Breaking News:

Negara beragama

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Islam agama sempurna. Islam agama toleransi dan Islam pun agama yang suci. Pluralisme adalah kemajmukan dari sebuah toleransi. Pluralisme kadang menjadi bumerang buat umat Islam. Bahkan ada tokoh yang mengatakan,
" Semua agama benar,".

Lafaz yang keluar dari mulut seorang tokoh itu lebih banyak pengaruh ke masyarakat yang mendengarnya dibandingkan dengan statment dari orang biasa. Agama mengajarkan kebaikan, agama membimbing yang salah tujuan dan agama pun sebagai tiang pegangan.

Tapi, kita mesti bedakan antara jalur sosial dan jalur teologi. Kalau bicara tentang sosial, memang kita mesti saling bantu sebagai makhluk sosial. Mau itu beragama : Kristen, Budha, Hindu. Dalam konteks bermasyarakat memang itulah ajaran agama Islam.

Kita tetap mengatakan, bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah dan selainnya adalah sesat. Itu wajib kita katakan, walau di depan teman atau saudara kita yang tidak se-akidah dengan kita. Jangan mengatasnamakan pluralisme akhinya kita mengatakan semua agama benar. Padahal kita sudah tahu surat Al- Kafirun membantah tentang penghambaan orang Kafir dan Muslim yang tidak sama. Jadi doktrin pluralisme jangan dibawa ke ranah ketuhanan.

Wajib mengatakan, Islamlah agama yang benar. Barat selalu melakukan intervensi dan kontaminasi dari soal ideologi dan akidah. Sampai umat Islam jauh dari Al- Quran dan ajaran Nabi, baru mereka ridha. Negara sejalan dengan Islam dan Islam pun penyanggah negara biar tetap berjalan di atas jalurnya. Yang menyebarkan doktrin pluralisme tiada lain adalah kaum sekularis, menuntut negara untuk mengakui bahwa semua agama adalah benar.

Bagi siapa yang mendukung doktrin pluralisme, maka dia  akan mendapatkan dukungan yang kuat dari berbagai elemen masyarakat yang notabene berbeda agama. Jadi negara beragama itu cita - cita pancasila, tapi bukan berarti semua agama adalah benar. Semua agama mempunyai kasih sayang dan mengajarkan untuk selalu membantu bagi yang memerlukan. Tapi, yang mesti diperhatikan adalah bahwa tidak semua agama bertuhankan satu.


Wallahu a'lam

11.03 | Posted in | Read More »

Gelar " Lc " Tanpa Taring

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Persaingan adalah bagian dari kehidupan. Kita lahir ke dunia pun disebabkan adanya persaingan di antara sperma yang lain. Jadi mengeluh dari beratnya hidup adalah kekalahan. Perjuangan panjang dan lelah adalah suatu proses untuk mengarungi badai masalah yang membuat kita semakin tegar dan semakin kuat. 

Coba kita lihat di sekitar kita, adakah orang yang lebih baik dari kita? Kalau ada, tunjukan bahwa kau lebih hebat darinya. Orang yang lemah adalah orang yang tak bisa menatap masa depan dengan tatapan yang tajam dan meyakinkan.

Di zaman sekarang yang diperlukan itu adalah skill ( keterampilan ) yang kita miliki, bukan hanya sekadar gelar : Lc, MA, PHD, S.Ag, SE dan sebagainya. Buat apa gelar yang banyak itu kalau kontribusi yang diberikan ke masyarakat hanya isapan jempol dan hanya omong kosong.

Teori yang tinggi tanpa aplikasi adalah orang yang kerdil. Jadi kalau ada orang yang belagak seolah pintar dalam semua bidang itu bohong. Sebagaimana yang dikatakan DR. Yusuf Al- Qaradhawi, " Siapa yang berfatwa bukan dibidangnya maka fatwa itu ditolak,".

Zaman modernitas sekarang ini, kita dituntut untuk menguasai satu bidang yang betul - betul kita pakar di dalamnya. Tentu banyak orang mempunyai kualitas yang sama dengan kita malah bahkan di atas kita. Jadi itu seharusnya bukan membuat kita kecil hati, melainkan kita terus mencoba mengasah diri kita untuk terus berkarya dalam bidang kita.

Dunia modernitas adalah dunia kompetitif, bukan zaman orang kaya berkuasa, tetapi orang berilmu sebagai penguasa. Jadi kita selaku manusia yang diberikan otak untuk berfikir, maka kita diwajibkan untuk terus menganalisa.

Dalam ayat Quran Allah berfirman, "ليبلوكم أيكم أحسن عملا " yang artinya : " Untuk menguji siapa yang paling baik di antara kalian amalnya,".
Kenapa ayat di sana menggunakan lafadz" أحسن " Artinya : Paling baik 
bukan  "أكثر" Artinya : Paling banyak ?

Di dalam ayat surat Al-Mulk ini bermakna bahwa Allah itu menyukai kepada manusia yang paling baik amalnya, bukan paling banyak. 

Jadi tendensi dari ayat ini adalah kita mestinya mengutamakan kualitas dari kuantitas. Tentu kualitas itu akan terbentuk kalau adanya saingan yang ketat di antara kita. Contoh : Penjual butik, dia menjual butik dan di sekitarnya tidak ada yang menjual butik, jadi wajar kan kalau butik itu akan terjual laku. Tapi kalau ada saingannya satu dua gerai butik, Jadi dilihat siapa yang paling bagus bahannya dan paling murah itu yang dibeli oleh pembeli. Maka terjadilah persaingan dan menghasilkan kualitas pembuatan.

Apalagi kalau kita lihat sejarah Nabi Muhamad. s.a.w dan para Sahabatnya, ketika dalam majlis selalu ditanya oleh Nabi, " Siapa di antara kalian yang puasa? Siapa di antara kalian yang sedekah? Siapa di antara kalian yang solat tahajud? Dan sebagainya. Pertanyaan itu bermaksud bahwa Rasul mengajarkan kepada kita umatnya  hidup itu penuh dengan kompetisi.

Mari bersama kita bersaing di antara kita untuk menggapai ridha Allah. Jangan kalah sebelum perang. Cari kemampuan apa yang ada dalam diri kita dan setelah itu fokuskan bidang itu sampai kita menjadi pakar. Insya Allah kalau kita seorang pakar, ilmu kita akan bisa dinikmati oleh orang banyak.  

Selamat mengikuti kompetisi Saudaraku...!

Waalahu a'lam.

15.33 | Posted in | Read More »

Aku masuk syurga, Tuhan?!

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Jihad bukan hal yang mudah, jihad bukan mainan kata-kata.
jihad bukan sesuatu yang disenda guraukan.
من مات ولم يغزو ولم ينو الغزو مات على شعبة من النفا ق
artinya : Siapa yang meninggal dan dia belum berjihad di jalan Allah atau tidak punya niat untuk Jihad, maka dia mati dalam keadaan sebagai seorang Munafik.

Di umat Islam masih banyak disinterpretasi dalam memahami hadist Nabi, Ayat Al-Quran khususnya
yang berkenaan dengan hukum jihad dan ketika kapan jihad itu diperlukan.
kita sudah sering mendengar istilah bom bunuh diri, yang sejarah itu bermula dari sesuatu yang sangat mendesak di bumi Palestina untuk melawan agresi militer Israel,
dikarenakan tidak mempunyai senjata untuk melawan Israel atau pun senjata yangterbatas.

di Palestina berperang dengan Yahudi, bukan membunuh sesama Islam sebagaimana terjadi di Bali dan bagian tempat lain di dunia. Banyak yang memahami jihad dengan cara bom bunuh diri adalah sesuatu mulia walaupun yang berakhir dengan banyaknya orang meninggal dari kalangan perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa, bahkan banyak yang meninggal dari umat Islam itu tersendiri.

jadi stigma negatif yang keluar dari non-Islam adalah bahwa Islam itu agama teroris dan agama yang kejam.
padahal Islam sudah mengajarkan bagaimana cara berjihad yang betul sesuai ajaran agama.
memang Nabi pun mengingatkan bahwa ." من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم"
artinya : " Siapa yang tidak perhatian dengan permasalahan- permasalahan saudara se-Islam, maka dia bukan bagian darinya,".

kita tidak boleh diam saja dengan kejadian yang ada di Palestina, Suriah, Myanmar,
mereka disiksa, mereka dibunuh oleh musuh - musuh Allah, yang membuat kita pun marah atas semua itu. Tapi apakah lantas kita melakukan pembomban di tempat - tempat yang tidak ada kena mengena dengan mereka, contohnya pemboman di kereta api atau di diskotik di negara kita?!

sebab kalau kita melakukan pemboman di tempat - tempat yang tidak ada kaitannya dengan pembunuhan yang terjadi di : Palestina, Suriah, Myanmar, Afghanistan lantas kita membom tempat - tempat ibadah agama lain, membom tempat hiburan, yang konon banyak orang Kriten di sana,, bukankah itu dilarang agama?

sejarah masih terkenang di benak kita, ketika orang-orang Romawi Bizantium takluk di bawah kekuasaan Islam dan Umar menerima kunci Yerusalem dari Sophronius, tanpa darah setetes pun yang jatuh di kota suci itu Islam bisa menguasai bumi Yerusalem. dan tidak ada satu pun gereja dihancurkan pada masa itu, maka yang pertama kali di cari oleh Umar adalah tempat solat dan setelah jumpa, maka solatlah umar yang diikuti oleh kaum Muslimin yang lain. Orang - orang Romawi dengan kagumnya berkata, " Kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa.

Nabi  pun bersabda, " لا تقتلوا شيخا فانيا ولا طفلا ولا امرأة".
Artinya : " Janganlah kalian membunuh orang tua renta anak kecil dan perempuan, ".
kalau kita perhatian, dari bom bunuh diri yang terjadi di bali dan pemboman di kereta api di Pakistan atau tempat - tempat lain. Anak kecil banyak yang mati, orang tua, perempuan.
jadi dimana dasar Islam yang mereka miliki sampai berani melakukan itu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, setelah itu mereka berkata dengan bangganya, " Ini jihad dan syurga adalah balasannya, ".

sungguh memilukan, orang - orang melaungkan kata jihad, cuma makna Jihad itu sendiri masih jauh dari pengertian yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, s.a.w.
Allah berfirman, " و قاتلوا فى سبيل اللّه الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن اللّه لا يحب المعتدين,"
Artinya : " Berperanglah di jalan Allah  jika orang orang itu memerangi kalian dan jangan melampaui batas, Allah tidak suka orang yang melampaui batas,".

lihat dari firman Allah ini, indahnya Islam, rahmatnya Islam, santunnya Islam.
kita berperang kalau kita memang diserang, diganggu, dizalimi. Kalau tidak, jangan kita memerangi mereka.
kalau pun mereka memerangi kita, kita membalasnya dengan balasan yang sewajarnya.
tidak melampaui batas. Sebab Allah tidak suka orang yang melampaui batas.

Islam itu indah, janganlah kita kotori dengan kebodohan atas pemahaman jihad kita yang kurang,
kita bicara jihad, mesti tahu esensi dari jihad, mesti faham tujuan dari jihad.
yang ditakutkan dari semua ini adalah ini sebuah propoganda yang dilakukan oleh Amerika
Mereka ingin berikan sebuah opini ke negara - negara dunia, bahwa Islam adalah agama yang kejam dan agama yang tidak mempunyai peradaban.

contoh sederhana di Indonesia, ketika bom Bali, Amrozi mengaku sebagai pembom itu dan bertakbir, Allahu Akbar...
jihad jihad...
yang kita perhatikan, orang seperti Amrozi bisa membuat bom sebesar itu, bahkan dikatakan bom yang sebesar itu hanya dimiliki oleh Amerika dan Inggris.
Amrozi pun berteriak, " Allahu akbar..jihad jihad..!
dan  dengan muka yang tanpa bersalah, dia mengatakan. " Saya pembom dan Saya menegakan agama Allah,".

Membunuh perempuan, anak- anak dan membunuh umat Islam itu menegakan agama Allah?!
membunuh Yahudi atau Kristen pun itu dilarang, selama dia tidak mencoba membunuh kita dan menggangu kita. Islam itu agama rahmat, jangan lukai Islam dengan kata - kata jihad kita yang kosong dari penafsiran..

waallahu a'lam

04.01 | Posted in | Read More »

Dosa Hanya Di Luar Masjid

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Islam agama yang universal. Agama yang agung. Agama yang mulia.
pemikir Islam Muhammad Imarah berpendapat dalam bukunya, Islam Dalam Perspektif Barat :
" Bahwa Islam itu masuk dalam 3 unsur sebagai berikut : Agama, Negara, Peradaban.

Jadi Islam itu agama yang mengurus semua akhlak dan ibadah umatnya.
dan Islam pun mengatur juga dalam aspek kenegaraan. Contoh : haramnya korupsi, skandal sex, ketidakadilan.
tentu kalau agama sudah bersanding dengan negara maka akan tercipta satu peradaban yang besar dan hebat.

Islam tidak bisa dipisahkan oleh ketiga unsur itu, sebab saling berkaitan dan saling memerlukan.
agama tanpa negera itu akan pincang.
sebab negara punya peran penting dalam memudahkan hukum itu teraplikasi
dan negara pun tanpa agama akan hancur, sebab ketamakan manusia tidak terkontrol.

Faham sekularisme yang selalu dipropogandakan oleh Barat. Dan itu adalah penyakit kronis
yang mesti kita buang dari sekitar kita.
contoh faham ini : Di masjid untuk solat dan beribadah, di luar masjid kita boleh maksiat.
sebab dosa dan pahala itu ada di dalam masjid saja, di luar masjid agama tidak bisa menyekat atau melarang itu semua.
faham ini yang kadang masih banyak orang yang menggunakannya.

Secara etimologi sekularisme berasal dari kata
saeculum (bahasa latin), mempunyai arti dengan dua konotasi waktu dan lokasi: waktu
menunjukan kepada pengertian ‘sekarang’ atau ‘kini’, dan waktu
menunjuk kepada pengertian ‘dunia’ atau ‘duniawi’.
Sekularisme juga memiliki arti
fashluddin anil haya, yaitu
memisahkan peran agama dari kehidupan yang berarti agama hanya
mengurusi hubungan antara individu dan penciptanya saja.

sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya
melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini. Tanpa ada
perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti
adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari ajaran agama.
sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah
konsep yang memisahkan antara negara (politik) dan agama ( state
and religion)

Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi
tatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan
yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya
mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan
bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka,
menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing
mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing
haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri.

Sejarah singkat Sekularisme :
Peradaban barat pernah mengalami masa pahit, yang mereka sebut
“the dark ages” atau zaman kegelapan. Zaman itu dimulai ketika Imperium Romawi barat runtuh pada tahun 476 M dan digantikan mulai
munculnya gereja segamai institusi yang menguasai eropa hingga abad 14. Pada selang waktu itu terjadi perubahan besar dalam peradaban
Barat, dimana gereja mendominasi segala aspek kehidupan, terutama
dalam politik dengan pemerintahan teokrasinya.
Sejarah sekularisasi dimulai dari kekecewaan barat terhadap dominasi gereja dalam segi kehidupan masyarakat yang bermula sekitar
250 tahun yang lalu. Proses sekularisasi bermula dari pergolakan
pemikiran dan pertarungan gagasan, seperti dalam kasus Copernicus, Galileo, Darwin dan para saintis lain yang menentang gereja. Begitu juga
dibidang teologi muncul tokoh-tokoh seperti Eichhorn dan Strauss yang menerapkan beberapa metode historis kritis dalam kajian bibel. Jawaban
lainnya berusaha memperjelas sekularisasi dalam rangka modernisasi, seperti perubahan masyarakat dari agraris ke industri dari kehidupan
pedesaan ke perkotaan, dari kebiadaban menjadi peradaban dan seterusnya.


Jadi kalau peradaban Islam mau terus maju, faham sekularisme yang ditularkan oleh Barat jangan kita gunakan di kalangan umat Islam.
sebab racun itu akan terus menjalar dan mematikan. Jadi umat Islam dituntut untuk terus berhati - hati dan waspada dari virus yang akan merusak tatanan hukum agama.

11.31 | Posted in | Read More »

Bermainlah Dengan Kata

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Lidah punya makna, lidah lebih tajam dari pedang.
orang banyak masuk neraka salah satunya sebab lidah. lidah bisa memasukan orang ke dalam neraka dan dengan lidah pun syurga bisa diraih. Orang banyak terpukau dan bersimpati bagi siapa yang punya jiwa sastera yang tinggi.
emas adalah tiap kata - kata yang keluar dari mulutnya.
dan pendengar pun tak pernah bosan ketika mendengarkan bait-bait syairnya.

Sastera zaman Nabi dan sebelum Nabi sangat tinggi pengaruhnya.
sampai orang yang tengah berjalan pun akan terdiam ketika mendengar ada seorang pujangga sedang meluahkan ditiap syair- syairnya.
bahkan orang kaya pun akan memberikan duit yang begitu banyak bagi orang yang pandai dalam memainkan kata -kata.

syair yang keluar dari mulut pujangga itu ada yang sungguh dari luahan hati dan ada pula pujangga yang memang dibayar untuk meninggikan orang yang membayarnya.
Sasterawan sangat diagung -agungkan akan kebesaran dari tiap kata.
Sasterawan bisa merubah langit yang mendung menjadi kembali berawan.
Sasterawan bisa merubah hutan bersemak belukar menjadi tanah yang indah dan menawan.

Nabi ketika masih kecil suka datang ke pasar Ukazd tempat para pujangga memainkan kata, tujuannya untuk melembutkan hati Nabi dan melatih Nabi dalam indahnya kata.
membuat orang tersungkur sujud ketika mendengar kata - kata indah yang memberikan ketenangan hati
dan keluasan jiwa.

Pujangga bagaikan artis yang sangat dipuja  penggemarnya.
Pujangga bagaikan dewa yang disembah oleh para hambanya.
Pujangga bagaikan wanita cantik yang selalu dinikmati keindahan tubuhnya.

Maka Al-Quran pun turun dengan mu'jizat.
Sebab itu Al-Quran melawannya dengan kata-kata. Melawan sombongnya kata dengan kata.
mereka bangga dengan syair yang mereka buat, maka Allah pun yang maha perkasa.
bisa membuat lebih dari apa yang mereka sombongkan itu.

ketika mendengar ayat Al-Quran
maka Zuhair bin Abi Sulma seorang sasterawan terkenal di masa itu mengatakan, " Ini bukan perkataan jin dan manusia dan ini bukan perkataan Muhamad, sebab kata - kata ini sungguh luar biasa,".
bagaimana Al-Quran bisa membuat para sasterawan itu tertunduk malu ketika ditantang untuk membuat sepuluh surat seperti dalam Al-Quran dan mereka tak mampu, maka diringakan untuk buat satu surat saja dan itu pun mereka masih tak mampu.

Padahal mereka begitu bangga dengan syair - syair. 
ternyata tiap kata yang keluar dari pujangga tak bisa menandingi hebatnya Al-Quran.
Allahlah yang maha kuasa.
Dialah yang bisa menaklukan hati para durhaka.
Dialah penjaga langit dan bumi.
Dialah penguasa kata - kata
sebab dialah pencipta kata- kata.

Bergumullah dengan sastera maka kita akan merasakan lembutnya hati.
bermainlah dengan kata maka kita akan selalu menikmati tiap huruf - huruf yang tersusun rapi.
dengan sastera kau bisa raih dunia.
sebab dunia ini tanpa huruf tak akan pernah jadi satu kesatuan makna.

Waalahu a'lam

12.21 | Posted in | Read More »

Aku ceraikanmu abang....!

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Bermain kata adalah tugas kaum Liberalis, bermain ayat Al- Quran masih tugas kaum Liberalis, bermain dengan hadist pun masih hobby kaum Liberalis.

yang berkenaan dengan distorsi interpretasi dari semua hukum Islam adalah mainan kaum Liberalis. Di Indonesia tokoh kaum Liberalis bernama Ulil Abshar Abdalah. Di Mesir terkenal dengan nama Nasr Hamid Abu Zaid. Mereka suka bermain dengan hukum Islam.

mainan dalam interpretasi Al-Quran sesuka dia. Kata menjadi senjata membohongi orang. Kalimat menjadi pisau yang tajam buat menipu orang.
sungguh luar biasa peran dari kaum Liberal di dunia, termasuk yang ada di Indonesia.

Dari penafsiran dengan gaya Hermeneutika, metode apa ini?!
Kajian hermeneutika ini menarik. Bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, termasuk kalangan cendekiawannya,. Hermeneutika adalah metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Jadi ini adalah sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Itulah pertama perlu dicermati secara objektif sebelum bersikap menerima atau menolak harmeneutika.

dengan kata kata yang banyak memukau pendengar, akhirnya banyak yang terpedaya dengan kaum Liberalis dan mengikuti jenis metode hermeneutika ini.
semua dengan kata kata. Makna berubah kalau sudah menggunakan metode hermeneutika dalam penafsiran Al- Quran.
tidak sesuai untuk dinamakan tafsir sebab Jauh dari pondasi kebenaran dalam Islam.

bermula sebagai tradisi Yahudi dalam penafsirannya dan juga metode ini berkembang di Eropa, setelah itu ingin dibawa pula virus itu ke Islam.
sangat jauh dari kebenaran dan nampak sekali kebencian Barat atas kemurnian agama Islam sampai sekarang.

Penulis melihat berita, ada di antara umat Islam di Indonesia masih berasumsi bahwa perempuan berhak untuk menceraikan lelaki : sumber klik
bukankah ini dinamakan doktrin Liberalisme?!
jadi hak perempuan dan lelaki sama, sampai masalah perceraian.
dinamakan dengan sebutan : Equality Gender
bahwa hak laki dan perempuan sama.
bahkan dalam masalah perceraian.

Perempuan punya hak untuk menceraikan lelaki.
doktrin ini sudah sampai ke masyarakat yang kurang mengerti akan pondasi pondasi penting dalam Islam.
Sampai harta warisan mesti sama antara lelaki dan perempuan dan sebagainya.
padahal lelaki menjadi tanggung jawab kepada adik perempuan dan kakak perempuan sampai dia menikah.
duit warisan yang diberikan lebih kepada lelaki itu sebab semua duit yang ada itu mesti dikeluarkan untuk keperluan adik perempuan dan kakak perempuan dia
dan warisan yang didapat oleh perempuan itu disimpan tidak dikeluarkan.

kalau kita melihat dengan sebelah mata, maka kita akan terpengaruh dengan ideologi Barat.
bahwa Islam itu tidak adil, bukankah itu dinamakan 
doktrin yang gila?
kalau orang yang kurang faham agama, mereka akan meng-iya-kan apa-apa yang disampaikan oleh kata- kata busuk dari kaum Liberalis.
sebab mereka bermodal kata - kata dan sedikit hujah lemah atau hadist palsu.

Moga kita sebagai umat Islam tidak ikut terjerumus oleh pemikiran Yahudi yang sudah masuk ke tulang umat Islam di dunia, khususnya Indonesia.

15.25 | Posted in | Read More »

TANDA-TANDA KEHANCURAN PERADABAN BARAT

“Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri yang Kami ceritakan kepadamu. Beberapa di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada yang telah musnah. Dan Kami tidaklah menganiaya mereka; tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (TQS. Hud: 100-101)

“Adapun kaum ‘Aad mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Tapi mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (TQS. Fussilat: 15)


Sejak kehancuran Khilafah Islam pada abad yang lalu, peradaban Barat mulai mendominasi dunia secara politis, militer dan ekonomi. Peradaban Barat menjadi amat bangga akan kemajuan yang dicapainya dan saat ini menyebarkan ideologinya dengan gigih di dunia Islam. Kepada kita dikatakan bahwa Peradaban Barat adalah universal dan merupakan jalan satu-satunya bagi kemajuan dan pencerahan.

Bush berkata, “Peradaban Barat bukanlan nilai-nilai Amerika atau –seperti anda tahu– bukan pula nilai-nilai Eropa. Peradaban Barat merupakan nilai-nilai universal. Karena universal, nilai-nilai itu, seharusnya diterapkan di setiap tempat.” Blair berkata, ”Peradaban kita bukanlah nilai-nilai Barat, ia adalah nilai-nilai universal dari semangat kemanusiaan. Dan di manapun…di manapun, kapan saja, rakyat biasa diberikan kesempatan untuk memilih. Pilihanya adalah sama: kebebasan, bukan tirani; demokrasi, bukan diktator; tertib hukum, bukan hukum dari polisi rahasia.”

Sering kali dikatakan pada kita bahwa peradaban Islam adalah hanya ada dalam lembaran sejarah dan mereka yang menginginkan Islam, syariah, dan Khilafah adalah orang yang berbicara mengenai keterbelakangan dan kegelapan. Namun, apa yang tidak ditunjukkan oleh Barat adalah jurang eksploitasi yang dalam, kekacauan, dan keputusasaan yang telah diciptakan kapitalisme di seluruh dunia.

Propaganda Barat tidak mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradaban ini – suatu masalah yang memang telah jelas bagi kita semua. Ketika mereka menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfitnah peradaban Islam, maka mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan di seluruh dunia.

Percampuran antara materialisme dan kebebasan individu tanpa batas, telah menyebabkan kekerasan yang mewabah, pengunaan obat bius, dan alkohol; mengabaikan orang lanjut usia, kemiskinan, kerusakan pada keluarga, kekosongan spiritual, rasisme, dll, dll.

Penyalahgunaan obat meningkat dengan pesat; juga makin tingginya depresi dan mewabahnya pesta minuman keras. Di Inggris, angka resmi menunjukkan bahwa peminum minuman keras yang “berbahaya dan membahayakan” mencapai angka 7,1 juta orang. Pada dekade lalu, orang yang masuk rumah sakit karena sebab yang berkaitan dengan alkohol telah berjumlah dua kali lipat.

Lebih dari seperlima wanita di Inggris menjadi korban kekerasan seksual ketika meraka anak-anak. Di Negara itu , tiap menit polisi menerima telepon dari masyarakat yang meminta bantuan akibat kekerasan rumah tangga. Satu dari empat wanita di Inggris telah mengalami pemerkosaan atau dicoba untuk diperkosa. Tiap minggu di Inggris, satu hingga dua anak mati karena kekejaman. Satu dari tiga anak-anak hidup dalam kemiskinan. Lebih dari 25 persen dari seluruh pemerkosaan yang dicatat polisi dilakukan terhadap anak-anak di bawah usia 16 tahun. Setengah juta orang usia lanjut diperlakukan dengan kasar, terutama karena tidak mempedulikan mereka. Lingkaran hutang menjerat keseharian masyarakat Inggris .Hutang konsumen di Inggris berada pada angka £ 1.3 triliun, suatu angka yang mengejutkan.

Jurang antara orang kaya dan orang miskin terus melebar. 13,000 keluarga terkaya di Amerika saat ini memiliki pendapatan yang sama dengan 20 juta orang penduduk paling miskin. 13,000 keluarga itu memiliki pendapatan 300 kali lipat dari pendapatan keluarga rata-rata.


Situasi Global

Secara global, peradaban Barat telah menciptkan tata dunia yang tidak adil yang dicirikan oleh imperialisme lewat mekanisme hutang, perdagangan yang tidak adil, dukungan bagi para diktator dan tiran, dan pendudukan yang illegal. Sementara pada saat yang sama mengurangi kebebasan sipil di negara mereka sendiri dengan cara menteror rakyatnya sendiri.

Mereka berbicara soal penentuan nasib sendiri dan demokrasi, tapi mendukung diktator di seluruh dunia Islam seperti Mubarak dan Karimov dan mencegah keinginan masyarakat kepada Islam, syariah dan Khilafah.

Mereka berbicara soal supremasi hukum dan perdamaian di Timur Tengah, namun kenyataanya mereka menjajah dan menjarah; menduduki negeri orang lain. Seperti yang terjadi di Irak di mana mereka membunuh lebih dari 650,000 ribu jiwa.

Mereka berbicara soal keringanan hutang, tapi telah memperbudak seluruh negera di bawah belenggu IMF dan Bank Dunia. Mereka berbicara soal pemberantasan korupsi tapi menyogok ratusan juta dollar kepada para penguasa di negeri-negeri muslim untuk mendapatkan kontrak dagang.

Mereka berbicara soal HAM, tapi Guantanamo Bay, Abu Ghraib, Patriot Act, Undang-undang anti-terroris yang tersamar, menghentikan dan menggeledah, penahanan, penyiksaan, penawanan tanpa peradilan, penculikan dan pengiriman tersangka untuk ditahan dinegara-negara yang merupakan rezim brutal , interogasi yang brutal dan perang-perang yang illegal dan imperialistik adalah bukti-bukti atas sebuah peradaban yang telah memasuki kemunduran yang permanen.

Nilai-nilai, prinsip, dan tradisi dari peradaban Barat telah dijual murah senilai 30 keping perak – Negara-negara Barat saat ini telah kehilangan otoritas moralnya.


Propaganda Yang Gagal

Peradaban Islam (saat ini) tidak memiliki negara yang mengembannya. Ia juga tidak memiliki tentara dan senjata untuk mempertahankannya. Sementara, peradaban Barat dilengkapi dengan senjata, tentara, teknologi, dan dominasi politik, militer dan ekonomi. Namun, walaupun semua itu dilakukan, propaganda pemerintahan Barat mulai memudar.

Kaum Muslim yang tinggal di Barat, yang tiap hari dicekoki kapitalisme, saat ini semakin bersatu dengan kaum Muslim di Dunia Islam untuk menentang kebijakan (kapitalistik), melawan pendudukan, melawan upaya memecahbelah negeri-negeri kita, melawan campur tangan asing, demi tegaknya syariah, demi tegaknya Khilafah, dan seterusnya.

Bahkan propaganda Barat yang anti Islam tidak mampu membendung -bahkan kaum non-Muslim- yang mulai menghargai Islam sebagai sebuah agama dan sebuah sistem. Beberapa di antaranya masuk Islam dan berjuang untuk Islam, sementara yang lainnya tidak lagi mempercayai propaganda pemerintah mereka. Seorang wanita yang masuk Islam setelah Peristiwa 11 September, dia mengatakan bahwa sebelum ‘perang melawan teror’ dia tidak mengetahui siapakah Muhammad SAW, tapi saat ini dia ridho mempertaruhkan nyawanya untuk Rosulullah saw.

“Dan ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu (dari rumahmu). Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (TQS. Al-Anfal: 30)

Wahai Muslimin dan Muslimat!

Walaupun negara kita tidak ada pada saat ini, akhir segalanya akan berpihak pada peradaban Islam, karena peradaban Barat didasarkan pada kebatilan dan peradaban Islam didasarkan pada kebenaran. Allah SWT berfirman:


”Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.”

(TQS. Al-Anbiya:18)

Wahai Muslimin dan Muslimat!

Kekalahan Peradaban Barat terbukti dari tindakan-tindakannya yang menunjukkan keputusasaan. Pendudukan, penyiksaan, penahanan, propaganda, bukanlah tindakan-tindakan dari peradaban yang kuat, melainkan tindakan dari peradaban yang sakit.

Propaganda melawan Islam, pengemban syariah, Khilafah, dan dakwah adalah karena pemerintah-pemerintah Barat mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi kebangkitan kembali Islam di seluruh dunia. Tindakan mereka seperti usaha membuat parit yang terakhir dari peradaban kapitalis yang sedang tenggelam.

Maka, kokohkanlah keyakinan anda, berikan loyalitas anda kepada Dien (Al-Islam) dan Umat. Jangan biarkan penyesatan yang membuatmu lemah, karena tingkatan ini hampir usai. Tidak lama lagi, situasi akan berubah cepat. Tanda keberhasilan perjuangan menuju Khilafah semakin nampak jelas. Tahapan menuju kemenangan sudah semakin mendekat dari hari ke hari.

Keimanan kita pada Allah SWT adalah sangat besar dan harapan kita akan kemenangan yang dekat ini tidak tersentuh bahkan dengan sebuah ucapan. Dan Allah SWT maha berkuasa atas segala urusan-Nya, tapi kebanyakan manusia tidak tahu, dan Dia, segala puji bagiNya, berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.”. (TQS. An-Nur [4]: 55)

sumber :klik

10.33 | Posted in | Read More »

SEJARAH KOMUNIS DI INDONESIA

Versi resmi pemerintah Hindia Belanda dan juga Pemerintah Indonesai saat ini menyebut bahwa Revolusi 1926 atau Pemberontakan tahun 1926 adalah pemberontakan komunis. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang pemberontakan ini perlu dijelaskan kehadiran komunisme di Indonesia dan kaitan dengan revolusi tersebut ( sejarah lahirnya komunis sampai melakukan pemberontakan tersebut )
1. Kondisi di Indonesia secara Umum
2. Masuknya Komunis di Indonesia
3. Perkembangan Komunis di Banten & sumatera ( tempat terjadinya pemberontakan 1926 atau yang lebih dikenal dengan Revolusi 1926 )

Kondisi Di Indonesia

Kaum petani menderita akibat penjajahan Belanda dalam banyak segi, yang pertama dan paling berat adalah mereka menedita akibat diterapkannya bentuk perpajakan. Ironisnya, beban pajak menjadi lebih berat pada zaman diterapkannya kebijakan “etis” (liberal), yang diadopsi oleh administrasi kolonial pada pergantian abad ke-20, ketika dibangun infrastruktur yang dibiayi pajak. Kebijakan tanam paksa yang mengharuskan petani menanam tanaman keras merupakan beban lain yang ditanggung petani dan memusnahkan kebebasan petani (kebijakan ini kemudian dihapuskan). Sewaktu itu petani terpaksa menjadikan sepertiga sampai setengah tanah mereka tersedia untuk dipakai perkebunan gula. Karena dipaksa bayar pajak, makin banyak tanah dipakai, dan petani makin terpuruk dalam kemiskinan dan makin tergantung pada sistem kapitalis.

Borjuasi kecil pribumi di perkotaan sangat lemah, sebagian besarnya pedagang (banyak keturunan Tionghoa), dan bagian kecil pegawai. Tanpa industri yang berkembang, kaum buruh kecil sekali. Buruh terpusat di sektor pemerintahan dan transportasi yang dimiliki oleh swasta, yaitu kereta api dan trem.

Dengan tidak adanya oposisi politik yang berarti sebelum perang dunia pertama, kekuasaan Belanda sempat bertindak agak liberal, tetapi bersifat paternalistik, meskipun kebebasan pers dan berorganisasi senantiasa tidak mutlak. Ketika perjuangan mulai timbul di kaum petani, buruh dan kelas menengah, segala kebebasan ini langsung dicabut.
Kemelaratan dan represi politik, hanya dibungkus oleh tabir toleransi liberal yang tipis, merupakan ciri utama rakyat Indonesia pada tahun-tahun awal abad ini. Hampir seluruh rakyat buta huruf, dan berbagai penyakit tersebar luas mayoritas rakyat berada di bawah pengaruh kuat agama (Islam) dan kebudayaan tradisionil. Feodalisme yang ada sebelum penjajahan diidolakan. Bersamaan dengan itu kapitalisme dan pengalaman pejuangan kelas mulai merubah sikap kaum muda, dan khususnya kaum buruh. [1]

Pendidikan modern mengajarkan kelas menengah untuk mempersoalkan kekuasaan Belanda Tetapi untuk merekrut anggota sebanyak mungkin ke dalam suatu organisasi ternyata relatif tidak semudah yang diperkirakan. Walaupun minimal secara teori memihak jelata, tetapi bagaimanapun juga komunisme masih terkesan asing karena berasal dari Barat, tepatnya oleh dua orang Jerman yaitu Karl Marx dan Friedrich Engels. Ini mungkin sulit dicerna oleh bangsa Indonesia yang berbangsa dan bernorma Timur, minimal pada saat itu.

Indonesia adalah negara agraris. Jauh sebelum bangsa ini merdeka, sumber daya pertanian selalu menjadi komoditas utama. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri apabila dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani.[2]Mengenai klasifikasi sosial petani, menurut keadaan pertanian di Jawa dapat dibedakan menjadi beberapa kelas sosial, yakni Petani Kaya, Petani Sedang, Petani Miskin, dan Buruh Tani[3]. Laporan Dr. J. W. Meyer Rannet tahun 1925 tentang kemakmuran rakyat yang diambil dari penyelidikan di sejumlah daerah di Jawa, melihat petani berdasarkan penghasilan penduduk menurut pembagian golongan pekerjaan. Data itu melaporkan bahwa golongan petani tak bertanah berjumlah 37,8% dari seluruh penduduk. Dan bila dijumlahkan dengan penduduk miskin, maka jumlahnya menjadi 65% dari seluruh penduduk desa.

Perjuangan di Indonesia pada waktu itu lebih banyak melalui pendekatan politik, banyak berdiri organsiasi – organisasi kepemudaan yang memperjuangkan nasib rakyat melalui politik, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dsb. Banyak organisasi islam dan nasionalis. Pemimpin yang terkenal pada waktu itu adalah pemimpin nasionalis. Tetapi walaupun banyak organisasi yang berdiri ternyata tidak banyak memberikan kontribusi yang bersifat langsung terhadap kondisi rakyat pada saat itu. Nasib rakyat tidak kunjung berubah.



Masuknya KOmunis ke Indonesia
Berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging)

Faham komunis masuk ke Indonesia oleh HFJ Sneevliet (1883-1942) tahun 1913[4]. Sebagaimana di negeri-negeri lain, yang tertarik pada faham komunis umumnya adalah kaum jelata karena memang faham ini konon untuk membela kaum jelata dan menjadikan kaum elit sebagai musuh. Adapun basis pendukungnya adalah buruh dan tani. Di Indonesia, jelas faham komunis mendapat lahan yang subur. Tatanan kolonial menjadikan bangsa Indonesia sengsara di negeri sendiri, selain miskin juga tertindas. Sneevliet membentuk organisasi bernama ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) tahun 1914.[5]

Atas prakarsa Sneevliet pada tahun 1914 didirikan Persatuan Sosial Demokrat Indonesia (ISDV), yang pada awalnya terdiri dari 85 anggota dua partai sosialis Belanda (Partai Buruh Sosial Demokrat yang berbasis massa di bawah kepemimpinan reformis, dan Partai Sosial Demokrat yang merupakan cikal bakal Partai Komunis, terbentuk setelah perpecahan politik dengan SDAP di tahun 1909)

Sejak mulanya tendensi revolusioner mengendalikan ISDV, sikapnya militan terhadap isu-isu lokal (misalnya, kampanye mendukung seorang jurnalis Indonesia yang diadili karena melanggar hukum pengendalian pers, dan juga mengadakan rapat umum menentang persiapan perang yang dilakukan oleh pemerintah Belanda) dan selain itu ISDV juga melibatkan diri dalam pergerakan nasional. Pada tahap itu orang Eropa anggota ISDV Belanda boleh masuk Insulinde sebagai anggota individual. Pimpinan Insulinde dan Sarekat Islam bersifat kelas menengah, tetapi senang dan bersyukur menerima bantuan dari ISDV, dan hanya kaum sosialis siap membantu pada saat itu.

Namun demikian, tak terelakkan konflik mulai timbul antara kepemimpinan ISDV dan Insulinde, dan juga di dalam ISDV sendiri. ISDV menegaskan bahwa pejuangan melawan penjajahan Belanda harus didukung kaum sosialis, dan menyatakan bahwa hal ini mencakup perjuangan melawan sistem kaptialis. Pimpinan kelas menegah Insulinde (seperti para pemimpin SI kemudian) secara naluriah menolak dengan keras pikiran itu, dan mengedepankan “teori dua tahapan”. Dalam ISDV sendiri aliran refomis meninggalkan partai itu di tahun 1916 dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP), yang dalam waktu singkat langsung dekat dengan pemimpin kelas menengah nasionalis. Di sisi lain, ISDV makin digemari dan dihormati kaum militan Indonesia karena berani dan berprinsip dalam hal politik lokal. Walaupun diserang para pemimpin nasionalis karena banyak yang berketurunan Belanda, hal ini tidak merupakan rintangan dalam perjuangan membangun organisasi revolusioner, dan merebut dukungan massal.

Banyak masalah sulit yang dihadapi oleh ISDV di periode awal bangkitnya gerakan politik massa ini. Pada 1915-18 penguasa Belanda menanggapi gerakan massa yang tumbuh dengan mendirikan semacam “Volksraad” yang bertujuan membendung militansi massa. ISDV – berlawanan dengan pimpinan nasionalis dan ISDP – pada mulanya memboikot badan ini, tetapi kemudian membatalkan keputusan itu ketika mulai jelas bahwa Volksraad itu dapat dimanfaatkan sebagai medan propaganda revolusioner.

Sneevliet juga memegang peran penting dalam Serikat Staf Kereta Api dan Trem (VSTP), pada saat itu kecil saja, dan sebagian besar anggotanya berkulit putih. Sneevliet mengarahkan VSTP kepada bagian besar buruh yang pribumi, dan pada saat bersamaan berusaha menguatkan struktur organisasinya dengan menegaskan pentingnya pengurusan cabang cabang yang baik, juga konperensi tahunan, penarikan sumbangan anggota, dsb. Dalam jangka waktu singkat anggota serikat ini menjadi dua kali lipat, dan sebagian besar pribumi. Kesuksesan VSTP meraih hormat bagi gerakan sosialis, dan memungkinkan Sneevliet merekrut para aktivis buruh ke dalam ISDV. Yang terpenting di antaranya adalah Semaun, seorang pemuda buruh perusahaan kereta api yang pada tahun 1916 (saat berusia 17 tahun), menjadi kepala Serikat Islam di Semarang, dan di kemudian hari menjadi tokoh penting dalam PKI.

Liberalisme Belanda tidak mendorong perjuangan buruh. Pemogokan dibalas dengan PHK massal, pembuangan para aktivis ke pulau-pulau terpencil, dan tindakan apa saja yang perlu untuk menghancurkan gerakan buruh. Dalam periode itu jarang sekali pemogokan buruh menemui kesuksesan, dan tidak mungkin berhasil memengaruhi perjuangan luas. Dilawan oleh majikan yang kuat, terbatas kemungkinan memajukan kondisi kaum buruh lewat perundingan.

Meskipun demikian gerakan serikat buruh bertahan dan berkembang. Kenyataan ini hanya bisa diterangkan dengan kekuatan dan daya tahan kaum buruh, dengan tumbuhnya jumlah dan pengalaman kaum buruh, dan di pihak lain, diterangkan oleh kenyataan bahwa perjuangan serikat buruh] tidak dapat dipisahkan dari perjuangan yang lebih luas yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dalam melawan penindasan dan penghisapan pemerintah Belanda.

Sebagian besar kaum petani tetap mengikuti adat dan agama, kelihatannya pasif kalau ditindas, petani pada waktu itu pandangannya terbatas oleh kepentingan dan masalah kehidupan desa, tidak dapat diharapkan menunjang program sosialis dengan pemikiran yang termaju. Kaum petani hanya bisa memihak segi program sosialis yang merefleksikan kepentingan kaum tani sendiri, dan memihak perjuangan militan yang membantu tuntutan itu. Namun dukungan seperti itu juga biasanya sporadis, ekspolsif, dan tidak lengkap, selaras dengan karakter kaum tani sendiri – yaitu suatu kelas yang heterogen, produsen kecil yang terisolir, dan yang menurut kepentingan sendiri. Oleh karena itu kaum petani mungkin memihak kaum buruh, tetapi juga mungkin memihak demagogi kaum nasionalis, mistik agama atau aliran lain yang menawarkan pemecahan segera bagi persoalan kongkrit yang mereka hadapi.

Faktor lain yang penting di Indonesia, sebagaimana juga hal ini terjadi di dunia kolonial secara umum, ialah kelas menengah yang berpendidikan dan berharta milik – meskipun kecil, mereka ini adalah kekuatan yang signifikan. Kelas menengah juga sulit memihak program kaum buruh karena hanya bergerak di bidang politik untuk menahan kepentingan sendiri kepentingan borjuis, meskipun bertentangan dengan imperialism. Perjuangan bersama mungkin dilakukan antara kelas buruh dan kelas menengah hanya karena keduanya menghadapi musuh imperialisme, tetapi tujuan fundamenatal dan metode kelas menengah berbeda dengan tujuan dan metode kelas buruh. Kelas menengah, atau bagian-bagian darinya, dapat meninggalkan pemikiran bersifat utopis dan dan program reaksioner mereka hanya sebab mereka akhirnya mulai insaf bahwa tidak ada pilihan lain yang praktis, namun kemungkinan ini akan lama prosesnya serta sangat kontradiktif dengan kelas menengah sendiri. Mulanya kelas menengah akan berkembang secara terpisah dari gerakan kelas buruh dan, karena menyuarakan keluhan semua lapisan yang tertindas, mereka bisa memperoleh dukungan massal. Karena berpendidikan dan agak makmur, mereka agak jauh dari kehidupan orang biasa, tetapi oleh karena itu pula mereka makin yakin dan pandai, dan makin berwibawa di mata kaum petani dan sebagian kaum buruh yang terbelakang.

Walaupun makin berpengaruh, ISDV – seperti PKI kemudian – tetap merupakan organisasi kecil. Jumlah anggota ISDV naik dari 103 tahun 1915 (dengan hanya tiga anggota pribumi) menjadi 330 di tahun tahun 1919 (300 pribumi). Dalam arti ini ISDV menjadi partai kader – partai para aktivis dan pemimpin yang kuat dukungan di serikat buruh, di perkotaan, dan juga pedesaan. Orientasi kelas ISDV paling jelas terrefleksi dalam kedudukannya yang kuat di dalam gerakan serikat buruh. Ferderasi pertama serikat buruh, didirikan pada tahun 1919, terdiri dari 22 serikat, dan anggotanya berjumlah 72,000, dan sebagian menurut ISDV, dan bagian lain memihak pimpinan nasional SI. Sesudah berberapa tahun kontrol pimpinan SI yang kurang cakap mengalami perpecahan, kecuali di berberapa serikat pegawai (pekerja kerah putih).

Kewibawaan ISDV dicerminkan juga dengan dukungan massa terhadapnya di dalam tubuh SI sendiri. Dengan mengingat populasi Indonesia, jumlah penganut itu merupakan langkah awalan saja yang secara praktis perlu dikonsolidasikan sebagai simpul di setiap daerah yang kemudian menjadi dasar gerakan nasional yang didukung oleh jutaan orang, dengan intinya kader Marxis. Jika kondisi begini sudah tercapai barulah mungkin menempatkan ikhwal perebutan kekuasaan ke dalam agenda partai.

Dalam pengertian perspektif dan teoris, di satu sisi, sebagai organisasi kader ISDV amat lemah. Pengusiran Sneevliet dari Indonesia pada tahun 1918 meninggalkan jurang tak terjembatani di pucuk pimpinan organisasi itu. Tidak ada pemimpin, baik keturunan Belanda maupun pribumi, walaupun trampil sebagai pejuang revolusioner, memiliki pengalaman dan pemandangan marxis yang cukup luas untuk mengemudikan partai secara tepat saat menghadapi tikungan yang tajam dan mendadak.

Potensi revolusioner ISDV yang gemilang pada era itu ditunjukkan tahun 1917-18, saat partai itu segera mendukung Revolusi Rusia dan dengan cepat menarik implikasi revolusi itu bagi revolusi di negara Eropa dan Indonesia sendiri. Belajar dari pengalaman Rusia, ISDV mulai mengorganisir serdadu dan pelaut di Indonesia, dan dengan usaha itu berhasil menarik pengikut sekitar 3,000 orang di angkatan bersenjata Belanda.

Pada akhir tahun 1918, saat Belanda di ambang revolusi, pemerintah kolonial bingung karena kelihatannya mungkin ada perebutan kekuasaan revolusioner di Belanda, dan mungkin sesudahnya di Indonesia juga. Pada saat itu sosial demokrat Belanda kehilangan keberaniannya. Pemerintah kolonial menjanjikan berberapa perbaikan situasi, dan situasi revolusioner reda.

Situasi di Indonesia pada tahun 1918-19 penuh gejolak, karena kisis ekonomi menghantam para pekerja dan timbulkan perlawanan dengan kekerasan di kalangan kaum tani. Kejadian ini melatarbelakangi pertumbuhan ISDV/PKI secara massal, dan juga menyebabkan reaksi dari segi pemerintah.


Memecah SI

Indonesia adalah Negara yang penduduknya mayoritas beragama islam. Corak agamis dan anti kolonial jelas menjadi daya tarik kuat bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam organisasi yang beraliran islam. Salah satu organisasi islam yang besar adalah Sarekat Islam. Di bawah pimpinan sosok kharismatis H. ‘Umar Said Tjokroaminoto (1882-1934) organisasi SI kian berbobot. Tokoh ini sudah pernah berurusan dengan aparat hukum kolonial karena faham anti kolonial yang jelas. Pada masa itu berurusan dengan aparat dalam arti melawan penguasa dapat menaikkan martabat dalam pandangan rakyat. Tentu saja juga memiliki resiko besar, termasuk nyawa taruhannya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, kaum komunis menempuh cara licik. Pendekatan Sneevliet dilakukannya melaui pimpinan SI Semarang yakni Semaun dan Darsono Mereka tidak merasa perlu bersusah payah meraih pengikut dari warga yang belum menjadi anggota suatu partai, tetapi mencoba menyusup masuk Sarekat Islam dan menggembosinya. Dan hasilnya memuaskan, banyak anggota SI yang terpengaruh. Dengan bantuan Semaoen –tokoh SI yang kelak menjadi tokoh senior PKI– organisasi SI pecah menjadi SI Putih dan SI Merah sebagai akibat pembelotan para anggotanya. Tjokroaminoto bersikap tegas dengan kebijakan larangan beranggota ganda. Melalui pengaruhnya dalam SI dan serikat-serikat buruh, ISDV mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan ISDV juga disebabkan infiltrasi ke dalam tubuh SI yang dianjurkan oleh Sneevliet kepada pengikutnya untuk merangkap sebagai anggota SI. Bahkan pada tanggal 25 Desember 1919 tercapai persetujuan dengan SI yang menghasilkan pembentukan ”Persatuan Pergerakan Kaum Buruh yang meliputi 22 Serikat Buruh dengan 72.000 anggota yang sebagian besar terdiri dari buruh Central Serikat Islam (CSI) Semarang Sebelum munculnya Serikat Islam juga sudah banyak terbentuk serikat-serikat buruh yang menjadi wadah perkumpulan dan konsolidasi kepentingan mereka.
Bergolaknya Internal ISDV menentang Pengembosan terhadap SI dan menggunakan pendekatan thd islam untuk menarik massa

Bagi SI, penggembosan tersebut merupakan pukulan berat. Anggotanya berkurang drastis. Namun penggembosan itu juga mendapat tantangan dari intern PKI sendiri. Ibrahim Tan Malaka (1897-1949), aktivis kemerdekaan asal Minangkabau adalah penentang penggembosan. Dia pernah belajar di Eropa sekaligus aktif dalam gerakan kemerdekaan. Kritik pada pemerintah Belanda ketika berada di Belanda menyebabkan dia berurusan dengan aparat. Proses hukum yang dijalani menaikkan martabatnya.

Tan Malaka pernah dicalonkan sebagai anggota parlemen oleh Partai Komunis Belanda, tidak jelas apakah terlaksana. Pada awalnya dia terkesan oleh kemajuan teknologi di negara kapitalis Amerika Serikat dan Jerman. Tetapi sukses Revolusi Bolshevik yang membawa kaum komunis berkuasa di Rusia berakibat dia condong pada komunisme.

Tetapi juga perlu diketahui, diantara sekian banyak tokoh PKI, Tan Malaka yang paling moderat. Dia tidak menerima begitu saja semua doktrin komunis. Praktek komunisme harus disesuaikan dengan keadaan di Indonesia, jangan dibiasakan menjiplak begitu saja pengaruh dari luar. Tan Malaka misalnya tidak setuju dengan faham atheis, doktrin “agama adalah candu” tidak masuk akal baginya.

Tan Malaka pernah menentang pendapat Komintern (Komunis Internasional) yang menyatakan bahwa gerakan Pan Islam adalah bentuk baru imperialisme. Tan Malaka menegaskan bahwa Pan Islam juga anti imperialisme. Tan Malaka mengingatkan komunis untuk mengakui fakta bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim yang jelas memiliki potensi melawan imperialisme. Maka, yang harus dilaksanakan komunis adalah merangkul kekuatan agamis, bukan memusuhi. Jelas, bahwa menggembosi SI dapat melemahkan perjuangan anti imperialisme. Usulannya gagal diterima. Kegagalan lainnya adalah mencegah PKI ikut perlawanan militer yang kita kenal dengan Revolusi 1926 karena dia menilai PKI masih lemah

Tragisnya, ketika revolusi tersebut gagal Tan Malaka dipersalahkan oleh PKI sebagai penyebab kegagalan. Merasa tidak cocok dengan PKI dia memilih keluar dan membentuk PARI (Partai Republik Indonesia) (1927) dan pada zaman Revolusi 1945 membentuk Partai Murba. Kelak Partai Murba menjadi lawan tangguh PKI.

Setelah mendapat pengikut dari penggembosan SI, PKI semakin giat menambah pengikut dan melaksanakan program. Berbagai pemogokan dan kerusuhan terjadi. PKI meraih banyak pengikut dari pegawai kereta api, mereka membentuk organisasi bawahan (onderbouw) khusus untuk pegawai kereta api. Organisasi bawahan lain juga dibentuk sesuai profesi semisal buruh perkebunan, tani dan sebagainya.

Rezim kolonial menyaksikan ini dengan cemas, tindakan tegas dilaksanakan. Banyak orarng-orang komunis yang ditangkap, rapat dan demonstrasi dibubarkan serta berbagai dokumen di sita atau dimusnahkan. Namun kegiatan PKI belum berhenti dan cenderung semakin garang. Aktivis kemerdekaan lain juga terkena dampaknya.

Keberanian tersebut relatif cepat mendapat simpati rakyat yang memang muak dengan rezim kolonial. Mereka kurang peduli dengan latar belakang PKI sesungguhnya, yang dibutuhkan rakyat adalah pembangkit keberanian melawan. Sesungguhnya bukan PKI yang pertama dituduh terlibat pemberontakan, SI pernah dituduh terlibat hal itu dan beberapa tokohnya sempat ditangkap. Mungkin PKI berusaha meniru SI untuk mendapat simpati sebanyak mungkin.

Di antara yang simpati adalah kelompok agamis dan inilah yang diharapkan PKI ketimbang kelompok nasionalis. Para ulama memiliki pengaruh yang tak dapat diremehkan di tengah masyarakat yang masih menempatkan agama atau perkara ruhani sebagai hal sangat penting dalam hidup dan mati.

Supaya makin berbobot di tengah masyarakat bercorak demikian, sadar tidak sadar PKI menempuh cara yang diusulkan Tan Malaka, bahwa kelompok agamis memiliki potensi besar melawan kolonial sehingga perlu dirangkul. Maka, para propagandis menyebar ke berbagai pelosok mendekati para ulama. Dengan lihai mereka menjelaskan persamaan nilai-nilai agamis dengan komunis, antara lain faham sosialisnya. Para propagandis menjelaskan bahwa agamis dan komunis sama-sama memihak kaum jelata, hanya istilahnya yang berbeda. Komunis memiliki istilah proletar dan agamis memiliki istilah dhuafa. Bahkan di Banten, PKI menampilkan gaya yang aneh, fanatik dengan agama. Sikap aneh tersebut juga ditampilkan di wilayah Surakarta oleh H. Misbakh, dia menyebarkan konsep “Komunisme Islam” dan sempat menggerakkan kerusuhan.
Berganti nama Menjadi Partai Komunis Indonesia

Perkembangan ISDV berlanjut dengan pergantian nama menjadi Perserikatan Komunis Indonesia pada tanggal 23 Mei 1920. Dalam pertemuan tanggal 23 Mei itu juga memilih Semaun sebagai Ketua dan Darsono sebagai Wakil Ketua. Selain Semaoen, ada 2 tokoh SI bergabung dengan PKI yang juga menonjol yaitu Alimin Prawirodirdjo (1889-1964) dan Moeso (1897-1948). Kemudian atas usul Moskow, nama Perserikatan diubah menjadi Partai. Tahun 1924 nama Perserikatan Komunis Indonesia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Melihat perkembangan kaum komunis yang sedemikian pesat dan dianggap membahayakan, pimpinan Serikat Islam yang bukan komunis seperti Agoes Salim dan Abdul Moeis mengusulkan diterapkannya disiplin keanggotaan rangkap untuk membendung pengaruh komunis. Pertentangan di dalam tubuh SI melahirkan perpecahan dengan dibentuknya Serikat Islam Merah oleh kaum komunis pada tahun 1923. Selanjutnya SI Merah berubah nama menjadi Serikat Rakyat. Pada perkembangan awal, PKI telah berusaha bergerak di kalangan petani. Hal itu didasarkan kepada keputusan konferensi Kota Gede (Yogyakarta) pada bulan Desember 1923 yang menghendaki agar Serikat Rakyat dipergunakan untuk melakukan hal tersebut. Walaupun sebenarnya hal ini merupakan penegasan atas anjuran Lenin kepada Bangsa-bangsa Timur yang disampaikannya pada bulan November 1919:

”… Di hadapanmu terletak suatu tugas yang tidak pernah dihadapi oleh komunis di seluruh dunia…, kamu harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan-keadaan istimewa yang tidak terdapat di negeri-negeri Eropa dan hendaknya dapat mengenakan teori dan praktek pada keadaan-keadaan di mana massa pokok adalah petani..”[6]

Apabila kita sedikit mengamati, PKI yang pada awalnya lebih memfokuskan gerakan dengan menggarap kaum buruh sebagai basis gerakannya justru mengalihkan fokus gerakan dengan menggarap kaum petani, terutama setelah dibentuknya Serikat Rakyat. Gerakan protes terhadap pemerintah kolonial yang dilakukan serikat-serikat buruh yang disponsorori oleh PKI dianggap lebih membahayakan oleh pemerintah kolonial dibandingkan gerakan yang digalang oleh Serikat Islam. Hal itu bukan didasarkan oleh bentuk gerakan yang mereka lakukan, tetapi karena melihat tujuan politik PKI yang lebih luas. Namun, pemimpin PKI menganggap bahwa gerakan dengan menggunakan serikat-serikat buruh sebagai kendaraan politik memiliki beberapa kelemahan terutama mengenai karakter buruh sebagai masyarakat yang dapat langsung berhubungan dengan pengaruh luar sehingga dapat membuat kegoncangan. Selain itu, alasan utama lainnya adalah perbedaan kesadaran sosial dan politik antara kaum buruh di Eropa dengan di Indonesia.Oleh karena itulah PKI lebih condong untuk mengutamakan kaum petani sebagai basis kekuatan politiknya. PKI lebih melihat petani sebagai lapisan masyarakat yang tidak langsung berhubungan dengan pengaruh dari luar, tetapi mereka mengetahuinya dari pemimpinya masing-masing.

PKI Cabang Banten

Sejak awal berdiri ISDV tidak pernah membuka cabang di Banten, meskipun dua orang anggota eksekutifnya yakni Hasan Djajdiningrat dan J. C. Stam tinggal di sana. Awal mula kemunculan PKI di Banten, tidak dapat dilepaskan dari peran yang dimainkan oleh R. Oesadiningrat, seorang karyawan Stasiun Kereta Api Tanah Abang yang dipecat oleh otoritas kolonial yang kemudian aktif di Sarekat Buruh Kereta Api (VSTP) sebagai pengurus harian penuh. Dalam kedudukannya sebagai pengurus VSTP, Oesadiningrat kemudian menggelar rapat akbar sebanyak tiga kali yang dihadiri oleh tokoh PKI terkemuka. Pada bulan Agustus 1924, ia kembali menggelar rapat akbar di Pandeglang dengan tujuan hendak mendirikan Sarekat Rakyat.

Pertumbuhan PKI di Banten terjadi begitu cepat karena pada tahun 1924 baru ada dua orang anggota PKI yang tinggal di Banten. Dalam jangka waktu dua belas bulan, anggota PKI di Banten berjumlah ribuan orang dan terus bertambah pada tahun 1926. Pertambahan anggota PKI yang begitu pesat disebabkan sejak tahun 1925, perantau dari Banten semakin banyak yang kembali ke kampong halamannya dan di antara mereka telah ada yang menjadi anggota PKI.

Beberapa perantau ini berkedudukan sebagai agen propaganda untuk mendirikan cabang PKI di Banten. Salah seorang di antara mereka adalah Tubagus Alipan yang diminta oleh Darsono untuk mendirikan PKI Cabang Banten. Bersama-sama dengan Puradisastra, Tb. Alipan kemudian melakukan upaya untuk mendirikan PKI Cabang Banten. Kedua orang agen propaganda PKI ini kemudian dibantu oleh Achmad Bassaif yang fasih berbahasa Arab. Mereka bertiga kemudian menjadikan Islam sebagai senjata propagandanya. Dalam propagandanya itu, pengertian komunis ditekankan sebagai usaha menentang Belanda dan dipersamakan dengan perang sabil. Hal tersebut kemudian dipertegas oleh Alimin dan Musso yang datang ke Pandeglang sekitar tahun 1925. Di hadapan massa, kedua tokoh PKI ini menguraikan secara panjang lebar soal-soal perjuangan bangsa menghadapi penjajahan Belanda. Dengan demikian, dalam usahanya mendapatkan dukungan dari rakyat Banten, para proganda PKI menghilangkan pengertian komunisme, tetapi kemudian lebih mengedepankan persamaan perjuangan antara Islam dan PKI. Oleh karena itu, para ulama Banten tidak menentang kehadiran PKI di Banten bahkan di antara para ulama itu kemudian ada yang menjadi pengurus PKI Cabang Banten. Selain mendapat dukungan dari para ulama, para petani di Banten pun mendukung terhadap gerakan PKI karena tertarik terhadap janji-janji PKI. PKI menjanjikan kepada para petani bahwa partainya akan membebaskan petani dari pajak kepal/perorangan (hoofdgeld). Pajak inilah yang membuat resah petani sehingga suatu saat akan meledak menjadi sebuah perlawan jika ada yang mampu menggerakkannya. PKI mampu membaca situasi itu sehingga mendapat dukungan penuh dari para petani Banten.

Awalnya, aktivitas PKI dipusatkan di Kabupaten Serang. Akan tetapi, sejak bulan Maret 1926, aktivitas mereka dengan cepat menyebar sampai ke wilayah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Aktivitas itu kemudian tidak hanya sekedar menggelar rapat politik, tetapi juga telah bergeser ke arah tindakan kriminal. Oleh karena itu, tidaklah heran kalau situasi pada waktu itu digambarkan penuh dengan kegelisahan. Tidak jarang para anggota PKI ini melakukan tindakan-tindakan anarkis seperti penganiayaan, pemboikatan, pengrusakkan, dan lain-lain. Setelah merasa mendapat dukungan dari masyarakat Banten, PKI kemudian mulai merencanakan pemberontakan. Langkah awal yang diambil adalah mendirikan Dubbel Organisatie (DO) sebuah organisasi rahasia dan illegal untuk mematangkan semangat revolusioner masyarakat Banten. Langkah berikutnya adalah melakukan reorganisasi setelah perginya Puradisastra dan Bassaif ke Batavia. Mereka berdua kemudian menjadi penguhubung PKI Pusat di Batavia dengan PKI Cabang Banten. Pada bulan Mei diselenggarakan rapat yang menghasilkan susunan baru PKI Cabang Banten di bawah kepemimpinan Ishak dan H. Mohammad Noer. Sementara itu, Hasanudin dan Soleiman diangkat sebagai pemimpin DO Banten. Adapun K. H. Achmad Chatib ditunjuk sebagai Presiden Agama PKI Seksi Banten. Setelah rapat itu, semangat revolusioner semakin dan PKI Seksi Banten telah menyatakan kesiapannya untuk melancarkan pemberontakan. Dengan semakin meningkatnya aktivitas PKI Banten, antara bulan Juli – September 1926, pemerintah Hindia Belanda melakukan penangkapan dan penahanan terhadap beberapa pemimpin PKI Banten.

Di Rangkasbitung, empat orang tokoh utama PKI, yakni Tjondroseputro, Atjim, Salihun, dan Thu Tong Hin ditahan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada akhir bulan September 1926. Penahanan ini mengakibatkan pimpinan PKI berada di bawah tangan para ulama dan jawara. Golongan inilah yang kemudian memimpin para petani melancarkan pemberontakan pada bulan November 1926. Target utama pemberontakan ini adalah kaum priyayi dan dipilih secara selektif. Mereka yang akan dibunuh adalah kaum priyayi bukan asli Banten dan suka melakukan kekerasan kepada rakyat. Selain itu, yang menjadi sasaran adalah mereka yang telah dianggap mencemari nama baik Banten. Sementara orang Cina tidak menjadi sasaran karena ada indikasi keterlibatan secara tidak langsung dalam pemberontakan tersebut. Sebagian masyarakat Cina di Labuan dan Menes telah menjual senjata dan amunisi kepada kaum pemberontak. Selain itu, ada juga orang Cina yang telah menjadi pemimpin terkemuka PKI Banten, salah satunya adalah Tju Tong Hin yang bergabung dengan PKI Rangkasbitung.



Perkembangan PKI di Sumatera

1. Masuknya Komunisme Di Sumatera Barat

Dalam situasi Sumatera Barat yang pehuh pertentangan, Haji Datuk Batuah membawa dan, menyebarkan paham komunis diaerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sumatera Thawalib adalah suatu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat, dimana haji Batuah merupakan salah seorang pengajarnya.

Berawal dari Sumatera Thawalib Padang Panjang, paham komunis akhirnya menyebar ke berbagai daerah Sumatera Barat dibawa oleh para lulusan sekolah tersebut ke daerah asalnya. Penyebaran ini terutama dilakukan di kalangan petani. Oleh masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155). Ilmu ini menggabungkan ajaran Islam dengan ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis.

Pada akhir tahun 1923 Datuk Batuah, bersama-sama dengan Nazar Zaenuddin mendirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang. Dalam waktu yang hampir bersamaan Datuk Batuah menerbitkan harian “Pemandangan Islam” dan dan Nazar Zaenuddin menerbitkan “Djago-Djago”. Lembaga Pusat Komunikasi Islam dan kedua harian tersebut digunakan sebagai media penyiaran paham komunis.

2. Usaha-usaha Perluasan

Pada pagi 11 Nopember 1923 Datuk Batuah dan Nazar Zaenuddin ditangkap pemerintah kolonial Belanda. Segera setelah itu pusat propaganda komunis berpindah ke Padang ( Schreike, 1960: 60). Pucuk kepemimpinan PKI Sumatera Barat kemudian di ambil alih oleh Sutan Said Ali. Pada waktu itu kegiatan orang-orang komunis di seluruh nusantara menunjukkan peningkatan yang pesat. Hal ini karena pada akhir tahun 1923 Darsono, seorang tokoh, komunis kembali di Hindia Belanda dari Moskow atas perintah komintern untuk mendampingi Semaun, Alimin dan Muso. Suatu hal yang menyebabkan pesatnya perkembangan komunis di Sumatera Barat adalah dileburnya Sarekat Rakyat Sumatera Barat ke dalam PKI. Sarekat Rakyat ini semula bernama Sarekat Islam Merah, suatu organisasi pecahan Sarekat Islam yang berorientesi kepada paham komunis, dimana di Sumetera Barat mempunyai anggota yang cukup banyak (Kahin, 1952: 70).

Dengan dileburnya Sarekat Rakyat ke dalam PKI, maka jumlah anggota inti PKI Sumatera Barat meningkat berlipat ganda. Jika pada tanggal 1 Juni 1924 semua anggota inti PKI Sumatera Barat tercatat hanya berjumlah 158 Orang, maka pada tanggal 31 Desember 1924 telah menjadi 600 orang, tiga bulan kemudian menjadi 884 orang. Daerah-daearah yang tercatat sebagai basis PKI adalah: Kota Lawas, pariaman, Sawah Lunto, Tikalah, padang dan Silungkang.
3. Resolusi prambanan 1925

Mulai tahun 1925 tampaknya PKI telah jatuh ke tangan orang-orang yang berdarah panas. PKI mulai menghubungkan diri dengan orang-orang yang dipandang rendeh dalam masyarakat dan kumpulan teroris yang selalu dijumpai di pinggiran masyarakat Indonesia waktu itu (Arnold C. Bracham, 1970 : 22).

Sementara itu Hoskow memproses arah yang ditempuh oleh PKI, tetapi tidak berhasil (Ruth T.McVey,1965 : 158). Bahkan pada bulan Juni 1925, Alimin secara terbuka menganjurkan suatu revolusi. Semenjak itu rupanya pengawasan partai berada di tangan komunis sayap kiri.

Sejalan dengan itu, pada bulan Desember 1925 di prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin. Pretemuan ini dihadiri oleh tokoh- tokoh PKI, diantaranya Budi Sucipto, Aliarcham, Sugono, Surat Hardjo, Martojo, jatim, Sukirno, Suwarno, Kusno dan lain-lainnya. Sedang Said Ali, pemimpin PKI cabang Sumatera Barat pada pertemuan ini hadir mewakili seluruh Sumatera ( H. J. Benda, dan Ruth T.MaVey, 1960: 115) Adapun hasil pokok dari pertemuan ini adalah bahwa PKI akan mengadakan pemberontakan pada bulan Juli 1926, dengan terlebih dulu diawali dengan aksi-aksi pemogokan yang akan diorganisir PKI.

Adapun hasil pokok dari pertemuan ini adalah bahwa PKI akan mengadakan pemberontakan pada bulan Juli 1926, dengan terlebih dulu diawali dengan aksi-aksi pemogokan yang akan diorganisir PKI. Sehubungan dengan keputusan Prambanan tersebut pemimpin-pemimpin PKI Sumatera Barat menempuh langkah-langkah guna mempersiapkan pemberontakan, yang meliputi :

a. Sejalan dangan Surat Edaran Komite Pusat PKI No.221 maka PKI cabang Sumatera

Barat berusaha mengumpulkan senjata. Surat Edaran tersebut berisi perintah kepada cabang Padang supaya mengumpulkan uang derma yang dimaksudkan untuk membeli persenjataan yang akan digunakan untuk melakukan aksi pemberontakan.



b. Mengadakan aksi-aksi ilegal.

Ini terutama dilakukan dalam bentuk membangun sel-sel PKI di derah-daerah pertanian dalam rangka memperkuat semangat perlawanan. Dalam perkembangannya, organisasi-organisasi ilegal ini mempunyai pengaruh cukup basar di Sumatera Barat, terutama Sarekat Jin yang bergerak di Padang dan Pariaman (Ruth T.Mc Vey, 1965: 194 ).

c. Memperkuat propaganda di kalangan buruh-buruh tani yang bekerja di perkebunan-

perkebunan.



Tetapi gelagat akan terjadinya pemberontakan di Sumatera Barat, terlebih dulu tercium Pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda segera bertindak melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin PKI Sumatera Barat. Berturut-turut Said Ali, Idrus, Sarun, Yusup Gelar Radjo Kacik, Datuk Bagindo Ratu dan Haji Baharuddin pada akhir tahun 1926, kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan hendak memberontak (Abdul Muluk Nasution, 1981: 91).

Sehubungan dengan keputusan Prambanan tersebut pemimpin-pemimpin PKI Sumatera Barat menempuh langkah-langkah guna mempersiapkan pemberontakan, yang meliputi :

a. Sejalan dangan Surat Edaran Komite Pusat PKI No.221 maka PKI cabang Sumatera

Barat berusaha mengumpulkan senjata. Surat Edaran tersebut berisi perintah kepada cabang Padang supaya mengumpulkan uang derma yang dimaksudkan untuk membeli persenjataan yang akan digunakan untuk melakukan aksi pemberontakan.

b. Mengadakan aksi-aksi ilegal.

Ini terutama dilakukan dalam bentuk membangun sel- sel PKI di derah-daerah pertanian dalam rangka memperkuat semangat perlawanan. Dalam perkembangannya, organisasi-organisasi ilegal ini mempunyai pengaruh cukup basar di Sumatera Barat, terutama Sarekat Jin yang bergerak di Padang dan Pariaman (Ruth T.Mc Vey, 1965: 194 ).

c. Memperkuat propaganda di kalangan buruh-buruh tani yang bekerja di perkebunan – perkebunan.

Tetapi gelagat akan terjadinya pemberontakan di Sumatera Barat, terlebih dulu tercium Pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda segera bertindak melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin PKI Sumatera Barat. Berturut-turut Said Ali, Idrus, Sarun, Yusup Gelar Radjo Kacik, Datuk Bagindo Ratu dan Haji Baharuddin pada akhir tahun 1926, kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan hendak memberontak (Abdul Muluk Nasution, 1981: 91).





Konstruk Organisasi Komunis

Analisa Sejarah Lahirnya Komunis di Indonesia
Komunis lahir saat kondisi di Hindis Belanda ( Indonesia ) sedang mangalami ketertindasan akibat system yang diterapkan oleh Belanda à Belanda mencerminkan praktek Kapitalisme dan Feodalisme à Menindas kaum kecil seperti buruh dan petani
Pada awalnya Komunis hendak menghancurkan belanda dan islam, tetapi melihat begitu besarnya rakyat yang beragama islam yang itu bisa dimanfaatkan sebagai massa pro komunis, akhirnya mereka juga menerapkan ide yang awalnya ditentang oleh mereka ( ide untuk tidak menghancurkan islam tapi justru memanfaatkannya dating dari Tan Malaka, ia menganggap dalam menerapkan teori komunis harus melihat konteks wilyah )
Di awal – awal lahirnya, massa yang dibidik adalah buruh, tetapi seiring dengan berjalannya waktu mereka juga melihat bahwa petani bisa dijadikan basis massa yang lebih solid dari pada buruh, akhirnya mereka pun mengalihkan perhatiannya kepada kaum petani dan juga masyarakat islam.
Faktor yang turut berpengaruh terhadap besarnya organisasi ini adalah apa yang mereka tawarkan kepada petani, buruh serta kamuflase nilai komunis yang disamakan dengan nilai islam. Hal ini karena kondisi saat itu benar – benar kondisi yang berat dan menekan kaum kecil seperti buruh dan petani. Dengan propaganda mereka yang dianggap pro rakyat kecil, mereka pun mendapatkan simpati yang cukup besar.

[1] Blue Frames Forums > A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > sejarah

[2] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada beberapa istilah untuk petani antara lain petani berdasi, petani gurem, dan petani penggarap. Perbedaan istilah itu berdasarkan klasifikasi kepemilikan tanah

[3] Jusuf M. van der Kroef dalam Sediono M.P. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi, Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah di Jawa dari Masa ke Masa, Jakarta: Yayasan Obor, 1984, hlm. 162—163

[4] Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk Sneevliet atau dengan nom de guerre (nama samaran dalam perjuangan) Maring (lahir 13 Mei 1883 – wafat 13 April 1942 pada umur 58 tahun) adalah seorang Komunis Belanda, yang aktif di Belanda dan di Hindia Belanda. Ia ikut serta dalam perlawanan komunis terhadap pendudukan Jerman atas Belanda pada masa Perang Dunia II dan dihukum mati oleh Jerman pada 1942 à lihat www.wikipedia.com ttg Henk Sneevliet

[5] Koleksi Buku Indraganie, serial “ Menggali yang terabaikan “

[6] Arbi Sanit, Badai Revolusi: Sketsa Kekuatan Politik PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000 hlm. 43

sumber :klik

09.00 | Posted in | Read More »

Tendensi Demokrasi Dua Agama

Penulis : Ekta Yudha Perdana



Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan persamaan hak di depan hukum. Dari sini kemudian muncul idiom-idiom demokrasi, seperti Egalite (Persamaan) Equality (Keadilan) Liberty (Kebebasan), Human right (Hak asasi manusia).


Dalam tradisi Barat, demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat seharusnya menjadi “pemerintah” bagi dirinya sendiri, dan wakil rakyat seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab atas tugasnya. Karena alasan inilah maka lembaga legislatif di dunia Barat menganggap sebagai pionner dan garda terdepan demokrasi. Lembaga legislatif benar-benar menjadi wakil rakyat dan berfungsi sebagai agen rakyat yang aspiratif dan distributif. Keberadaan wakil rakyat didasarkan atas pertimbangan, bahwa tidak mungkin semua rakyat dalam suatu negara mengambil keputusan karena jumlahnya yang terlalu besar. Oleh sebab itu kemudian dibentuk dewan perwakilan. Di sini lantas prinsip amanah dan tanggung jawab (Credible and accountable) menjadi keharusan bagi setiap anggota dewan. Sehingga jika ada tindakan pemerintah yang cenderung mengabaikan hak-hak sipil dan hak politik rakyat, maka harus segera ditegur. Itulah perlunya perwakilan rakyat yang kuat untuk menjadi penyeimbang dan kontrol pemerintah.

Secara normatif, Islam menekankan pentingnya ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar bagi semua orang, baik sebagai individu atau anggota masyarakat maupun sebagai pemimpin negara. Doktrin tersebut merupakan prinsip Islam yang harus ditegakkan dimana pun dan kapan saja, supaya terwujud masyarakat yang berkeadilan.

Nah, bagaimanakah konsep demokrasi Islam itu sesungguhnya? Jika secara normatif Islam memiliki konsep demokrasi yang tercermin dalam prinsip dan idiom-idiom demokrasi, bagaimana realitas empirik politik Islam di negara-negara Muslim? Bagaimana dengan pengalaman demokrasi di negara-negara Islam? Benarkah Samuel Huntington dan F. Fukuyama, yang menyatakan bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak compatible dengan demokrasi? Tulisan ini ingin mengkaji demokrasi dalam perspektif Islam dari aspek elemen-elemen pokok yang dikategorikan sebagai bagian terpenting dalam penegakan demokrasi, dan hubungannya dengan realitas demokrasi dalam negara yang berbasis mayoritas Islam.


Jika dilihat basis empiriknya, agama dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari pergumulan pemikiran manusia yang bermula dari ( Al-khusumah Al-Kanisah) atau istilahnya perang geraja ( red : Anwar Jundi Manhaj Al- Ghorb). Yang saat masyarakat Eropa sangat membenci otoritas pihak gereja, yang terkadang irrasional kebijakan geraja. Contoh melarang untuk belajar di negeri muslim, terkhusus Andalusia sekarang terkenal dengan sebutan Spanyol. Karena umat muslim pada saat itu menjadi pusat peradaban dunia yang sebagaimana dirasakan Eropa saa ini. Bukankah itu hasil dari para syeakh dan dosen yang telah mengajarkan mereka di Andalusia tempo dahulu.

Di sini penulis mengutip tulisan Syeakh Muhammad Abduh tentang bahwasanya yang menjadikan mereka (Eropa) itu maju bukan karena agama mereka, yang sering mereka dengungkan. Dan kita juga sering membaca atau pun mendengar perkataan mereka tentang bahwasanya yang menjadikan umat kami lebih maju dibandingkan dengan umat Islam adalah karena agama kami. Atau istilah yang sering mereka gunakan adalah Inna Aur- Rubba ummah biruh Al- Kanisah (bahwasanya kami Eropa umat dengan ruh gereja). Yang mengatakan bahwa agama umat Islam itu menyembah patung dan umat Islam mempunyai ajaran yang salah. Dan itu semua dibantah oleh Syeakh Muhammad Abduh atas kesalahan Barat dalam prespektif yang berkenaan dengan Islam. Di antaranya:



1) Kristen didirikan atas kepercayaan kepada Mukjizat. Gospel mengajarkan bahwa bukti kebenaran kristen ditampakan melalui kemukjiztan semacam itu mengacaukan alam dan hukumnya. Ini menunjukan bahwa kristen tidak ilmiah dan tak ada kaitan peradaban Eropa. Karena setiap studi menunjukan bahwa alam semesta punya hukum abadi dan ada sebab dan alasan di balik setiap gerakan. Orang yang hanya percaya bahwa dirinya dapat berubah dengan doa saja tentu tak dapat menemukan riset ilmiah.

2) Prinsip kedua kristen adalah otoritas pendetanya, seperti termaktub dalam Mathias 16:19’ kuberikan kepadamu kunci kerajaan langit. Apa pun yang engkau ikat di bumi akan terikat, dan apa pun yang terlepas akan terlepas,’ ini bertentangan bahwasanya Kristen adalah agama yang rasional, yang mendorong kebebasan berfikir. Faktanya, pendeta Kristen punya kuasa menentukan apakah seseorang itu Kristen atau bukan, dan juga punya kuasa untuk mengucilkan. Orang yang beriman seseungguhnya tidak leluasa dengan apa yang diimaninya, juga tidak dapat bertindak dengan rasional akalnya. Sesungguhnya mereka terikat dengan penilaian pemimpin agama. Bahkan orang Prostestan yang mempunyai kebebasan untuk menginterpretasikan kitab sucinya tidak mengubah klaim bahwa Bibel adalah sumber pengetahuan bagi umat manusia. Akal manusia tidak leluasa; akal menusia tidak bisa menggantikan apa yang diajarkan dalam kitab.

3) Kristen mengajarkan kepada penganutnya untuk menjauhi dunia, orang kristen diperintahkan untuk mengabdi kepada ajaran tuhan dan menjauhkan diri dari dunia yang termaktub dalam Mathias 6:10,19. Gospel bahkan menyerukan kepada penganutnya untuk membujang, jelas sesuatu yang bertentangan dalam ajaran tuhan yang menyerukan untuk mempunyai keturunan dibumi dan terus berkembang.

Itulah dari bantahan kepada Eropa yang mengatakan bahwasanya demokrasi dan kemajuan yang diraih mereka saat ini dikarenakan karena agama mereka, Itu pembohongan publik dan media massa. Dan ternyata mereka maju bukan karena ajaran agama Kristen atau ajaran gereja.


Dalam perspektif Islam tentang elemen-elemen demokrasi meliputi: Syura, musawah (Persamaan) Al-a’daalah (Keadilan) Amanah (Kredibilitas), Masuliyyah (Responsibilitas ) dan Hurriyyah (Kebebasan ) bagimanakah makna masing-masing elemen tersebut?


Pertama Syura merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara eksplisit ditegaskan dalam Al-Qur’an. Misalnya saja disebut dalam QS. As-Syura:38 dan Al- Imran:159 Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura adalah Ahl halli wa-l‘aqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah.

Jelas bahwa musyawarah sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan tanggung jawab bersama di dalam setiap mengeluarkan sebuah keputusan. Dengan begitu, maka setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan menjadi tanggung jawab bersama. Sikap musyawarah juga merupakan bentuk dari pemberian penghargaan terhadap orang lain karena pendapat-pendapat yang disampaikan menjadi pertimbangan bersama.

Kedua Al-‘adalah adalah keadilan, artinya dalam menegakkan hukum termasuk rekrutmen dalam berbagai jabatan pemerintahan harus dilakukan secara adil dan bijaksana untuk tergapainya kesejahteraan.

Betapa prinsip keadilan dalam sebuah negara sangat diperlukan sehingga ada ungkapan yang “ekstrim” berbunyi: “Negara yang berkeadilan akan lestari kendati ia negara kafir sebaliknya negara yang zalim akan hancur meski ia negara (yang mengatasnamakan) Islam”.

Ketiga Al-Musawah adalah kesejajaran artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting dalam suatu pemerintahan demi menghindari dari hegemoni penguasa atas rakyat.

Dalam perspektif Islam. Pemerintah adalah orang atau institusi yang diberi wewenang dan kepercayaan oleh rakyat melalui pemilihan yang jujur dan adil untuk melaksanakan dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang telah dibuat. Oleh sebab itu pemerintah memiliki tanggung jawab besar di hadapan rakyat demikian juga kepada Tuhan. Dengan begitu pemerintah harus amanah memiliki sikap dan perilaku yang dapat dipercaya, jujur, adil, dan profesional. Sebagian ulama’ memahami al-musawah ini sebagai konsekuensi logis dari prinsip Al-syura dan Al-‘adalah. Diantara dalil Al-Qur’an yang sering digunakan dalam hal ini adalah surat al-Hujurat:13.

Keempat Al-Amanah adalah sikap pemenuhan kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lain. Oleh sebab itu kepercayaan atau amanah tersebut harus dijaga dengan baik. Dalam konteks kenegaraan, pemimpin atau pemerintah yang diberikan kepercayaan oleh rakyat harus mampu melaksanakan kepercayaan tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab. Persoalan amanah ini terkait dengan sikap adil seperti ditegaskan Allah SWT dalam surat an-Nisa :58. Karena jabatan pemerintahan adalah amanah, maka jabatan tersebut tidak bisa diminta dan orang yang menerima jabatan seharusnya merasa prihatin bukan malah bersyukur atas jabatan tersebut. Inilah etika Islam.

Kelima Al-Masuliyyah adalah tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa kekuasaan dan jabatan itu adalah amanah yangh harus diwaspadai bukan nikmat yang harus disyukuri, maka rasa tanggung jawab bagi seorang pemimpin atau penguasa harus dipenuhi. Dan kekuasaan sebagai amanah ini mememiliki dua pengertian yaitu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Dengan dihayatinya prinsip pertanggung jawaban (Al-masuliyyah) ini diharapkan masing-masing orang berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pemimpin/penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai Sayyid Al-ummah (Penguasa umat) melainkan sebagai Khadim Al-ummah (Pelayan umat) dengan demikian. Kemaslahatan umat wajib senantiasa menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa bukan sebaliknya rakyat atau umat ditinggalkan.



Keenam Al-Hurriyyah adalah kebebasan artinya bahwa setiap orang setiap warga masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk mengeksperesikan pendapatnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang bijak dan memperhatikan Al-akhlaq Al-karimah dan dalam rangka Al-amr bil ma’ruf wa an-nahy ‘an al-‘munkar maka tidak ada alasan bagi penguasa untuk mencegahnya. Bahkan yang harus diwaspadai adalah adanya kemungkinan tidak adanya lagi pihak yang berani melakukan kritik dan kontrol sosial bagi tegaknya keadilan. Jika sudah tidak ada lagi kontrol dalam suatu masyarakat maka kezaliman akan semakin merajalela. Bagaimana realitas demokrasi di dunia Islam dalam sejarahnya?


Dalam realitas sejarah Islam memang ada pemerintahan otoriter yang dibungkus dengan baju Islam seperti pada praktek-praktek yang dilakukan oleh sebagian penguasa Bani ‘Abbasiyyah dan Umayyah. Tetapi itu bukan alasan untuk melegitimasi bahwa Islam agama yang tidak demokratis. Karena sebelum itu juga ada eksperimen demokratisasi dalam sejarah Islam yaitu pada masa Nabi dan khulafaurrasyidin.

Memang harus diakui karena kepentingan dan untuk melanggengkan status quo raja-raja Islam, demokrasi sering dijadikan tumbal. Seperti pengamatan bahwa di beberapa bagian negara Arab misalnya Islam seolah-olah mengesankan pemerintahan raja-raja yang korup dan otoriter. Tetapi realitas seperti itu ternyata juga dialami oleh pemeluk agama lain. Gereja Katolik misalnya , bersikap acuh-tak acuh ketika terjadi revolusi Perancis. Karena sikap tersebut kemudian Katolik disebut sebagai tidak demokratis. Hal yang sama ternyata juga dialami oleh agama Kristen Protestan dimana pada awal munculnya dengan reformasi Martin Luther Kristen memihak elit ekonomi sehingga merugikan posisi kaum tani dan buruh. Tak mengherankan kalau Kristen pun disebut tidak demokratis. Melihat kenyataan sejarah yang dialami oleh elit agama-agama di atas maka tesis Huntington dan Fukuyama yang mengatakan, “bahwa realitas empirik masyarakat Islam tidak kompatibel dengan demokrasi” adalah tidak benar.

Itulah yang penulis bisa sampaikan, bahwasanya agama kita sempurna dalam mengatur tatanan kehidupan jika kita kembali ke ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Di dalamnya telah diajarkan bagaimana mengatur kehidupan dunia ini yang cukup pelik, terkadang kita terjatuh, jika kita lupa akan ajaran ini (Islam).

21.11 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Labels