluk Allah di dunia dan akherat, kalau mereka menginginkan yang demikian”. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan!!.

Orang-orang Shufi menganggap bahwa ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) yang ada dalam hatinya sebagai ru’yatullah dengan mata kepala. Padahal terkadang syaitan membayang-bayanginya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan.

Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul Wal Washilah hal.28 berkata: ”Terkadang seorang hamba melihat Arsy yang besar yang ada gambar, juga melihat ada orang yang naik dan turun di arsy tersebut, dan menganggapnya itu malaikat, dan menganggap gambar itu adalah Allah, padahal itu adalah syaitan. Seperti ini sering terjadi sebagaimana yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau bercerita: ”Suatu hari ketika saya selesai beribadah saya melihat arsy yang agung, di dalamnya ada cahaya dan ada seorang yang memanggil, “Wahai Abdul Qadir Jailani saya adalah Tuhanmu dan saya sudah menghalalkan kepadamu semua yang Aku haramkan sebelumnya.” 

Syaikh Abdul Qadir Jailani balik bertanya, apakah Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau? Hengkanglah Wahai musuh Allah!.Kemudian cahaya tadi terpencar dan berobah menjadi kegelapan kemudian keluar suara yang mengatakan, “Wahai Abdul Qadir engkau telah selamat dari tipudayaku dengan pengetahuanmu tentang agama, saya sudah berhasil memperdayakan tujuh puluh orang dengan tipu daya ini.” Ketika beliau ditanya bagaimana anda mengetahui bahwa itu adalah syaitan, ia menjawab karena dia mengatakan bahwa Allah sudah menghalalkan kepadaku semua yang diharamkan sebelumnya kepada yang lain, dan saya berpendapat bahwa syariat Muhammad tidak mungkin dirobah dan diganti”.

Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa dirinya pernah melihat Allah dengan mata kepala di dunia,beliau menjawab: “Barangsiapa di antara manusia yang mengatakan bahwa para wali atau selainnya bisa melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia maka ia adalah seorang Mubtadi’ yang menyesatkan,yang berlawanan dengan Kitab dan Sunnah dan ijma’ salaful ummah, apalagi kalau menganggap dirinya lebih afdhal dari Musa, maka dia harus disuruh taubat kalau mau,kalau dia menolak maka boleh dibunuh,wallahu A’lam. [Majmu’ fatawa VI/512]

Maka tidak boleh seseorang cepat terkecoh dengan orang yang bergelar wali atau ahli shufi.

Imam As-Syaukani dalam kitabnya Al-Wali mengingatkan: ”Tidak boleh seorang wali beranggapan bahwa semua yang terjadi padanya, berupa kejadian atau mukassyafat (pembukaan tabir) adalah semuanya karamah dari Allah, karena bisa saja semua itu datang dari syaitan, maka wajib menilai dan mengukur semua perkataan dan perbuatannya dengan Kitab dan Sunnah, kalau sesuai maka itu adalah kebenaran dan karamah dari Allah,kalau itu bertentangan dengan Kitab dan Sunnah maka hendaklah menyadari bahwa ia tertipu oleh syaitan.”

Adapun dalil jumhur yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah surat Al-A’raaf ayat 143 terdahulu. Ibnu Katsir mengatakan: ”Bahwa penafian ru’yatullah khusus di dunia, karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat.”

2. Firman Allah dalam surat Al anam ayat 153 . Imam Ahmad dalam kitab bantahannya kepada Zanadiqah dan Jahamiyah hal.13-14, berkata: “Makna ayat ini adalah tidak ada yang bisa melihat Allah di dunia kecuali di akherat. Ibnu Khuzimah dalam kitab tauhidnya hal.185 menambahkan: “Bahwa Allah tidak bisa dicapai oleh penglihatan penduduk dunia sebelum mati”.

3. Firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara ayat 51, yang menyatakan bahwa Allah hanya berbicara dengan para rasulNya dengan wahyu atau di balik tabir atau dengan malaikat. Kalau melihat Allah tidak bisa terjadi pada rasul-Nya, maka apalagi pada manusia yang lain.

4. Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 55, dan yang senada dengan ayat ini, yang menyatakan bahwa Bani Israil meminta Musa untuk bisa melihat Allah dengan jelas diazab oleh Allah, karena disamping mereka memintanya dengan penuh kesombongan dan penantangan, juga mereka memintanya di waktu yang tidak mungkin terjadi. Apabila kepada Nabi Musa saja tidak bisa terjadi maka apalagi kepada yang lainnya. 

Adapun Dalil Dari Sunnah
Hadits-hadits yang lewat menyebutkan bahwa Allah hanya bisa dilihat pada hari kiyamat. Itulah sebabnya pertanyaan sahabat juga memakai kata ”Apakah Allah bisa dilihat pada hari kiyamat?” dalam pertanyaannya kepada Rasulullah, seperti hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah,para Sahabat berkata: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari Kiyamat? [HR.Bukhari dan Muslim]

Riwayat lain dari Abu Sa’id Al Khudri, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari kiyamat? [HR.Bukhari Muslim]

Juga hadits Rasulullah yang mengingatkan umatnya terhadap Dajjal, beliau bersabda:

مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ 

Sesungguhnya di antara dua mata Dajjal tertulis kata “kafir” yang bisa dibaca oleh setiap orang mukmin, yang dapat menulis, atau buta huruf.

Dan beliau berkata: ”Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorangpun di antara kamu yang bisa melihat Tuhannya sampai dia mati. [HR.Muslim]

Di sini Rasulullah sedang berbicara dengan para sahabat bahwa mereka tidak bisa melihat Allah sampai mati ,kalau sahabat saja dikatakan oleh Nabi tidak bisa melihat Allah sebelum mati, apalagi manusia yang lain.

Apakah Rasulullah pernah melihat Allah di dunia ?
Qadhi Iyyad dalam kitabnya ”Assyifa fi ta’rifi huququl Musthafa” juz.I/119-124, menyebutkan beberapa perbedaan ulama’dalam masalah ini.

Pertama : Ibnu Abbas dan riwayat dari Ka’ab bin Malik, juga dinisbahkan kepada Anas bin Malik, Ikrimah, Hasan, Rabi’, dan juga Abu Hasan Al Asy’ari dan Qadhhi Abu Ya’la dari Hanabilah mengatakan: “Rasulullah pernah melihat Allah (Ketika menerima perintah shalat diwaktu mi’raj), mereka berhujah dengan hadits-hadits tentang ru’yah yang tidak mengkhususkan dengan mata tetapi secara mutlak (umum) seperti:

1. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Saya melihat Tuhanku”. [HR.Ahmad]

2. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah: “Dia benar-benar dan pernah melihatnya dalam bentuk yang lain, ia berkata: “Nabi sudah melihat Allah dua kali, di Sidharatul Muntaha, kemudian diwahyukan kepadanya perintah shalat.. [HR Thurmudzi, hasan]

3. Hadits tentang Isra’ miraj Nabi, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Dhamir (kata ganti) pada kata-kata dana ( mendekat ), auha (mewahyukan ) dan raahu ( melihat ) kembali kepada Allah. Dengan demikian maka Rasulullah pernah melihat Allah.

4. Al-Haitsami dalam Majmu’ Az-zawaid juz 1 hal 79, meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas: “Sesungguhnya Muhammad melihat Rabb-Nya dua kali, pertama dengan mata kepalanya, dan kedua dengan mata hatinya”. 

5. Beliau juga berkata: “Muhammad melihat Allah”, Ikrimah bertanya: “Apakah beliau bisa melakukannya?”, ia menjawab: “Ya, Allah menjadikan Kalam (berbicara) dengan Musa, hullah (persaudaraan) dengan Ibrahim dan An-nazhar (melihat) kepada Nabi Muhammad. Diriwayatkan juga oleh At-Thabrani di Al-Awsath, tetapi di dalamnya isnadnya ada perawi bernama Hafs bin Amru yang dilemahkan oleh Imam Nasai)

6. Imam Nawawi mengatakan, inilah pendapat yang kuat, menurut kebanyakan Ulama. Yaitu Rasulullah melihat Allah dengan mata kepalanya di malam Isra mi’raj. Sesuai dengan hadits Ibnu Abbas terdahulu. Beliau juga menyebutkan beberapa alasan penguatannya, di antaranya masalah ini termasuk masalah yang tidak dapat dicerna oleh akal. Maka apabila hadits Ibnu Abbas itu shahih, ia harus dipegang. Juga Ibnu Abbas menetapkan bisanya ru’yatullah bagi Nabi, sedangkan hadits Aisyah menafikan(meniadakan) dalam kaidah al-mutsbat muqaddamun ala annafi (penetapan lebih dahulukan dari peniadaan). Dan shahabat apabila menetapkan satu pendapat, kemudian ada shahabat yang lain yang berbeda, maka perbedaan itu tidak dijadikan hujjah.

Kedua: Rasulullah tidak pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia.

Inilah pendapat yang dipegang Aisyah dan yang masyhur dari Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, dan Abi- Dzar juga sebagian muhadditsin, fuqaha, dan mutakalimin. [Llihat Syarah Thahawiyah oleh Abi al-izzi hal 137]. 

Diantara dalil- dalilnya adalah 
1. Hadits Aisyah yang diriwayatkan Masyruq, ia berkata:

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ 

“Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah berdusta besar pada Allah. [HR. Bukhari Muslim]

2. Hadits Abi Dzar -yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Syaqiq-, dia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ الهِ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ 

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah engkau telah melihat Allah”, beliau menjawab: “Cahaya yang menghalangi-ku untuk melihatNya. [HR. Muslim]

Dalam riwayatkan lain dikatakan:

رَأَيْتُ نُورًا

Saya hanya melihat cahaya. [HR. Muslim]

3. Hadits Abu Musa, di dalamnya disebutkan.

حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ 

HijabNya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka niscaya terbakar-lah di antara makhlukNya oleh cahaya mukaNya sejauh pandangan. [HR Muslim]

Sedangkan yang pernah dilihat oleh Rasulullah adalah Jibril Aliahissallam, bukan Allah sebagaimana Hadits Abu-Hurairah dan Aisyah.

4. Hadits riwayat Abu Hurairah dalam firman Allah:

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى

Dan ia telah melihatnya dalam bentuk yang lain (An-Najm:13), Rasulullah mengatakan bahwa belaiu melihat Jibril. (HR. Muslim )

5. Diriwayatkan oleh Asybani, dia bertanya kepada Dzur bin Hubaysih tentang tafsir ayat 13 surat An-Najm , dia berkata: Ibn Masud memberitahukannya bahwa Nabi melihat Jibril mempunyai 600 sayap. 

Juga hadits Aisyah, ia menyatakan, bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril yang sebelumnya tidak pernah saya lihat dalam bentuk aslinya kecuali dua kali. Saya melihatnya turun dari langit yang keagungan penciptaanya memenuhi langit dan bumi.”

6. Dua hadits ini cukup untuk menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah melihat Allah di dunia, karena kedua hadits tersebut shahih dan sharih. Berbeda dengan hadits yang dipakai pendapat pertama, haditsnya mutlak. juga seperti hadits Syuraiq masih dipertanyakan sanad maupun matan, karena Syuraiq sendiri menurut Ahlul Hadits tidak hafidz (kuat hafalannya) (Lihat Fathul- Bari juz 13, hal 484 ). Adapun tarjih (pendapat yang dianggap kuat) Imam Nawawi termasuk tarjih tanpa hujjah yang kuat dan tepat.

Ketiga : Tawaquf (tidak mengatakan Rasulullah telah melihat Allah). Ini yang dilakukan oleh Qadhi ‘Iyadh.

Sebagian Ulama mencoba untuk mempertemukan dua pendapat tersebut, dengan mengatakan bahwa orang yang meniadakan ru’yatullah maksudnya Nabi tidak melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Dan yang menetapkan ru’yatullah maksudnya Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. Karena tidak adanya dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan As-sunnah yang menyatakan bahwa Rasulullah melihat Allah dengan mata kepala beliau, dan Rasulullah sendiri tidak pernah memberitahukan kepada shahabatnya, seandainya beliau pernah melihat Allah dengan matanya niscaya akan menceritakan shahabatnya. [Lihat Majmu’Fatawa juz 6, hal 509-510). Juga tafsir Ibn Katsir juz 6, hal 452] 


Melihat Allah dengan Mata hati
Ulama sepakat bahwa Rasulullah n pernah melihat Allah dengan hatinya, berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: “Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melihatNya dengan hatinya” [HR.Muslim]

Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya dan tidak pernah melihatnya dengan mata kepalanya. 

Ibrahim At-Taimi meriwayatkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihatnya dengan hatinya dan tidak pernah melihat dengan matanya.

Imam Nawawi berkata: “Melihat Allah dengan hatinya adalah penglihatan yang benar, yaitu Allah menjadikan penglihatannya dihatinya atau menjadikan hatinya mempunyai penglihatan sehingga dia bisa melihat Tuhannya dengan benar, sebagaimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. [Syarah Shahih Muslim juz3, hal 6]. 

Adapun selain Nabi, seperti Shahabat dan tabi’in, maka salaf sepakat bisa terjadi bagi hati seorang mukmin sebuah mukasyafat (membuka tabir) dan musyahadat (persaksiaan), yang sesuai dengan keimanan dan ma’rifatullah. Karena seorang yang mencintai sesuatu akan membekas dalam hatinya dan merasa selalu dekat dalam hatinya. Sebagaimana jawaban Rasulullah tentang ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ 

Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu.[HSR. Bukhari, Muslim, dan lainnya-Red] 

Syaikhul Islam meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Syaikhul Islam menambahkan sesungguhnya Allah dilihat sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan inilah pendapat saya, dan pendapat imam-imam kita. Berbeda dengan pendapat orang-orang yang jahil yang ada di sekitar kita. [Majmu’Fatawa V/79]

Seperti Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan hati dan bukan melihat-Nya tapi mengetahui-Nya dengan hati. [Maqalaat Islamiyah I/118]

Melihat Allah dalam mimpi, mungkinkah ?
Para sahabat dan tabiin dan salaf mengatakan bahwa ru’yatullah lewat mimpi adalah hak dan bisa terjadi. Sebagaimana hadits tentang mimpi Rasulullah melihat Allah dengan lafaz yang berbeda di antaranya:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ,Rasulullah bersabda:

رَأَيْتُ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Saya pernah melihat Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Juga di dalam hadits yang lain.

أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Semalam saya didatangi oleh Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda.

فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Tiba-tiba aku bertemu dengan Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Syaikh Islam berkata: ”Terkadang seorang mukmin bisa melihat Allah ketika tidurnya dalam bentuk yang berbeda, sesuai dengan kafasitas keimanan dan keyakinannya. Apabila keimanannya kepada Allah kuat dan benar, maka ia akan melihat Allah dalam bentuk yang baik, tapi bila imannya kurang maka ia akan melihat Allah sebatas imannya itu. Dan penglihatan lewat mimpi berbeda dengan penglihatan ketika tidur. [Majmu’Fatawa juz III/390]

Namun demikian bukan berarti orang yang pernah bermimpi melihat Allah boleh melanggar syari’ah atau dijamin masuk surga, karena tidak ada ketentuan yang demikian dari Rasulullah. Adapun perkataan Ibnu Sirin yang diriwayatkan Ad-Darimi no 249, yang menyatakan: ”Barang siapa yang bermimpi melihat Allah maka akan masuk surga”, tidak bisa dijadikan hujjah, karena tidak adanya sanad yang bersambung kepada Rasulullah, dan tidak seorangpun dari sahabat yang menyatakan demikian.

Rukyatullah fi yaumil Qiyamah
Sebelumnya telah disebutkan bahwa Ahlussunah sepakat bahwa ru’yatullah pada hari kiyamat adalah hak menurut Al-Quran dan Sunnah. Tetapi apakah ru’yatullah pada hari ini khusus bagi orang mukmin saja atau yang lainnya juga?. Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama.
Ruyatullah pada hari kiyamat untuk semua orang baik mukmin maupun kafir.Mereka berhujjah dengan keumumman ayat yang menjelaskan pertemuan dengan Allah seperti ayat:

يَا أَيُّهاَ اْلإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلىَ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاَقِيهِ 

Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh memuja Tuhanmu,maka pasti kamu akan menemui-Nya. [Insyiqa’ : 6]

Kata”Insan” dalam ayat di atas menunjukkan jenis yaitu anak Adam. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari dan Al Qurthubi. Mereka berdalil dengan hadis Abi Said terdahulu, yang menyatakan bahwa manusia akan melihat Allah pertama kali, kemudian dikatakan kepadanya supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah di dunia. Dan ini adalah ru’yah yang umum kepada semua manusia.

Kedua;
Melihat Allah hanya bagi orang menampakan keimanannya baik dia mukmin atau orang munafik. Mereka berdalih dengan hadits Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Allah akan menampakkan diriNya dalam bentuk yang diketahui oleh orang yang menyembahNya, kecuali mereka yang menyembah matahari, bulan dan salib.

Ketiga;
Hanya orang yang mukminlah yang akan bisa melihat Allah, karena Allah mengatakan:

كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat)Tuhannya. [Al Mutaffifin :15]

Dan pendapat inilah yang paling kuat. Adapun pendapat pertama yang menyatakan bahwa semua manusia bisa Ru'yatullah, yang dimaksud adalah yang pertama kali yaitu Ru'yatullah yang umum, tetapi kemudian dihijabi/dihalangi. Ru'yatullah itu juga berbeda. Yang paling hakiki adalah Ru'yatullah di dalam surga yang menjadi tambahan bagi orang mu’min, inilah yang dikuatkan oleh hadits Sa’id Al Khudri: “Kemudian Al Jabbar (Allah) mendatanginya dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk awal mereka melihatNya (Majmu’ Fatawa VI/503)”.

Kesimpulan
Dari pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa Allah tidak bisa dilihat, tetapi tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik, oleh nabi Musa maupun Rasulullah di dunia. Allah hanya bisa dilihat di dunia dengan pandangan hati atau lewat mimpi sesuai dengan kapasitas keimanan dan keyakinannya kepada Allah. Adapun pada hari kiamat Allah akan dilihat oleh seluruh mahluk-Nya. Tetapi Ru'yatullah yang hakiki yang menjadi tambahan kenikmatan, hanya bisa dirasakan oleh orang mukmin setelah mereka masuk kedalam surga.

Ya Allah! perkenankan kami untuk bisa merasakan kenikmatan untuk melihat wajah-Mu yang agung, Amin!

02.28 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Labels