Breaking News:

Kevin James: Saya Merasakan Kesendirian Rasulullah SAW

Kevin James adalah petugas pemadam kebakaran di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Memasuki usia dewasa, ia merasa dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, ia tak ragu memutuskan menjadi muslim guna mengikuti jejak Rasulullah SAW yang begitu dicintainya tersebut.

"Saya memang bukan yatim piatu seperti beliau, tapi saya merasakan bagaimana Nabi merasakan kesendirian," kata dia. James merasa tidak menjadi bagian dari komunitas yang begitu beragam. Ia sendiri lahir dari keluarga yang beragam. Ayahnya adalah seorang Afro-Amerika. Ibunya adalah seorang Yahudi. Namun, keduanya tidak menjalankan ajaran agama dengan baik.

"Saya dan orang tua saya bisa dikatakan ateis atau agnostik," aku James. Ia masih ingat, di rumahnya itu terdapat Hanukkah Menorah, simbol perayaan hari besar Yahudi, dan pohon Natal. Masing-masing dari anggota saling memberi hadiah. "Jujur, saya tidak pernah mengidentifikasi sebagai penganut Yahudi atau Kristen. Tapi saya selalu ditekankan untuk mencari kebenaran," kenang dia

sumber :klik

16.06 | Posted in | Read More »

Marilyn Mornington: Islam, Jalanku Mengenal Tuhan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengawasiku sejak lama,” katanya mengawali cerita. “Ia membimbingku ke jalan di mana tidak ada tempat bagiku untuk berputar arah. Itu karena semakin aku mengenal Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, semakin jelas bagiku bahwa ia (Islam) adalah tempat di mana aku ingin berada. Islam adalah apa yang kuinginkan.” Ia bernama Marilyn Mornington, pengacara yang menjadi hakim di sebuah pengadilan negeri di Inggris.

Kini, ia juga dikenal sebagai seorang dosen internasional dan penulis tentang hukum keluarga, terutama tentang kekerasan domestik yang dialami perempuan dan anak-anak. Wanita yang pernah menjadi penerima beasiswa di Biara Notre Dame ini memperoleh gelar hukumnya dari Sheffield University. Memulai kariernya di bidang hukum keluarga di Liverpool pada 1976, ia ditunjuk menjadi hakim di Distrik Birkenhead, Liverpool, pada 2004.

Pada usianya yang ke-40, dia menjadi pengacara pertama yang ditunjuk menjadi hakim. Perhatian dan pekerjaan utama Mornington adalah memberikan advokasi hukum bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban kekerasan. Dan di satu titik pada garis waktu kehidupannya, pekerjaan itulah yang menjadi pembuka jalan baginya pada Islam. Islam mengadvokasi kebenaran ajarannya di mata Mornington dan menanamkan dalam-dalam kebenaran itu di hatinya. Semua bermula saat Mornington, dalam sejumlah kasus keluarga, harus berhubungan dengan Muslim yang membutuhkan bantuannya. Perlahan ia membangun kontak dengan mereka, mengenal satu, dua, dan banyak Muslim. Melayani banyak Muslim,

Mornington merasa perlu lebih banyak mengenal mereka, termasuk mengetahui latar belakang dan ideologi sang klien. “Maka, aku mulai membaca referensi tentang Islam,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Hamza Yusuf tahun lalu. Mornington tak berhenti pada buku-buku Islam. Ia mulai membaca Alquran di mana kemudian ia menemukan banyak panduan luar biasa tentang keluarga dan kisah-kisah mengagumkan tentang Rasulullah em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan istri-istri beliau. Mornington tak pernah tahu, pengetahuan baru tentang Muslim itu tak saja membuatnya lebih memahami klien-klien Muslimnya, tetapi memahami Islam.

Ia mengaku kagum pada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, itu. “Aku telah menggeluti profesiku lebih dari sepuluh tahun, dan aku menemukan ajaran yang indah tentang keluarga dalam Al-Quran,” ujarnya. Semua itu, kata Mornington, berada di luar kehendaknya. “Bagaimana aku mengenal banyak Muslim, bagaimana aku mencoba mengenali Islam demi klienku, bagaimana aku tertarik untuk mengetahui lebih banyak hingga akhirnya aku kagum pada isi Al-Quran, itu semua bukan pilihanku,” ungkapnya. Karenanya, Mornington tak pernah merasa dihadapkan pada pilihan. “Tak ada pilihan. Aku hanya merasa Tuhan menuntunku pada satu jalan.

Dan itu adalah Islam.” Selain membawanya pada keputusan untuk bersyahadat pada Ramadhan dua tahun lalu, menemukan hal-hal mengagumkan soal keluarga dalam Islam membuat Mornington sadar bahwa sesuatu yang lebih besar sedang membutuhkan advokasinya. “Bukan saja klien yang datang ke kantorku, melainkan Muslim Inggris seluruhnya,” katanya. Setelah membaca Alquran dan banyak referensi Islam, Mornington tahu bahwa masyarakat banyak salah memahami tentang aturan dan ajaran Islam. Hal itulah yang dipandangnya menjadi penyebab maraknya kawin paksa di kalangan komunitas Islam, termasuk di negaranya, Inggris. “Itu sama sekali bukan ajaran Islam,” tegasnya. Advokat perempuan terbaik Sebagai seorang ahli hukum, salah satu tekad besarnya adalah menjadi advokat bagi Muslim secara luas, terutama perempuan. Selain mengadvokasi mereka dari kekerasan dan kesalahan pemaknaan ajaran agama, Mornington ingin perempuan menyadari posisi dan peran pentingnya di tengah keluarga. Menurutnya, kenakalan di kalangan remaja, seperti penggunaan obat terlarang dan pergaulan bebas, bisa dicegah dengan pendidikan keluarga.

“Tugas utama perempuan (ibu) adalah membesarkan dan mendidik anak-anak mereka,” katanya. Di Inggris dan dunia internasional, Mornington memiliki prestasi luar biasa di bidang hukum. Selama perjalanan kariernya, ia pernah menjabat berbagai posisi penting di sejumlah organisasi kemasyarakatan dan keilmuan. Ia bahkan juga menjadi anggota World Academy of Arts and Science. Ia banyak menulis tentang hukum keluarga, terutama kekerasan domestik. Dalam sejumlah forum, ia dikenal atas upayanya mencari solusi praktis atas kasus ‘pembunuhan kehormatan’ dan kekerasan rumah tangga yang terjadi di komunitas Muslim dan Asia. Di luar semua aktivitasnya di bidang advokasi, Mornington dikenal aktif memperjuangkan advokasi Islam melalui pendidikan. Ia menjadi dosen.

Ia pernah mengajar Hukum dan Hak Asasi Manusia Internasional di London School of Economics dan juga Sekolah Hukum Punjab pada 2007 dan 2008. Ia pernah terlibat di berbagai kegiatan advisori, di antaranya dengan BBC, pasukan polisi dan pemerintah Pakistan, dan Dewan Inggris. Ia juga pernah bertindak sebagai patron Karma Nirvana (sebuah proyek pria dan wanita Asia), berkontribusi pada sebuah laporan Lembaga Nasional untuk Pencegahan Kekerasan pada Anak (NSPCC) di Komunitas Asia di Inggris. Pada 2005, Mornington menerima penghargaan “Friends of Islam” dari kelompok parlementer Inggris atas semua upayanya dalam meningkatkan hubungan baik antara Islam dan Barat. Pada tahun yang sama, ia berpartisipasi dalam dokumenter BBC World Service“Wives ofthe Prophet” untuk membuat proyeksi teladan bagi perempuan Islam modern. Baginya, istri-istri Rasulullah em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik bagi Muslimah dunia, termasuk dirinya. “Aku merasa sangat nyaman mengenal kehidupan keluarga Rasulullah. Kisah-kisah para istri beliau dan para sahabatnya membuatku semakin yakin bahwa inilah kehidupan sejati yang kuinginkan,” pungkas Mornington.  

sumber :klik

04.50 | Posted in | Read More »

Emma Clark, Arsitek yang Jatuh Hati Pada Islam

Mungkin dengan mudah kita banyak menjumpai para ahli arsitektur taman. Namun, tidak demikian dengan mereka yang mengkhususkan diri pada rancangan taman berkonsep Islam. Emma Clark merupakan salah satunya. Di tanah kelahirannya, Inggris, perempuan paruh baya ini memang dikenal luas sebagai seorang arsitek spesialis taman bernuansa Islam.

Emma adalah seorang muslimah Inggris yang memeluk agama Allah bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Ia baru memeluk Islam tujuh tahun lalu, tepatnya pada pertengahan Februari 2004 silam. Emmas lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga pemeluk Kristen Protestan yang terbilang taat.

Kabar mengenai kepindahan Emma menjadi seorang pemeluk Islam sempat menghiasi pemberitaan di berbagai media di Inggris. Maklum saja, karena keluarga besar Emma termasuk salah satu keluarga terpandang di negeri Ratu Elizabeth II ini. Kakek buyut Emma, Herbert Henry Asquith, pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris periode 1908 hingga 1916. Sang kakek buyut juga dikenal sebagai tokoh yang ikut melibatkan Inggris dalam Perang Dunia (PD) pertama.

Perihal keputusannya berpindah keyakinan, Emma enggan membagi kisahnya kepada media-media Inggris. “Kita semua adalah satu ras. Saya berharap fenomena ini bukan seperti musim yang segera berlalu,” ujarnya kepada harian Sunday Times menanggapi fenomena maraknya warga kalangan menengah ke atas di Inggris yang memeluk Islam beberapa tahun terakhir.

Harian Sunday Times menyebutkan bahwa Emma Clark termasuk salah satu arsitek taman yang ikut membantu membuat desain sebuah taman bernuansa Islam di kompleks rumah sekaligus peternakan milik putera mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles, yang terletak di Highgrove, kawasan Gloucestershire. Konsep taman tersebut ia beri nama “Carpet Garden”. Ia juga ikut merancang taman serupa di seputar tempat parkir sebuah masjid di Woking, Surrey.

Konsep taman ada dalam Al-Qur’an

Dalam merancang sebuah taman, Emma tidak pernah keluar dari konsep rancangan sebuah taman dalam ajaran Islam. Karenanya tak mengherankan jika ia banyak mengacu kepada gambaran konsep sebuah taman sebagaimana yang banyak diterangkan di dalam kitab suci Alquran.

Emma bahkan telah menulis buku mengenai konsep taman Islam. Dalam bukunya yang diberi judul The Art of The Islamic Garden ini Emma secara khusus mengulas bagaimana Alquran tidak hanya mengajarkan kepada umat Islam mengenai masalah ibadah, tetapi juga mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah mengenai konsep penataan sebuah taman.

”Islam mengajarkan bahwa semua kebun atau pun taman yang ada di muka bumi ini hendaknya dibuat berdasarkan konsep taman dan kebun di surga seperti yang digambarkan dalam Alquran,” papar Emma.

Ketertarikan Emma terhadap penataan taman sesuai dengan konsep Alquran berawal dari fenomena peningkatan suhu global yang mulai melanda kawasan Eropa Utara. Peningkatan suhu global melanda kawasan Eropa Utara ini telah mengusik rasa kepedulian Emma sebagai seorang arsitek taman untuk mendesain sebuah taman yang dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Berawal dari situlah Emma kemudian melakukan sejumlah penelitian. Dari berbagai penelitian yang dilakukannya Emma menemukan fakta bahwa konsep taman yang dikembangkan oleh para arsitektur muslim di masa kekhalifahan Islam ternyata sangat ramah lingkungan dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi peningkatan suhu global yang mulai melanda sejumlah tempat di muka bumi.

Hasil penelitiannya ini kemudian ia tuangkan dalam sejumlah konsep taman di Inggris. Konsep taman Islam yang ditawarkan oleh Emma ini pun banyak diminati di negara-negara di luar Inggris. Dan, sejak saat itu namanya dikenal luas sebagai arsitek spesialis taman Islam.

Berdasarkan konsep Islam, terang Emma, pohon-pohon yang ada di dalam taman hendaknya ditanam secara selang- seling antara pohon cemara dan pohon buah-buahan. Untuk pohon buah, ia merekomendasikan pohon almond, cherry, apel, pear atau pohon plum. Namun, jenis pohon buah yang akan ditanam, menurut Emma, bisa saja disesuaikan dengan iklim daerah setempat. Misalnya, di Inggris, bisa saja jenis pohon buah yang ditanam adalah buah murbei.

Dalam Alquran, ungkap Emma, ada empat jenis pohon yang banyak disebut, yakni ara, zaitun, delima dan kurma. Dalam konsep taman yang dibuatnya di kediaman pribadi Pangeran Charles di Highgrove, Gloucestershire, Emma menggunakan tiga dari empat jenis pohon yang banyak disebut dalam Alquran ini. Untuk taman di kediaman Pangeran Charles, ia menggunakan pohon ara, zaitun dan delima. ”Kalau kurma saya anggap tidak cocok untuk di tanam di lokasi ini.”

Dalam bukunya, Emma juga memaparkan bahwa konsep taman dalam Islam hendaknya memiliki elemen air di dalam taman, berupa kran-kran air yang dalam konsep Islam berfungsi sarana untuk berwudhu atau bersuci. Selain itu juga terdapat kran air khusus yang berfungsi sebagai focalpoint pada taman utama, yang dapat memancarkan air sewaktu-waktu. n dia

Keberadaan sebuah taman dalam Islam juga menjadi suatu simbol bagi keterbukaan, dimana taman berfungsi sebagai open space (ruang terbuka). Karenanya penanaman vegetasi pada burffer area (ruang penyangga) menggunakan tanaman yang bersifat tembus pandang (tidak terlalu rapat).

sumber :klik

05.37 | Posted in | Read More »

Ismail Chartier, Gagal Jadi Pegulat Profesional Ia Pun Masuk Islam

Sepuluh tahun lalu, Ismail Chartier memeluk Islam. Keputusannya memeluk Islam berawal dari kegagalan dirinya menjadi pegulat profesional.

Ismail besar dalam keluarga Katolik Irlandia di Manhattan. Namun, lingkungan tempat ia tinggal merupakan kawasan peredaran narkoba yang diawasi mafia Irlandia. Tak heran, Ismail kecil sudah akrab dengan kekerasan.

Ibu dan ayahnya merupakan generasi pertama Amerika-Irlandia. Sementara, ia dan saudaranya merupakan generasi kedua yang diwajibkan mempelajari budaya Irlandia.

Oleh orang tuanya, diajari tarian, musik, dan kebencian akan kependudukan Inggris di Irlandia Utara.

Memasuki usia ke-20 tahun, Chartier menjadi anggota tim gulat Universitas Arizona. Sayang, impiannya mejadi pegulat kandas lantaran cedera punggung berkepanjangan. “Saya ingat hari itu, pelatih mengatakan saya tidak bisa menjadi pegulat. Sejak itu, saya begitu emosional,” kenangnya.

Namun, Chartier tidak ingin larut dalam amarah. Ia mencoba beralih pada agama, dan memulainya dengan mempelajari Kristen Ortodoks. Mengapa Ortodoks, karena ia menginginkan perspektif lain. Guna mencapai tujuannya itu, ia memutuskan berangkat ke Yunani. Di sana Chartier mempelajari ajaran Kristen Ortodoks selama satu tahun penuh.

Sepulangnya dari Yunani, ia justru mengalami perasaan putus asa. Hatinya tidak menerima prinsip Ortodoks. Chartier kemudian mengunjungi sinagog. Di sana ia mendapati bahwa Yahudi hanya mengakui satu Tuhan. “OK, saya ingin menjadi Yahudi,” kata dia mantap.

Rabi Yahudi tidak begitu saja menerimanya. Karena, Chartier tidak memiliki darah Yahudi murni. Spontan rabi tersebut memintanya pergi. “Saya tidak percaya bahwa Tuhan membatasi agama-Nya hanya untuk satu bangsa. Semua manusia seharusnya berhak atas agama yang diturunkan-Nya,” kata dia.

Selanjutnya, Ismail Chartier mengunjungi Nepal. Di sana ia punya harapan besar untuk mempelajari agama Buddha dan Hindu.

Satu kesempatan, ia mengunjungi sebuah perpustakaan dengan rak bertuliskan Islam. Dalam rak itu terdapat buku Elijah Wood, Rumi dan Ghazali. Lalu ada Alquran terjemahan bahasa Inggris.

“Pertama kali melihat, saya begitu antusias. Sepengetahuan saya, buku ini menjadi pedoman Muslim. Saya harus baca kitab ini,” ujarnya.

Tidak mudah baginya untuk mempelajari Alquran. Ia terlebih dahulu mempelajari bahasa Arab. Ia katakan niatannya itu kepada istrinya yang selalu mendukungnya mencari kebenaran. “Saya tidak mau menjadi Kristen, saya ingin dan akan menjadi Muslim,” kata Chartier.

Semenjak ia mempelajari Islam, ia begitu merasakan kedamaian dan ketenangan. Pertama kali dalam hidupnya, ia merasa memiliki hati nurani. “Amarah yang selalu membebaniku hilang seketika,” ungkapnya.

Keputusannya memeluk Islam membuat keluarga besarnya marah besar. Chartier diasingkan oleh keluarganya. Walau begitu, ia tetap tenang menghadapi penolakan keluarganya. Prinsipnya, ia harus menjadi hamba yang baik dan tetap menghormati sikap keluarganya.

Tak butuh waktu lama, keluarga Chartier akhirnya menerima keputusannya itu. Hubungan mereka bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Orang tuanya bahkan begitu sayang dengan anak-anaknya. “Saya percaya, rasa hormat itu menyembuhkan penyakit hati. Hormati orang lain, ketika anda menginginkan dihormati,” kata Chartier.

Selanjutnya, Chartier mulai melangkah untuk berdakwah. Ia mendirikan organisasi yang bertujuan untuk menghindari anak-anak terjebak dalam kejahatan, seperti narkoba. “Islam menjadi rujukan organisasi ini,” pungkas dia.


sumber :klik

12.22 | Posted in | Read More »

Melekh Yacov : Yahudi Hasidic yang Memeluk Islam

Melekh Yacov lahir di New York. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi Hasidic, kelompok Yahudi ultra-ortodoks. Berbeda dengan penganut Hasidic lain, keluarga Yacov tergolong biasa-biasa saja dalam menjalankan keyakinannya.

“Kami tidak seperti itu, kami tetap beraktivitas ketika hari sabat. Saya juga tidak mengenakan yarmulke di kepala. Yang pasti, keluargaku lebih banyak dipengaruhi kehidupan sekuler,” kenang Yacov.

Semasa muda, Yacov merasa tidak seperti orang Yahudi. Ia tidak lagi mempedulikan hari sabat. Ia juga sering mengkonsumsi makanan non halal. Yacov sadar, dirinya tidak lagi mematuhi aturan. Saat itu ia berpikir, apa yang ia lakukan merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal semasa kecil, ia banyak mendengar cerita kisah para rabi seperti Eliezar, Baal Shem Tov dan Taurat.

Setiap cerita yang ia dengar menunjukan Yahudi sepanjang sejarah selalu ditindas. Selama itu pula, Tuhan bersama umatnya sampai akhir. “Bangsa kami selalu mendapat anugerah-Nya. Jika seseorang ingin memperoleh pandangan objektif tentang alasan orang Yahudi memiliki sikap zionis maka anda harus melihat bagaimana kami didoktrin sejak kecil. Itulah mengapa, kami seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun,” paparnya.

Yacov tahu betul bahwa orang Yahudi memiliki ikatan yang kuat satu dengan yang lain. Setiap orang Yahudi selalu memegang erat “umat pilihan” Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi ia tidak merasa nyaman dengan itu.

Ia masih ingat, betapa membosankannya saat ia diajak ayahnya mengunjungi sinagoga “Saya merasa aneh dengan melihat banyak orang bertopi hitam dengan janggut panjang lalu berdoa dengan bahasa Ibrani,” ucapnya.

Memasuki usia 13 tahun, Yacov menjalani proses khitan, atau dalam tradisi Yahudi disebut Bar-mitvahh’ed. Lalu, setiap paginya ia menempatkan Tefilin, kotak hitam berisi ayat Taurat.

Namun, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Awalnya, ayah Yacov bertengkar dengan anggota jamaah lain. Sejak itu, ayah menolak untuk mendatangi sinagoga.

Tak berselang lama, ayahnya memutuskan untuk memeluk agama Kristen. Putusan itu lantaran diajak temannya. Ibunya enggan menerima keputusan suaminya itu, dan akhirnya mengajukan cerai. Masa-masa ini merupakan yang terberat dalam hidup Yacov.

“Keputusan ayah banyak berpengaruh padaku. Saya sendiri bingung, sebenarnya apa Yahudi itu apakah bangsa, budaya atau agama. JIka bangsa, mengapa orang Yahudi selalu menjadi warga negara kelas dua. Jika agama, mengapa setiap doa dibacakan dalam bahasa Ibrani. Lalu jika budaya, jika seseorang berhenti menjadi Yahudi maka ia berhenti berbicara bahasa Ibrani dan mempraktekan tradisi Yahudi,” tanya Yacov.

Pertanyaan lain yang mengemuka dalam pikiran Yacov adalah mengapa Ibrahim disebut Yahudi padahal ia hidup sebelum Taurat diturunkan kepada Nabi Musa. Anehnya lagi, Taurat tidak menyebutkan Nabi Ibrahim sebagai orang Yahudi. Kata Yahudi sendiri berasal dari nama salah satu dari 12 anak Nabi Yakub, yakni Yehuda.

“Dalam tradisi Yahudi sendiri, ketika ibunya seorang Yahudi, maka anda dapat menjadi orang Yahudi meski memeluk agama Kristen atau atheis. Sejak itu, saya mulai menjauh dari tradisi Yahudi, karena saya tidak puas lantaran terlalu banyak tanda tanya,” ujarnya.

Sejenak menjauh dari tradisi Yahudi, Yacov mulai terpesona dengan budaya asli Amerika. Mereka dinilai Yacov memiliki semangat juang tinggi menghadapi sikap jumawa kulit putih. Mereka terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Terkucil, namun tidak berputus asa dengan keadaan.

Kondisi itu, ditangkap Yacov, seperti apa yang dialami bangsa Palestina. Selama ribuan tahun, bangsa Palestina menempati tanah suci. Kini, mereka harus digantikan orang Yahudi.

Penduduk asli terpaksa tinggal di kamp pengungsi. “Lalu saya bertanya kepada orang tua tentang apa perbedaan warga asli Amerika dan Palestina. Jawaban yang saya dapatkan adalah bangsa Palestina selalu ingin membunuh orang Yahudi lalu mengusir mereka ke laut,” ungkapnya.

Namun, Yacov tidak begitu saja menerima jawaban itu. Menurut dia, orang Yahudilah yang membunuhi warga Palestina. Bagaimana bisa, orang Yahudi menyangkal pengusiran yang dilakukannya. “Mereka memprotes adanya pembantaian etnis. Tapi mereka sendiri melakukannya. Mereka berdalih hal itu dibenarkan dalam Taurat, tapi sebenarnya tidak seperti itu,” ucap Yacov.

Memasuki jenjang sekolah menengah, Yacov mulai tertarik mendalami filsafat. Ia menghabiskan waktu membaca karya pemikir-pemikir besar, seperti filsuf Yahudi Spinoza. Ia juga membaca karya Abram Leon, tokoh komunis Belgia, yang tewas di Aushwitz. Tak ketinggalan karya Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao Zeding dan Leon Trotsky.

“Setiap kali saya membaca Marxisme, saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Kadang saya merasa telah menemukan jawabannya, namun sebenarnya tidak,” kenang dia.

Setelah bertemu semua kelompok kiri, Yacov tidak bisa seutuhnya menerima konsep atheisme. Ia percaya, ada tujuan akhir dalam hidup ini. Agama adalah alat untuk menjembatani antara kehidupan di dunia dan kehidupan lain sesudah kematian.

Di sisi lain, ia membenci aliran fundamentalis dalam agama. “Saya masih percaya adanya agama, tapi saya merasa skeptis dengan terhadap semua agama,” paparnya.

Kekosongan itu, secara perlahan mulai terisi. Ia tidak ingat, apa yang membuatnya tertarik dengan Islam. Namun, ia pernah mendengar ibunya bercerita tentang Islam, sosok Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam dari bangsa Arab.

“Saat itu saya melihat Islam hanya sebatas agama yang menyembah satu Tuhan. Tapi pandangan saya berubah, ketika sepupu saya (Chasid) mengatakan jika seorang Yahudi menjadi Muslim maka ia akan berbuat dosa. Saya sontak terkejut,” kenangnya.

Ketika tragedi 9/11, gerakan anti Islam tumbuh pesat. Awalnya, ia sadar ada sesuatu yang dilindungi. Hal itu yang membuatnya tertarik mengenal lebih dalam tentang Islam. “Saya bersyukur, tanpa mereka (media dan masyarakat), saya tidak akan mendalami Islam,” ucapnya.

Suatu hari, ia mendengar diskusi tentang fakta ilmiah dalam Injil. Sekelebat, ia bertanya, apakah Alquran memiliki fakta ilmiah didalamnya. Pertanyaan itu segera ia cari jawabannya. Ia gali informasi lewat internet. Butuh banyak artikel yang perlu ia baca guna menemukan jawaban itu. ia pun terkejut dengan apa yang ia baca.

“Al-Quran memiliki pesan moral yang luar biasa. Sangat menyenangkan ketika membacanya. Sekitar lima bulan mendalami Islam, akhirnya saya memutuskan menjadi Muslim, dan mengucapkan dua kalimat syadahat, Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Aku bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kenang dia.

Tidak butuh waktu lama, bagi Yacov beradaptasi. Ia melihat Islam merupakan agama yang masuk akal. Islam membantunya memahami dunia. Satu hal yang ia yakini bahwa setiap agama pada dasarnya sama, tetapi telah dirusak oleh manusia dari waktu ke waktu.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebut Yahudi dan Kristen guna memberitahu umat manusia untuk menyembah-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya menyebut Islam, jelas dan sederhana.” ujarnya penuh keyakinan.

sumber :klik

06.11 | Posted in | Read More »

David Sanford Scherer, Gema Takbir & Adzan Menuntunku kepada Islam

Gema takbir yang menggema di malam Idul Fitri — sekitar 17 tahun silam — telah menggetarkan hati David Sanford Scherer. Kalimah yang mengagungkan Sang Khalik itu membuatnya merinding. Cahaya iman pun menyala dalam hatinya. Seketika itu pula, pria kelahiran Yokohama, Jepang itu memutuskan untuk memeluk Islam.

‘’Langsung saya bilang mau masuk Islam. Alhamdulillah, di malam takbiran itu, saya memeluk Islam,’’ ujar ayah dua anak itu berkisah kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri.

Tak hanya gema takbir yang membuat David memeluk Islam. Suara azan yang berkumandang setiap lima kali dalam sehari juga telah menjadi pembuka pintu hidayah. Pengusaha makanan di Pulau Dewata itu mengaku selalu merinding setiap kali mendengar takbir di malam hari raya.

’’Makanya, kalau malam takbiran saya nggak di Bali. Karena di sini (Bali, red) kita nggak mendengar suara takbir. Biasanya saya ke Jakarta, mertua saya di Ciputat,’’ papar suami dari Indriani Kuntowati itu.

David hijrah ke Indonesia bersama orangtuanya pada tahun 1980-an. Kedua orangtuanya mencoba berbagai usaha, hingga akhirnya menetap di kawasan Menteng Dalam. Seperti halnya, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, David pun mulai mengenal puasa, shalat, serta takbir dari lingkungan Menteng Dalam.

Ia sungguh amat bersyukur. Betapa tidak. Ia telah menjadi seorang Muslim. Menurut David, umumnya orang Indonesia terlahir dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Namun, kata dia, muallaf umumnya lebih cepat memahami, menjiwai, serta 100 persen mengamalkan ajaran Islam.

‘’Itu, karena mereka (muallaf, red) mengetahui bahwa Islam adalah agama terbaik,’’ ungkap mantan pengurus Yayasan Dyatmika Sekar Bawana itu. Menurut David, untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik, para orangtua Muslim harus menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya.

Seringkali, papar David, orangtua menyuruh anak-anaknya mengaji, sementara mereka tak melakukannya. Padahal, kata dia, contoh terbaik itu harus dimulai dari setiap orangtua di rumah. ‘’Apa saja kebaikan, harus dicontohkan orangtua, baru anak mengikutinya dengan baik.Tapi kalau cuma perintah, sedang orang tuanya tidak melakukan, itu akan sulit dilaksanakan dengan baik.’’

Sebagai seorang Muslim, David berupaya menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya. David tak pernah henti bersyukur. Semangat menjalankan ajaran Islam yang dilakukannya telah diikuti kedua anaknya. Bahkan, anaknya telah menjadi imam shalat di mushala sekolahnya.

David bersama putranya berhasil memperjuangkan hadirnya mushala di sebuah sekolah nasional plus campuran. ‘’Alhamdulillah, sekarang di sekolah anak saya sudah ada mushala. Itu saya perjuangkan selama satu tahun,’’ tuturnya sumringah.

Pihak sekolah memberi ruangan bekas gudang untuk digunakan sebagai mushala. David pun membersihkan gudang itu dan menyulapnya menjadi tempat untuk beribadah kepada Allah SWT. ‘’Anak saya sekarang sudah menjadi imam di mushala. ‘Alhamdulillah, Allahu akbar,’’ ujar David.

Apa pendapat David tentang umat Islam di Indonesia? Secara jujur, ia mengungkapkan, sebagian besar umat Islam masih memandang seseorang dari materi dan kekuasaan. ‘’Contohnya, saya berseragam dengan memakai baju gamis, orang pikir saya ustadz. Besoknya, saya pakai celana jeans bolong-bolong, saya ucapkan Assalamu’alaikum, mereka nggak mau jawab. Naif sekali.’’

Selain itu, David juga menyayangkan masih banyak umat Islam di Indonesia yang belum mampu memahami dan mengamalkan tuntunan Alquran. ‘’Maaf-maaf kata, berangkat haji dengan uang nggak bersih saja, tak malu,’’ cetusnya.

Ia merasa optimistis, Bali bisa menjadi jendela bagi Islam Indonesia ke dunia. Salah satu contoh, kata David, jamaah shalat subuh Masjid Baitul Makmur di Denpasar seperti shalat Jumat. Bisa jadi, papar dia, itu karena muslim di Bali masih minoritas.

‘’Kalau suatu hari kita jadi mayoritas. Apakah itu akan kendur? Mengapa rumah ibadah di Jawa banyak? Orang berlomba-lomba untuk membuat rumah ibadah, subuh ada jamaahnya tidak? atau hanya takmir masjid saja dua sampai tiga orang?,’’ ucap David.

Menurut dia, bukanlah sesuatu yang mustahil, kelak Bali akan menjadi jendela Islam Indonesia bagi dunia. Asalkan, papar dia, setiap Muslim mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tanpa menimbulkan ketersinggungan di kalangan orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa kesannya terhadap peristiwa Bom Bali? Ketika peristiwa Bom Bali terjadi, David mengaku merasakan sedih luar biasa. ‘’Empat hari saya di kamar jenazah. Sampai mobil pendingin saya pinjamkan untuk menyimpan jenazah. Orang pada waktu itu bilang, ‘Wah pak, nanti mobilnya bawa sial!’ Wallahu ‘alam saya bilang waktu itu. Yang penting saya ingin menolong.”

Dalam pandangannya, peristiwa Bom Bali merupakan kejadian yang sangat berat. ‘’Kejadian itu benar-benar sangat berat. Tapi berkat gotong royong di Bali, Alhamdulillah lancar. kalau saya pribadi tidak seratus persen berkeyakinan bahwa itu dikerjakan kelompok Islam yang fanatik atau radikal. Tapi itu lebih pada upaya menggoyang ekonomi di sini yang cukup mapan,’’ ungkap David.

Ada kebiasaan menarik yang dilakukan David Scherer dan teman-temannya di Bali. Warga asal Amerika Serikat (AS) yang sejak 17 tahun lalu memeluk Islam itu, saban Jumat mengunjungi sejumlah masjid yang ada di Denpasar secara bergantian. Tak hanya bersilaturahim, ia berbagi dengan para jamaah shalat Jumat dengan membagikan nasi bungkus.

’’Alhamdulillah, sejak satu tahun lalu secara rutin saya dan kawan-kawan mengunjungi dan bersilaturahim ke masjid-masjid di Denpasar. Tak hanya itu, dalam setiap kali kunjungan, saya selalu membawa dan membagikan ratusan nasi bungkus buat jamaah shalat Jumat,’’ papar David.

Apa yang mendorong David dan teman-temannya di Denpasar sangat semangat berbagi makanan usai shalat Jumat? Menurut David, berdasarkan pengalamannya, seusai Jumatan banyak orang yang terburu-buru meninggalkan masjid untuk mendapatkan makan siang.

Alasannya, kata dia, jam istirahatnya baik dari kantor swasta maupun negeri, tidak terlalu panjang. Akibatnya, lanjut David, banyak jamaah salat Jumat yang terburu-buru keluar masjid untuk makan siang, dan tidak sempat lagi bersilaturahim sesama jamaah.

Nah, David dan kawan-kawannya berusaha memotong alasan untuk segera mendapatkan makan siang itu dengan cara mengantarkan nasi ke masjid. ”Sekarang nasinya saya bawa ke masjid. Akhirnya, mereka nggak usah buru-buru lagi meninggalkan masjid. Kita bisa silaturahim sambil menikmati makan siang,” ungkap David penuh bahagia.

Berapa lama David dan kawan-kawan bisa mengelilingi seluruh masjid di Denpasar yang jumlahnya tak kurang dari 200 masjid? ”Kira-kira saya membutuhkan waktu selama empat tahu barun untuk bisa mengunjungi seluruh masjid di Denpasar, itu pun dengan syarat setiap Jumat saya harus terus keliling. Sedangkan untuk bisa mengeliling seluruh masjid di Bali, saya membutuhkan waktu selama delapan tahun.”

Ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa atas apa yang ia lakukan bersama-sama temannya itu.

sumber : klik

04.17 | Posted in | Read More »

Abd Al-Malik, Kisah Musisi Rapper Prancis yang Bersyahadat di Jalanan

Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan narkoba, Abd al-Malik bisa saja tak punya masa depan. Beruntung ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, yang menghadiahinya nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pada sebuah pencarian spiritual.

Sebagai seorang rapper, di awal keislamannya, Abd al-Malik sempat kalut saat mendengar Islam tak sejalan dengan seni musik yang dipilihnya. Dalam otobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik mengatakan budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berlebihan pada orang asing) yang meluas.

Ia hidup di sebuah ghetto (lingkungan tempat tinggal para kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.

Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anak-anak imigran, juga iklim kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi. Karena itu, ketika mulai populer pada 1990-an, musik rap dikritisi sebagai seni yang mengagungkan kekerasan dan mempertinggi ketegangan rasial.

***

Sebelum memeluk Islam, ia bernama Regis. Dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fayette-Mikano . Pada 1977, Regis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibukota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Saat Regis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis orang anaknya. Dan sejak itu pula, Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.

Di lingkungan barunya yang keras, tanpa sosok ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan-kejahatan kecil yang dilakukannya, ia terus tumbuh menjadi penjahat yang berhasil membangun dominasi bersama beberapa temannya.

Ia menjambret dan mencuri mobil, demi untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Regis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang berprestasi di sekolah, serta penjahat jalanan yang lihai.

Regis pun memilih musik rap untuk menyalurkan frustasinya, juga bercerita dan menyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada tahun 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan sekelompok temannya dan menciptakan New African Poets, disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang telah berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam menawarkan sebuah identitas yang menantang.

Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para dai Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Regis memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, bersama para Muslim tersebut, ia berkeliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta berhenti meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.

Beberapa lama terlibat, Abd al Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang secara eksplisit keras. Namun, katanya dalam Sufi Rapper, ajaran tersebut secara fanatik mendorong para imigran muda untuk mencerca segala sesuatu yang sekular, modern, dan kebarat-baratan. “Dan itu justru memperdalam rasa keterasingan kami,” ujarnya.

Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena rap adalah musik modern, dan ia kebarat-baratan.”

Abd al Malik terjebak dalam paradoks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melakukan kejahatan dan menjadi pengedar narkoba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”

Hingga pada akhirnya, suatu hari, Abd al Malik pergi ke seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil memegang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al Malik terduduk dan menangis seorang diri di apartemennya.

***

Kekacauan batin itu mendorongnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.

Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. “Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain,” katanya.

Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa memposisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama dengan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”

Pergeseran pola pikir itu memperluas pandangan Abd al Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya, dengan mengusung pesan yang menyerukan pemahaman antar ras. Salah satu lagunya, “12 September 2001,” adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sebuah lagu lainnya, “God Bless France,” menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.

Dalam otobiografinya, Abd al Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jaz, nyanyian, dan puisi kecaman yang estetis.

Ketika para rapper lain terus menciptakan ‘musik amarah’ dan–beberapa diantaranya–dituduh menghasut kekerasan, Abd al Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia menunjukkan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”

sumber : klik

22.52 | Posted in | Read More »

Denise, Saya Penari…Bolehkah Saya Masuk Islam?

Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London.

Wanita berusia 25 tahun ini lincah di atas panggung, dan sesekali berjilbab di kesehariannya. Tak ada yang menyangka, jebolan London College of Dance/Middlesex University tahun 1998 ini melalui pergulatan batin panjang sebelum memeluk Islam.

Perkenalannya dengan Islam dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia enggan menceritakan siapa yang mengenalkan pertama kali, namun peraih gelar sarjana tari dengan nilai tertinggi ini menjadi sangat ingin tahu belajar tentang Islam.

“Semakin saya membaca banyak tentang Islam, semakin saya mengakui agama ini sungguh masuk akal,” katanya. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Masjid Regent’s Park hanya untuk membaca terjemahan Alquran.

Seperti Alkitab, Quran menyebutkan nabi, malaikat, mukjizat, perbuatan baik dan buruk, pahala dan hukuman, pertobatan dan pengampunan, surga dan neraka, Adam dan Hawa, Taurat, Injil dan banyak hal lainnya yang akrab baginya. “Namun pertanyaan yang telah berlama-lama mengendap dalam pikiran saya sejak sekolah Katolik akhirnya terjawab, tentang konsep ketuhanan,” ujarnya.

Suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2009, ia memberanikan diri datang ke ruang shalat di masjid itu. “Saya memutuskan untuk menghadiri shalat Taraweh selama bulan Ramadhan. Menuju masjid, di dalam mobil saya gugup, bagaimana saya harus bershalat,” ujarnya mengenang.

Ia mengamati shalat berjamaah yang sungguh menyentuh hatinya. Tekad Denise untuk menjadi Muslimah tak lagi bisa terbendung. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya, “Bisakah seorang penari menjadi Muslimah?”

Komunitas masjid menyambutnya dengan hangat. Denise pun menyatakan syahadat.

Kini, ia tetap menjadi penari, dan makin rajin belajar agama. “Keluarga saya menerima dan bahkan sangat bahagia, karena saya menemukan sesuatu yang membuat saya begitu bersemangat,” ujarnya.

Ia menyatakan, citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap. “Tuhan telah menciptakan Anda dan membawa Anda dalam perjalanan hidup Anda karena suatu alasan, jadi biarkan orang melihat keindahan Islam melalui Anda,” ujarnya.

sumber :klik

05.43 | Posted in | Read More »

Stuart Mee, Melakukan Pencarian Agama Selama 3 Tahun

Satu lagi warga Inggris menganut Islam. Dia adalah Stuart Mee, seorang pegawai negeri sipil. “Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup yang tidak bisa tergantikan dengan harta benda apapun,” katanya.

Pria berusia 46 tahun asal West Reading ini mulai melakukan pencarian agama tiga tahun lalu. Beragam agama yang ada di sekitarnya dipelajari. Namun, hatinya kemudian tertambat pada Islam. “Jauh di lubuk hati saya, saya selalu percaya pada makhluk yang lebih besar, dan Islam mengenalkan konsep Allah,” ujarnya.
Ia rajin mendatangi perpustakaan umum untuk membaca buku-buku keislaman, dan mengenal Islam dari beragam sumber. Sesekali, ia datang ke Masjid di London Tengah untuk sekadar mendengarkan ceramah agama. “Sampai di titik itu, saya makin yakin Islamlah yang saya cari,” kata Mee.

Namun, untuk satu dan lain alasan, ia menyembunyikan keinginannya untuk berislam. Sampai kemudian, ia tak bisa menahannya lagi. “Saya menemukan ‘sesuatu yang hilang dari hidup saya’ — saya tahu ini kalimat yang klise dan usang, tapi itu benar — dan saya memutuskan untuk segera bersyahadat,” katanya.

Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum berislam adalah: ia perlu mempersiapkan diri keluar dari “zone nyaman” yang selama ini memeluknya, dan masuk dalam “wilayah yang belum teruji”. “Ya, saya memiliki kegamangan: Muslim seperti apa? Apakah mereka seperti yang digambarkan dalam berita? Bagaimana dengan wanita dalam Islam? Bagaimana orang di sekitar saya akan membincangkan saya setelah berpindah agama?”
Namun, ia mengaku, “Ada hal yang saya temukan tidak biasa tetapi ini sebanding dengan aspek indah kehidupan Islam.”
Ia pun kemudian mengirimkan email pada seorang imam, menyatakan keinginannya masuk Islam. Tak disangka, emailnya berbalas di hari itu juga. bahkan, mereka sempat melakukan chatting 15 menit terlebih dulu untuk menanyakan kemantapan hatinya.
Ia menyebut, berislam membuat sebuah “perbaikan jangka pendek” dalam hidupnya. “Saya berhenti menjadi seorang pecandu, tidak konsumtif, dan hidup lebih tertata,” ujarnya.

sumber :klik

00.52 | Posted in | Read More »

Alexander Husseini, Saya Bangga Menjadi Muslim

Australia bukanlah negara Islam. Kebudayaan Barat yang dianut Australia pun kerap bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.

Tetapi bagi Alexander Husseini, atau Alex, hal ini tidak membuatnya membatasi pergaulan.

“Islam mengajarkan pemeluknya untuk memiliki karakter yang kuat. Sebagai Muslim, kita harus tunjukkan kalau bertingkah laku yang beradab,” ujarnya.

Usianya masih terbilang sangat muda, 21 tahun. Tetapi justru ia tidak ingin masa mudanya hilang begitu saja. Ia ingin terus teguh memegang keimanannya, sambil berharap bisa membantu orang lain.

Menurut Alex, jika kita mampu berperilaku seperti apa yang sudah diajarkan Islam, maka orang lain akan semakin menghormati kita. Tak jarang, bahkan menjadi panutan bagi yang lain.

Alex sehari-harinya bekerja membantu bisnis keluarganya, yakni sebuah toko keju yang selalu ramai dikunjungi di pasar terkemuka, Queen Victoria Market di Melbourne.

Ia bukanlah termasuk orang yang malu untuk mengakui dirinya adalah seorang Muslim, ditengah pemberitaan soal Islam yang kerap kali terdengar miring. “Saya jelaskan kepada teman yang lain, jika shalat itu adalah untuk membuat rileks setelah berbagai kesibukan. Juga tempat dimana kita berharap dan berdoa pada Sang Pencipta,” kata Alex.

“Mungkin sama saja bagi sebagian yang melakukan yoga, ya itulah shalat bagi saya.”

“Sementara, puasa adalah untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh mereka yang tidak mampu.”

“Bulan Ramadan juga adalah saat yang tepat untuk berbagi. Bayangkan jika kita semua memberikan sumbangan kepada mereka yang membutuhkan, mungkin masalah kemiskinan bisa diatasi,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya, ia kerap bermain sepak bola, salah satu kegemarannya.

Tak jarang, beberapa diantara temannya kadang merayakan kemenangan dengan berpesta atau minum alkohol, hal yang dilarang dalam ajaran Islam. “Yang terpenting adalah selalu berperilaku terbaik untuk menjaga moral,” tanggapnya soal bagaimana menolak ajakan dan godaan dari sekitar.

Alex pun merasa beruntung karena ia tidak pernah mengalami diskriminasi atau kekerasan yang berbau suku dan agama.

Menurutnya, warga Australia tidak akan langsung begitu saja dalam menghakimi atau menilai seseorang. “Di sini orang akan menilai kita secara bertahap, karenanya jika kita terus menunjukkan yang akhlak yang terbaik, maka orang pun akan sungkan menuduh kita macam-macam.”

Alex memiliki harapan dan mimpi besar bagi Australia. “Kita antar umat beragama sebenarnya bisa mudah bersatu karena ada kesamaan.”

“Kesamaan ajarannya adalah selalu ingin membantu orang yang kesusahan, membantu yang sakit, misalnya,” tambahnya. “Jika ini yang dipersatukan, maka akan sangat bermanfaat dan berguna untuk orang lain”


sumber :klik

10.55 | Posted in | Read More »

Dianne Breslin: Islam Menjawab Semua Pertanyaanku tentang Tuhan

Dianne Charles Breslin dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Ayahnya seorang misionaris. Bahkan, dua orang bibinya biarawati.

Dianne sendiri menghabiskan pendidikannya di sekolah gereja. “Aku dikelilingi doktrinasi soal trinitas. Sepanjang hari, aku melihat salib, para suster, patung Yesus dan Bunda Maria,” tuturnya kepada Islam Religion.

Hingga memejamkan mata, Dianne tiada henti memikirkan konsep trinitas. Konsep yang menjadi titik awal keraguannya dalam mendalami ajaran Kristen. “Yang ada dalam pikiranku, kadang aku tidak berdoa untuk Tuhan yang sebenarnya. Aku berdoa kepada sosok yang mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membantuku,” kata dia.

Dianne merasa ragu, setiap kali berdoa dan menyebut nama Bapa, anak dan roh kudus, ia tidak dapat meyakinkan diri apakah doa itu sampai kepada yang Mahakuasa. Ia tidak tahu di mana Tuhan sebenarnya. Ia hanya mengucapkan apa yang diajarkan padanya sedari kecil.

Di ulang tahunnya yang ke-12, sang bunda memberikan Dianne sebuah Alkitab. Sebagai penganut Katolik, ia tidak diperkenankan untuk membaca apa pun selain Katekimus Baltimore.

Namun, Dianne tak mematuhi keharusan tersebut. Ia membaca buku lainnya dengan harapan dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal hatinya. “Aku tahu betul, buku yang wajib dibaca itu sangat berbelit dan sulit dipahami,” ujarnya.

Memasuki usia 20 tahun, Dianne mulai membaca literatur agama lain seperti Hindu dan Buddha. Namun, ia merasa tidak tertarik dengan ajaran-ajarannya. Menurut Dianne, kedua agama itu terlalu eksotis dan tidak memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaannya. “Dalam hal ini, aku coba maksimalkan naluriku untuk mencari kebenaran,” tuturnya.

Lulus kuliah, Dianne melanjutkan studinya ke jenjang S2. Saat itulah, ia pertama kali mendengar tentang Al-Quran.

Seperti kebanyakan warga AS, Dianne tahu Al-Quran itu identik dengan imigran Arab. Dalam bayangannya, imigran Arab itu tak lebih dari sosok misterius yang berusaha merusak peradaban Barat.

“Secara spesifik, aku tidak pernah mendengar tentang Islam. Aku gambarkan imigran Arab itu bermuka masam, memiliki unta dan menetap di padang pasir,” tuturnya.

Studi yang ia tempuh mengharuskan Dianne untuk mempelajari agama lain. Ketika itulah, muncul kembali pertanyaan dalam dirinya. Ia bingung, mengapa Yesus dari Nazareth memiliki mata biru.

Ia coba simpulkan sendiri dengan pengetahuan yang didapat. Hasilnya, Dianne merasa ada sesuatu yang luput. “Melihat sejarah perang Arab-Israel tahun 1967, aku merasa bersimpati dengan bangsa Arab. Walau aku tak tahu alasannya. Ketika memeluk Islam, aku baru sadar, bahwa mereka (Arab) saudara seimanku,” kata dia.

Di usia 35 tahun, Dianne mulai bersinggungan dengan Al-Quran. Itu pun hanya untuk keperluan tugas kuliah. Ia buka Al-Quran, dan membaca Surah Al-Mu’minun ayat 52-54:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.”

Menurut Dianne, ayat yang ia baca ini mengandung kebenaran yang jelas dan kuat. “Sungguh menyedihkan, ketika manusia menolak kebenaran dan terlibat dalam persaingan yang sia-sia. Di sini aku melihat bangsa, kebangsaan, budaya dan bahasa yang beragama itu pada dasarnya hanya menyembah satu Tuhan, pemilik semesta raya,” kata dia.

Kekagumannya pada ayat Al-Quran belum cukup membuat dirinya meninggalkan agama Kristen. Namun, dalam diri Dianne masih terdapat pergulatan batin yang begitu dahsyat. Ia merasa, Bunda Maria, nama yang ia sering sebut saat berdoa, merupakan sosok yang malang. Perempuan itu difitnah lantaran penafsiran keliru.

“Ibuku selalu mengatakan agar aku berdoa kepadanya. Tapi aku paham, orang tuaku sepertinya tidak sadar kalau sebenarnya Maria diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk menanggung fitnah itu. Tuhanlah yang menciptakan Maria, maka kepada Tuhanlah seharusnya seseorang memohon pertolongan,” kata dia.

Dianne mengatakan Yesus, atau Isa dalam bahasa Arab tidak pernah sekalipun mengaku sebagai anak Tuhan. Sebaliknya, ia berulang kali menyebutnya sebagai pembawa pesan. Lagi-lagi, Dianne kembali bingung.

Menurut logika Dianne, pernyataan itu sudah cukup untuk memastikan bahwa Yesus adalah Nabi. “Ia datang atas perintah Tuhannya. Posisinya serupa dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia ajak untuk kembali pada-Nya, tempat di mana setiap manusia akan kembali,” kata dia.

“Tidak ada masalah dengan perbedaan fisik di antara mereka. Entah Arab, Yahudi, Kaukasus, bermata biru atau coklat, rambut panjang atau pendek. Semua perbedaan itu jelas tidak relevan atas kehadiran mereka sebagai pembawa pesan Tuhan,” paparnya.

Setiap kali memikirkan Yesus—dan setelah ia mengetahui tentang Islam—Dianne merasa ada benang merah yang kuat bahwa Yesus adalah seorang Muslim, seorang hamba yang tunduk kepada Tuhan yang Mahakuasa. “Dalam sepuluh perintah Tuhan disebutkan, Akulah Tuhan, Allahmu, jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.”

Sementara, lanjut Dianne, dalam Alquran disebutkan dalam Surah Maryam ayat 88-90, “Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah-belah, dan gunung-gunung runtuh.”

Menurut Dianne, jika setiap orang mengetahui makna La Ilaha Illallah (tiada tuhan selain Allah) maka dapat diketahui persamaan dalam kedua ayat dari kitab tersebut. Namun, distorsi penafsiran membuatnya berbeda. “Sudah sewajarnya distorsi ini diakhiri,” kata dia

Butuh tiga tahun bagi Dianne untuk mendalami Al-Quran sebelum dirinya untuk menyatakan diri menjadi Muslim. Tentu, ia merasa khawatir dengan perubahan yang akan dialaminya, seperti tidak diperbolehkannya seks bebas dan konsumsi minuman keras. “Musik dan dansa bagian dari hidupku. Bikini dan pakaian serba minim merupakan favoritku,” kenang Dianne.

Lantaran merasa ragu, Dianne mencoba untuk menyambangi Islamic Center, yang jaraknya satu jam dari tempat ia tinggal.

Setibanya di masjid—saat itu tengah berlangsung pelaksanaan shalat Jum’at—tidak ada yang bersedia untuk menemui Dianne. Itu karena, Dianne dianggap sebagai mata-mata.

Di tengah fase akhir, Dianne mengalami cobaan. Ayahnya meninggal karena kanker. Ia berada di sisi ayahnya hingga malaikat mau mencabut nyawa. Ia menangis dan takut. Momentum itu membuat Dianne tak sabar untuk memeluk Islam.

Ia pergi ke Mesir setelah kematian ayahnya. Di Negeri Fir’aun itu ia menemukan kebenaran yang ia cari; Tuhan yang satu, kekal abadi, yang tidak pernah dilahirkan ataupun memiliki anak.

“Dalam Al-Quran disebutkan, orang-orang yang terbaik adalah orang-orang yang shaleh. Sebelum anda menjadi shaleh, anda harus mencari siapa Tuhan itu,” kata Dianne yang segera belajar bahasa Arab guna mempermudah dirinya mengkaji Al-Quran.

Dianne mengaku semenjak ia mempelajari Al-Quran, ia tidak lagi ingin mengejar kemewahan dunia. Hobi belanja yang biasa ia lakukan mulai dikurangi. Ia pun ikhlas bila teman dan keluarga meninggalkannya karena statusnya sebagai Muslim. “Jika Tuhan memilih untuk membawa mereka pada Islam, maka jadilah. Tapi aku tahu, bahwa Tuhan memberi apa yang dibutuhkan, tidak kurang dan lebih.”

Kini, ia telah menjadi Muslim. Namun, ia tidak egois. Ia tak ingin menikmati sendiri hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan padanya. Ia mengharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberikan hidayah serupa kepada masyarakat Amerika Serikat.

Dianne mengatakan masyarakat Amerika Serikat sudah terlalu stres dengan situasi duniawi. Sudah saatnya mereka untuk menuju kebenaran hakiki, kebenaran yang selama ini dihina, ditolak dan diacuhkan.

“Aku peduli dengan masa depan Amerika Serikat. Aku berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga Amerika Serikat untuk menerima pesan dari keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara sederhana,” pungkasnya.

sumber :klik

20.35 | Posted in | Read More »

Maurice Bucaille, Meneliti Mumi Fir'aun dan Memutuskan untuk Masuk Islam

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.

sumber : klik

01.25 | Posted in | Read More »

Molly Carlson, Mengenal Islam Lewat Buku dan Mimpi

Molly Carlson tak menduga sebuah buku fiksi yang dibacanya di masa kecil akan membuatnya mengenal Islam. Selanjutnya perkenalan itu secara tidak sadar membekas di hatinya.

Membuatnya diam-diam meyakini Islam sebagai agama yang paling benar. Bahwa semua doa, pelayanan, dan salib yang disilangkannya dengan jari di dadanya, hanyalah sebuah kegiatan yang selama ini tak menyentuh hatinya.

“Saya tidak ingat berapa umur saya ketika membaca buku itu, tapi saya ingat betul satu adegan di buku itu yang membuat saya mengenal Islam dan mempertanyakan identitas saya sebagai Katolik,” ujarnya. Itu adalah buku King of the Wind karangan Marguerite Henry. Buku itu menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang berasal dari Maroko dan kudanya.

Sementara adegan yang dikenang Molly adalah ketika anak tersebut dikisahkan berpuasa saat Ramadhan. “Entah mengapa setelah membaca kisah tersebut, hati saya tiba-tiba tergerak,” katanya. Sejak itu, dia mulai tertarik terhadap Islam. Rasa penasaran menuntunnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan agamanya saat itu.

Lalu beberapa mimpi menuntunnya untuk mengenal Islam lebih dalam. “Pada umur 12 tahun saya mendapatkan mimpi misterius yang tidak benar-benar saya mengerti. Tidak menakutkan, namun mimpi itu seperti merefleksi hati saya ketika itu,” ujarnya. Di mimpi itu, Molly berdiri di sebuah ruangan kotak yang dindingnya terbuat dari kayu dan memiliki karpet berpola di lantainya. Ruangan tersebut diterangi oleh lentera.

Molly berdiri di tengah ruangan tersebut. Di sebelah kirinya terdapat sebuah pintu kayu berukir untuk masuk ke ruangan lainnya. Meskipun terpisah pintu, namun dalam mimpi tersebut Molly melihat banyak perempuan di dalam ruangan tersebut. Mereka semua menggunakan hijab. Sementara ruangan tempat dia berdiri saat itu adalah ruangan yang dipenuhi laki-laki.

Di dalam mimpi itu, Molly sadar bahwa apa yang dilakukannya salah. Bahwa seharusnya dia tidak berada di ruangan tersebut. Bahwa seharusnya dia bergabung dengan para perempuan di ruangan sebalahnya. Dalam mimpi itu pula dia menyadari keberadaan sebuah kekuatan besar yang dipahaminya sebagai sosok Tuhan. Namun Dia merasa kecewa kepada Molly karena berada di ruangan tersebut. Entah mengapa, mengetahui hal tersebut, Molly merasa sangat sedih. Mimpi tersebut membuat Molly kecil semakin bertanya-tanya.

***

Di lain waktu, mimpi lain menyerbunya. Saat itu, Molly telah cukup dewasa untuk membuat keputusan atas dirinya. Dalam mimpi tersebut, Molly melihat seorang perempuan berdiri di sebelahnya. Perempuan itu menggunakan hijab hitam yang menutup tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang ninja. Molly hanya bisa melihat mata perempuan itu.

Dia merasa takut melihat sosok tersebut, namun lalu memberanikan diri untuk mendekat kepada perempuan tersebut. Dia melihat mata perempuan tersebut lebih seksama. Dia terkejut mengetahuo bahwa perempuan yang berada di depannya itu adalah dirinya sendiri. “Saya bisa tahu dari mata itu. Itu mata saya. Kami seperti cermin. Sejenak saya berpikir bahwa mimpi tersebut adalah masa depan saya kelak,” ujarnya.

Kejadian demi kejadian tak lantas membuatnya sebagai muslim. Eksplorasinya tentang Islam yang lebih mendalam baru dilakukan setelah peristiwa 9/11. “Saat itu saya sedang menempuh semester pertama saya di kuliah. Saya berusia 18 tahun,” katanya. Ketika peristiwa itu terjadi, Molly memiliki sejumlah teman dekat yang beragama Islam. Namun selama ini, pertemanan mereka tidak banyak menyinggung soal agama. “Kami tidak membahas tentang agama setiap kali bertemu. Mereka tidak pernah mempertanyakan keyakinan saya dan tidak pernah memaksakan keyakinan mereka kepada saya,” katanya.

Sayangnya peristiwa tersebut telah menyebarkan kebencian terhadap muslim. Namun tidak demikian dengan Molly. Penilaiannya tentang teman-temannya itu tidak berubah. Mereka tetap menjadi sahabat baik bagi Molly. Tak ada kebencian yang ada adalah simpati. Bukan pada korban yang meninggal karena peristiwa tersebut, namun pada teman-temannya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu tetap dihakimi hanya karena mereka muslim.

“Saya tidak tega melihat teman saya diperlakukan tidak baik pasca kejadian tersebut. Saya sudah mengenal mereka sejak lama. Mereka orang yang sangat baik. Bukan teroris ataupun ekstremis,” ujarnya.

Suatu kali, Molly pernah meminjam hijab, abaya, dan niqab milik seorang temannya dan datang ke kampusnya dengan penampilan tersebut. Hal tersebut dilakukannya hanya untuk mencari tahu bagaimana rasanya menjadi mereka. “Kenyataannya saya benar-benar diperlakukan secara berbeda. Perlakukan yang keras bahkan membuat saya menangis,” ujarnya.

Perlakukan tersebut tak menyurutkan keputusannya untuk memeluk Islam di kemudian hati. Pada 2005, ketika usinya 22 tahun, di ruang tamu sebuah keluarga Muslim kenalannya, Molly membaca syahadat.

“Saya masih ingat betul perasaan saya saat itu. Saya merasakan tangan Tuhan merangkul saya dan mencabut dosa saya serta membuat saya menjadi orang yang baru,” katanya. Sejak saat itu, Molly tidak pernah melihat ke belakang. “Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menemukan lebih banyak arti dan kesenangan dalam hidup saya setelah menjadi muslim,” ujarnya.


sumber :klik

03.48 | Posted in | Read More »

Mohammad Asad, Islam itu Laksana Sebuah Bangunan yang Sempurna Segala-galanya

Pada tahun 1922 saya rneninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.

Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik

Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.

Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan gerak dan maju, di kalangan orang Islam telah berubah menjadi kemalasan dan kemandegan. Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan kemurahan hati dan kesiapan berkorban, di kalangan muslimin sekarang telah berubah menjadi kesempitan berpikir dan senang kepada kehidupan yang mudah, sehingga saya benar-benar bingung memikirkannya, keadaan yang sangat bertentangan antara kaum muslimin dahulu dan kaum muslimin yang sekarang.

Hal inilah yang telah mendorong saya untuk lebih mencurahkan perhatian terhadap persoalan yang rumit ini. Lalu saya mencoba menggambarkan seolah-olah saya sungguh-sungguh merupakan salah seorang anggota masyarakat Islam. Hal itu merupakan percobaan ilmiah murni yang telah memberikan kepada saya dalam waktu yang singkat tentang pemecahannya yang tepat.

Saya telah dapat membuktikan bahwa satu-satunya sebab kemunduran sosial dan budaya kaum Muslimin sekarang ialah karena mereka secara berangsur-angsur telah meninggalkan semangat ajaran Islam. Islam masih tetap ada, tapi hanya merupakan badan tanpa jiwa. Unsur utama yang dahulu pernah tegak berdiri sebagai penguat dunia Islam, sekarang justru menjadi sebab kelemahannya. Masyarakat Islam sejak mulai berdirinya telah dibina atas dasar keagamaan saja, dan kelemahan dasar ini tentu saja melemahkan struktur kebudayaan, bahkan mungkin merupakan ancaman terhadap kehancurannya sendiri pada akhirnya.

Semakin saya mengerti bagamana ketegasan dan kesesuaian ajaran Islam dengan praktek, semakin menjadi-jadilah pertanyaan saya, mengapa orang-orang Islam telah tidak mau menerapkannya dalam kehidupan yang nyata? Tentang ini saya telah bertukar pikiran dengan banyak ahli pikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan pegunungan Parmir di Asia tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab. Suatu soal yang hampir selalu menguasai pikiran saya melebihi pemikiran tentang lain-lain kepentingan dunia Islam. Soal ini tetap menjadi titik berat perhatian saya, sampai akhirnya saya, seorang yang bukan Muslim, berbicara terhadap orang-orang Islam sebagai pembela agama Islam sendiri menghadapi kelalaian dan kemalasan mereka.

Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 di pegunungan Afganistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya: “Tapi Tuan adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya.” Saya sangat kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-diam saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke Eropa pada tahun 1926, saya pikir satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah saya harus memeluk agama Islam. Hal itulah yang telah menyebabkan saya menyatakan ke-Islam-an saya, dan sejak itu pulalah datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi: “Mengapa engkau memeluk Islam? Apanya yang telah rnenarik engkau?”

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam yang telah merebut hati saya, sebab Islam itu adalah satu keseluruhan yang mengagumkan; satu struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih nnenarik perhatian saya.

Dalam pandangan saya, Islam itu adalah laksana sebuah bangunan yang sempurna segala-galanya. Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang mutlak sempurna dan perpaduan yang kuat.

Mungkin kesan saya bahwa segala sesuatu dalam ajaran Islam dan teori-teorinya itu tepat dan sesuai, telah menciptakan kekaguman yang amat kuat pada diri saya. Mungkin memang demikian, mungkin pula ada kesan-kesan lain yang sekarang sulit bagi saya menerangkannya. Akan tetapi bagamanapun juga hal itu adalah merupakan bahan kecintaan saya kepada agama ini, dan kecintaan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam sebab; bisa merupakan perpaduan antara keinginan dan kesepian, bisa merupakan perpaduan antara tujuan yang luhur dan kekurangan, dan bisa merupakan perpaduan antara kekuatan dan kelemahan.

Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hati saya, laksana seorang pencuri yang memasuki rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya, tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi. Sejak itu saya telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat saya pelajari tentang Islam. Saya telah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. Saya pelajari bahasa agama Islam berikut sejarahnya, dan saya pelajari sebahagian besar buku-buku/tulisan-tulisan mengenai ajaran Islam dan juga buku-buku/tulisan-tulisan yang menentangnya.

Semua itu saya lakukan dalam waktu lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga saya bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan kaum Muslimin dari berbagai negara, dimana saya dapat membandingkan beberapa pandangan keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.

Semua pelajaran dan perbandingan itu telah menanamkan kepuasan dalam hati
saya, bahwa Islam sebagai satu keajaiban rohani dan sosial masih tetap tegak, walaupun ada kemunduran-kemunduran yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan kaum Muslimin sendiri. Sebegitu jauh Islam masih tetap merupakan kekuatan terbesar yang pernah dikenal ummat manusia. Dan sejak waktu itu perhatian saya tumpahkan untuk mengembalikan agama ini kepada kejayaannya semula.

sumber :klik

19.48 | Posted in | Read More »

Jeremy Boulter: Allah Itu Maha Perkasa, Tak Butuh Perantara

Dalam beragama Jeremy Ben Royston Boulter, seorang penganut Katolik, berkeyakinan bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya.

Dan sebaliknya, manusia tidak membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan-Nya. Prinsip itu ia jaga saat mencari kebenaran hakiki.

Jeremy dilahirkan memang dilahirkan dalam keluarga Katolik. Akan tetapi ia tidak memercayai Yesus sebagai Tuhan, dan Maria sebagai Ibu Tuhan. Menurutnya, Yesus dan Bunda Maria hanyalah penghubung Sang Pencipta.

“Saya merasa frustasi dengan Perjanjian Lama. Terlalu banyak kejanggalan. Misalnya saja, Tuhan menganggap Yerusalem sebagai istrinya, dan apa yang dipercaya membuat keduanya berposisi sejajar. Tetapi, Tuhan memanggilnya pelacur, dan memintanya agar bertobat. Bagaimana ini?” kata dia.

Jeremy menduga Alkitab merupakan dalih gereja untuk tujuan tertentu. Merasa tak menerima logika yang dibangun Alkitab, ia memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol. Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli.

“Dari apa yang saya baca, saya melihat upaya gereja menahan dan menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Saya percaya Tuhan versi Alkitab adalah palsu, dirancang untuk membohongi banyak orang demi kekuasaan,” ucapnya.

Dalam pemahaman Jeremy, Tuhan versi Alkitab adalah sosok yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Ia membutuhkan medium untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya. Jadi, Jeremy sulit menerima logika ini.

Pemahaman itu kian menguat ketika ia banyak membaca fiksi ilmiah dan teori konspirasi primitif. Menurutnya, pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) membuka pikirannya bahwa ada semacam konpirasi yang dilakukan kalangan elit dan pemerintah terhadap masyarakat awam.

Namun, tidak setiap negara dan pemerintahan terlibat dalam konspirasi besar. “Saya membutuhkan perbandingan guna mendapatkan kesimpulan yang pasti. Maka saya jadikan Hindu dan Buddha sebagai bahan perbandingan,” kata dia.

Jeremy mulai mempelajari Hindu. Ia ikuti ritual dalam agama tersebut seperti meditasi. Selama meditasi ia merasa tenang, tapi ketika bicara bagaimana dunia dan manusia tercipta, ia merasa aneh.

“Mereka bicara tentang kosmos, evolusi dan reinkarnasi. Jelas, saya segera meninggalkan agama ini,” tuturnya.

Usai mendalami ajaran Hindu, ia eksplorasi ajaran Buddha. Dalam kepercayaan Buddha, Jeremy menyimpulkan, setiap manusia mencari pencerahan dan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Pencerahan ini meniadakan ego. “Saya melihat agama ini lebih banyak bicara filsafat,” kata dia.

Jeremy menyimpulkan ajaran Budha seperti konsep dalam pemikiran Karl Marx. Menurut Marx, agama itu adalah candu bagi masyarakat. Karena sifat candu itu, mereka (umat beragama) dikendalikan oleh kelompok elit dalam masyarakat.

Merasa telah memahami ajaran Buddha, ia dalami Toteisme. Jeremy perlu melihat sistem kepercayaan kuno ini guna menarik benang merah dari proses beragama di dunia. Dalam Totemisme, semua hal memiliki penghubung.

Dalam buku James Lovelock, The Revenge of Gaia, disebutkan bahwa bumi adalah sosok yang harus dihormati, mampu membimbing dan melindungi manusia. Namun bagi Jeremy, bumi itu terlalu sempit. Sebab, di luar bumi terhadap langit yang begitu luas.

Guna mendapatkan esensi “penghuni” langit. Jeremy banyak membaca tentang astrologi. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk. “Untuk sementara, saya menjadi peramal amatir,” ujarnya sembari tersenyum.

Suatu ketika, Jeremy bertemu dengan seorang pria. Ia tak ingat siapa namanya. Yang pasti, pria itu berasal dari Irlandia, penganut Katolik Roma. Ketika bertemu dengannya, Jeremy tengah membaca buku karya Stewart Farrar, Omega. Sepanjang hari mereka berdua berbicara panjang lebar tentang konsep Tuhan.

Pria Irlandia itu setuju dengan pemahaman Jeremy soal kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Jeremy berpendapat segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring sejalan dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan Mahadahsyat.

Di tahun pertama penikahannya dengan Anabela, perempuan Portugis penganut Katolik, Jeremy berteman dengan pria pecinta alam.

Suatu hari, Jeremy dan istrinya diajak pria itu mengunjungi tempat favoritnya. Jeremy dan istri sengaja membawa anak mereka, Andrei Micael guna menjalani pembaptisan.

“Saya tidak ingin anak saya dibaptis dengan air suci oleh pastor. Saya memilih untuk membaptisnya dengan air sungai, serupa dengan apa yang dialami Yohannes. Kala itu, ia dibaptis dengan air suci sungai Yordan,” ujarnya.

Dalam hatinya, Jeremy merasa aneh dengan konsep baptis. Sebab, ia meyakini bahwa setiap anak yang lahir ke dunia pada dasarnya tidak membawa dosa apa pun. Sebaliknya, orang dewasalah yang seharusnya dibaptis lantaran terlalu banyak melakukan perbuatan dosa.

Usai membaptis anaknya, Jeremy dan keluarga kecilnya kerap dikunjungi ibu mertua setiap musim panas. Seperti istrinya, ibu mertua Jeremy merupakan penganut Katolik Roma. Ia seorang yang antusias dengan konsep trinitas. Hal itu terlihat dari kalung salib yang sering ia gunakan. Sang ibu mertua juga rutin menyambangi tempat-tempat suci.

“Bagi saya, apa yang diperlihatkan ibu mertua adalah hal yang aneh dan menjijikkan. Ia masih saja menerapkan konsep primitif. Sudah jelas, Tuhan itu perkasa. Dari situ, saya bertekad membujuk ibu mertua untuk tidak lagi bertuhan pada sosok yang masih tergantung oleh mediator,” ungkap Jeremy.

Pikiran Jeremy segera terbang menuju alam logika. Apa yang ditunjukkan ibu mertua, memicu dirinya untuk kembali mengasah kemampuan berpikirnya. “Saya selalu berpikir, bagaimana orang mati apakah masih bisa mendengar? Bagaimana kita tahu tingkat kesalahan mereka? Banyak pertanyaan dalam otak saya. Spontan saja, saya ambil Alkitab,” tuturnya.

Usai membaca Alkitab, Jeremy menyimpulkan, Tuhan membawa umat Yahudi keluar dari Mesir, melepaskan mereka dari perbudakan. Karena itulah, Tuhan melarang umat Yahudi untuk bertuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak bertuhan pada patung berhala atau mahkluk Tuhan yang hidup di langit dan bumi.

Menurut Jeremy, jika itu benar, maka akan banyak bukti bahwa Allah itu satu. Hanya Dia yang bisa mendengar setiap harapan dari umat manusia. “Saya semakin menyadari bahwa apa yang dikatakan Alkitab bertentangan dengan ajaran gereja. Jelas, Alkitab mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu. Saya merasa takut, bahwa saya benar,” ujarnya.

Sejenak pemikiran kritis Jeremy teralihkan dengan persoalan keuangan keluarga. Semenjak putranya lahir. Kebutuhan terus meningkat. Celakanya, pendapatan Jeremy tak kunjung bertambah.

Pada periode inilah, ia mulai menerima cobaan dari Yang Mahakuasa. Cobaan itu sejatinya akan membawa Jeremy pada kekuatan Tuhan seperti apa yang ia yakini selama ini.

Jeremy mulai terjerat utang. Itu terjadi karena ia memutuskan keluar dari pekerjaannya di British Council dan sekolah bahasa di Braga. Alasannya, ia ingin fokus membesarkan putranya. Guna mengimplementasikan niatan itu, ia putuskan membeli rumah karena enggan menetap di apartemen sewa.

Ia sadar bahwa kondisi keuangannya tidak memungkinkan. Oleh sebab itu, ia nekad memijam uang di bank guna membeli rumah dan membuka bisnis kecil-kecilan sebagai guru les bahasa Inggris.

Perlahan tapi pasti, usahanya itu merangkak naik. Sedikit demi sedikit, utangnya berkurang. Tapi Jeremy merasa butuh pemasukan lebih besar. Oleh istrinya, ia disarankan untuk mencari pekerjaan di luar negeri.

Kebetulan, Anabela memiliki banyak kenalan suami teman-temannya yang mencari nafkah di luar negeri. “Saya melihat hanya itu peluang untuk hidup lebih baik,” kata Jeremy.

Suatu malam, Jeremy berlutut menghadap ke timur. Ia curahkan masalah yang ia hadapi kepada Sang Khalik. “Saya katakan pada-Nya, saya merasa putus asa. Saya merasa kesulitan memberi nafkah istri dan anak. Saya meminta pertolongan-Nya. Selama itulah, saya merasa nyaman, dan akhirnya terlelap dalam tidur,” kenangnya.

Keesokan hari, Jeremy menerima kejutan. Dalam kolom surat kabar hari itu, terdapat lowongan pekerjaan di tempat kerjanya yang lama. British Council membutuhkan tenaga untuk ditempatkan di luar negeri. Melihat iklan itu, Anabela menyarankan suaminya agar bekerja di Timur Tengah. Di kawasan itu, menurut pemikiran Anabel, suaminya bakal mendapatkan gaji relatif tinggi.

Awalnya, Jeremy memilih Taiwan. Sayang, ia gagal mendapatkan posisi itu. Dari pilihan yang ada, tersisa Universitas Arab Saudi. Tak disangka, Jeremy diterima untuk mengajar bahasa Inggris. “Segala puji bagi Allah. Ia menjawab doaku. Tapi itu barulah awal, karena Allah memberikan sesuatu yang lebih padaku,” tuturnya.

Jeremy akhirnya berangkat menuju Teluk. Oleh teman-temanya, ia diperingati bahwa di negara itu, Arab Saudi, ia tidak bebas melakukan apa pun.

Bahkan ada koleganya yang menasihati Jeremy agar mengurungkan niatnya itu. “Saya mencoba untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan teman-teman. Saya hanya fokus memikirkan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru,” paparnya.

Benar saja, apa yang diungkapkan teman-temanya itu tidak sesuai fakta. Tiba di bandara, ia disambut dengan hangat. Jeremy memberi poin khusus untuk sambutan ramah tersebut. Awalnya, Jeremy belum merasa tertarik untuk segera mencari tahu seperti apa budaya masyarakat Arab.

Perwakilan kampus segera menjemput dan membawanya. Namun, ia terlebih dahulu harus melalui pemeriksaan paspor dan mengisi formulir kedatangan. Lalu, ia dikirim ke kepala Departamen Bahasa Inggris. Ketika masuk ruangan, ia berhadapan dengan pria berjubah, layaknya pakaian yang dikenakan pria Saudi.

“Ia tidak terlihat seperti orang Arab. Ia pasti merasa tidak nyaman dengan tatapan mataku. Ternyata ia berasal dari Wales, tapi ia telah menjadi Muslim saat bekerja di Brunei, sebelum pindah ke Arab Saudi,” kata Jeremy.

Oleh pria itu, Jeremy diminta untuk beradaptasi selama lima hari sebelum ia resmi mengajar. Lalu, ia diantar menuju rumahnya. Selama perjalanan itu, ia teringat betul pertemuan dengan pria itu. Ingatan itu kembali mendorong Jeremy untuk kembali ke alam logika. Kemampuan berpikirnya kembali diuji.

Jeremy mulai menyadari bahwa Injil dan Taurat saling berhubungan. Tapi ia belum sepenuhnya membaca kitab lain, seperti Talmud, dan Al-Quran. Entah mengapa, ia merasa asing dengan kedua kitab itu. Terlebih, kedua kitab itu menggunakan bahasa berbeda dengan kitab yang pernah ia baca.

Tapi ia tidak menyerah, ia cari kedua kitab itu dalam terjemahan bahasa Inggris. “Saya menuju pusat kota untuk mencari terjemahan itu. Saya menuju bangunan bertingkat di kawasan Ha’il. Lalu saya menemukan bangunan bertingkat bernama Al-Bourj. Di bangunan itu, saya melihat semua toko ditutup pada sore hari,” tuturnya.

Gagal menemukan apa yang ia cari, Jeremy kembali untuk mencari kitab terjemahan itu. Sayang, tak satu pun dari mereka yang memiliki kitab terjemahan. Ia kembali menuju Al-Bourj, kali ini ia beruntung toko yang dicari tidak tutup. Yang membuatnya terkejut, pengunjung toko kebanyakan berasal dari Asia Tenggara dan Oseania.

Namun, Jeremy tetap saja tidak dapat menemukan buku dicari. Merasa frustasi, ia keluar sejenak dari toko. Di luar toko buku, Jeremy melihat ada anak tangga. Ia bermaksud mencari tempat membaca. Kemudian, ia bertemu dengan petugas polisi.

Oleh polisi itu, Jeremy diarahkan ke sebuah ruangan baca. Memasuki ruangan itu, Jeremy melihat rak berisi buku usang. “Saya merasa putus asa dengan apa yang saya alami. Saya sulit menemukan buku dalam bahasa Inggris,” kenangnya.

Beruntung, ada salah seorang staf British Council yang menemukannya. Jeremy lalu meminta bantuan staf itu untuk membimbingnya menemukan buku yang ia cari. Selang beberapa saat, pria berjanggut datang menghampiri Jeremy. “Saya menyapanya, dengan mengatakan saya ingin membaca Al-Quran,” kata Jeremy, yang selanjutnya terlibat diskusi dengan pria tersebut.

Pria berjanggut itu membawa buku tebal dengan sampul mengilap. Pria itu lalu mengatakan pada Jeremy bahwa buku ini bukan terjemahan, melainkan penjelasan dari setiap ayat Al-Quran dalam bahasa Inggris.

“Saya kembali bingung. Saya mengulangi permintaan sebelumnya. Saya ingin terjemahan. Tapi ia ngotot bahwa itu adalah terjemahan,” kata Jeremy. Akhirnya, ia menerima buku itu, meski sedikit jengkel.

Jeremy merasa pria tersebut tidak peka dengan apa yang tengah dialaminya. Pria itu selalu saja bertanya kepadanya soal alasan di balik keinginan membaca Al-Quran.

Pria tersebut lantas meminta Jeremy agar tidak meletakkan Al-Quran di atas lantai atau kursi. Dilarang pula, menduduki atau menginjak Al-Quran. Larangan lain, jangan membaca Al-Quran di lokasi tidak suci, seperti kamar mandi.

Pria itu juga segera memberi syarat tambahan, yakni selepas membaca Al-Quran diharapkan agar ditaruh kembali di atas rak. Serta tidak membiarkan Al-Quran terbuka dalam kondisi terbalik. “Kenapa begitu?” tanya Jeremy.

Pria itu menjelaskan, Al-Quran berisi firman yang Mahakuasa, jadi seharusnya menghadap ke atas bukan ke bawah. Selepas dibaca, sebaiknya halaman terakhir jangan pula dilipat melainkan diberikan pembatas. Jeremy pun menerima syarat yang diajukan.

Setelah berkutat dengan pria itu, Jeremy mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan membacanya. Sayang, masa adaptasi segera berakhir. Disamping itu, di Arab Saudi, Kamis dan Jumat adalah hari libur.

Tapi itu tidak masalah buatnya. Sepekan berikutnya, ia kembali meminjam Al-Quran dan membacanya. Entah mengapa, Jeremy merasa membaca intisari Injil dan Taurat. Padahal bukan kedua kitab itu yang ia baca.

“Hal yang menarik dalam Al-Quran, tidak ada sebutan “Nabi Berkata” atau “Kata Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Jadi, saya merasa seperti membaca apa yang disampaikan Tuhan kepadaku,” ucapnya.

Segera saja Jeremy menangis. Hatinya merasa pilu, sakit dan takut. Ia melihat dirinya, keluarganya, dan teman-temannya mencerminkan sikap orang kafir, munafik dan musyrik. “Saya baca Surah Al-Baqarah (2), Ali-Imran (3), An-Nisa (4), Al-Ma’idah (5) dan Al-An’am (6), tiba di bagian akhir, saya melihat isinya padat dan ringkas,” tuturnya.

Tiba-tiba, pada satu surah, yakni Al-Ikhlas yang berbunyi, “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Jeremy sangat terkejut.

Namun, ia mempertanyakan apakah memang benar, umat Islam benar-benar percaya Tuhan itu Esa. Jika benar, berarti ia telah mengabaikan masalah ini. “Saya terus bertanya-tanya. Saya harus mengkonfirmasi masalah ini dengan temanku yang Muslim,” ujarnya.

Lalu, Jeremy pun berdialog dengan temannya yang bernama Ismail Rostron—mualaf kulit putih—dan Jamal, Muslim asal Pakistan.

Jeremy tak berhenti takjub dengan apa yang ia alami. Namun, dalam hatinya ia sudah mantap memeluk Islam.

Akan tetapi, ada tiga hal penting yang harus diselesaikan. “Istri saya tentu harus menerima agama ini, lalu ia setuju meninggalkan pekerjaannya dan tinggal bersama saya di Saudi,” kata Jeremy.

Dengan kata lain, Jeremy sebenarnya sudah mantap dengan apa yang ia simpulkan. Hanya saja, ia tidak mau meninggalkan masalah apa pun. Mulailah ia mengajak bicara istrinya. Ia berusaha menjelaskan semuanya tanpa berlebihan.

Anabela terkejut bukan kepalang ketika mengetahui apa yang telah diputuskan suaminya. “Sepertinya kau telah berpindah agama,” kata Anabela dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada Jeremy.

Dalam surat balasannya, Jeremy mengaku telah memutuskan untuk memeluk Islam. Anabela sempat kesal lantaran Jeremy tidak berkonsultasi dengannya. Namun, Jeremy meyakinkan sang istri bahwa dirinya belum menjadi Muslim.

“Tapi hati saya telah mejadi Muslim,” ungkap Jeremy. “Saya sempat merasa ragu dengan hal ini, tapi masalah itu sempat lenyap sementara saat Natal tiba.”

Berpaling sejenak dari persoalan dengan istrinya, Jeremy tergerak untuk melihat bagaimana seorang Muslim melaksanakan shalat. Saat itu, ia tengah berjalan-jalan di pusat kota. Spontan saja, ia membeli pakaian tradisional Timur Tengah. Ia kenakan baju itu, lalu ia mengikuti ummat Muslim yang berjalan mengikut asal suara adzan.

Sepanjang jalan, Jeremy sedikit gelisah. Ia berhenti sejenak. Rupanya, shalat sudah dimulai. Ia lihat seluruh orang mengangkat tangannya lalu melipatnya di atas dada mereka. Berada pada barisan belakang, Jeremy langsung saja memasuki shaf yang masih kosong. Ia tiru setiap gerakan shalat.

Selesai shalat, Jeremy dihampiri dua anak-anak. Mereka menyapa Jeremy, “Anda Muslim?”

Mendengar sapaan anak-anak itu, Jeremy gelisah. Tapi dengan tenang ia balas sapaan itu. Tanpa diduga, anak-anak itu memberitahunya bagaimana gerakan shalat yang benar. Mereka mengarahkan bagaimana seharusnya ia bersujud dan rukuk. “Anak-anak itu segera menarik tanganku, entah saya mau dibawa kemana,” kenang Jeremy.

Tak lama, ia sampai di sebuah rumah. Di dalamnya, terdapat remaja berusia 15-16 tahun. Ia lalu menyapa Jeremy. Lantaran tidak mengerti apa yang diucapkannya, Jeremy hanya mengangguk. Remaja itu beranjak dari tempat duduknya, lalu memasuki ruangan lain. Lima menit kemudian, ia sajikan secangkir kecil kopi Arab. Jeremy dan remaja itu lalu terlibat perbincangan.

Remaja itu hanya bisa membalas pertanyaan Jeremy dengan bahasa isyarat. Dari isyarat itu, Jeremy mengartikan bahwa ia harus menunggu. Tak lama berselang, datang seorang pria dewasa. Dia tampak terkejut ketika melihat saudaranya bersama Jeremy.

“Amerika?” tanya Pria itu.

“Tidak, Saya Inggris,” jawab Jeremy.

“Selamat datang,” sapa pria itu. Lalu pria itu mengucapkan “Tawadha!”, yang artinya ambil wudhu. Ia ingin Jeremy bersiap-siap menuju masjid guna melaksanakan shalat Isya. Seperti sebelumnya, Jeremy meniru setiap gerakannya.

Kian mantap Jeremy memeluk Islam. Ia datangi kantor Perkembangan Dakwah Islam. Kepada mereka, Jeremy mencari informasi resmi terkait perpindahan agama.

Beberapa langkah memasuki kantor itu, Jeremy begitu terkejut ketika begitu banyak warga Eropa. Duduk sejenak, ia disapa pria India bernama Syekh Farooq. “Ada yang biasa saya bantu?” tanya si syekh.

Mendengar suara Farooq yang lembut, Jeremy begitu lega. Sebab, ia merasa gelisah sedari awal sebelum memasuki gedung. Namun, ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Oleh Farooq, ia diminta mengikuti sejumlah pelatihan sebelum menjadi Muslim.

Saat itu, tak hanya Jeremy saja yang mendatangi kantor tersebut. Ada dua orang lain. Yang pertama berasal dari Filipina, namanya Daud. Ia seorang Kristen yang bekerja di apartemen tempat Jeremy tinggal. Yang kedua, John. Ia menjadi Muslim karena istrinya seorang Muslim. Keduanya merupakan teman dekat Jeremy.

Ketiganya akhirya dimasukkan dalam program yang sama. Mereka dibimbing oleh dua orang Muslim yang bernama Syekh Ehad atau Abu Abdurrahman dan Syekh Farooq. Keduanya menjelaskan Islam dengan rinci dan sederhana. “Mereka mengatakan Islam adalah agama monoteisme. Menjadi Muslim merupakan langkah besar dalam hidup kalian,” kata Jeremy menirukan dua pembimbingnya.

Dari setiap penjelasan yang diberikan, kata Jeremy, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni setiap Muslim di mata Allah itu sama, yang membedakan adalah kualitas iman dan takwa.

Selain itu, setiap Muslim mungkin saja masuk neraka apabila melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Pertanyaannya, manusia tidak pernah tahu kapan waktu kematiannya. “Saya langsung terdiam. Menurut pembimbing, karena itulah setiap Muslim harus berbuat baik,” kata Jeremy.

Tak lama kemudian terucaplah kalimat syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu ana Muhammad nabiyyan wa rasulullah.” Jeremy resmi menjadi Muslim. Selanjutnya, salah seorang pembimbing meminta Jeremy mengganti nama.

“Nama apa yang anda inginkan. Sekarang anda telah menjadi Muslim. Anda seperti bayi yang baru lahir,” kata Jeremy menirukan ucapan pembimbingnya. Jeremy sempat bingung. Sebab, ia tidak pernah berpikir mengganti namanya.

Sore hari, tepatnya pukul empat sore, ia bersama pembimbing lainnya, Yusuf, belajar cara berwudhu. Ia tunjukkan kepada Jeremy bagaimana berwudhu yang baik. Ia memastikan tidak ada kesalahan urutan dan gerakan. “Ketika anda shalat, anda harus bebas dari lapar atau haus atau keinginan buang air kecil,” pesan Yusuf kepada Jeremy.

Namun, Jeremy spontan saja membersihkan diri. Ia ingin melaksanakan shalat Mahgrib dengan kondisi tubuh bersih. Ia mengingat apa yang dilakukan seperti proses pembaptisan Yohanes.

“Sebenarnya jauh berbeda. Dalam Islam ada urutan yang harus dipenuhi. Pertama yang dilakukan membersihkan bagian pribadi. Lalu lakukan wudhu. Selanjutnya, basuh tubuh dengan air dimulai dari kanan, selanjutnya kepala,” tuturnya.

Selesai mandi dan berwudhu, pembimbingnya kembali memanggil. Ia memberitahu Jeremy untuk melaksanakan shalat yang pertama kali, sebenarnya yang kedua bagi Jeremy. Ia menghadap kiblat, lalu kedua tangan ke atas lalu melipatnya di dada. Lalu membungkukkan badan, sujud dan duduk di antara dua kaki. “Saya merasakan kualitas spiritual yang luar biasa. Alhamdulillah,” ucap Jeremy penuh syukur.


sumber :klik

00.13 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Labels